Fabana.id – Allah sebagai pemegang kendali atas kehidupan manusia sudah memberikan titik terang terhadap prinsip hidup manusia. Maka, diciptakanlah manusia saling berpasang-pasangan, ada laki-laki dan perempuan, ada malam dan siang, ada hulu dan hilir. Semuanya sudah jelas, laki-laki tercipta untuk perempuan, dan begitu juga sebaliknya. Allah juga telah menciptakan cinta sebagai landasan berpijak dan alat untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi, tapi cinta yang seperti apa yang seharusnya diwujudkan oleh manusia, adalah cinta yang tidak keluar dari batas kewajaran.

Perlu kita sadari bahwa tidak ada yang abu-abu dalam hidup ini, Allah sudah memberikan standarisasi keseimbangan hidup, hanya saja terkadang anomali atau penyimpangan kerap terjadi dengan berbagai alasan dan dorongan hawa nafsu. Benar dan salah, baik dan buruk, itu semua tidak dapat dicampur-adukkan seenaknya.

Fenomena LGBT sempat membuat geger negeri ini, sehubungan dengan adanya dukungan-dukungan dari beberapa pihak dengan dalih “Hak Asasi Manusia”. Orientasi seksual yang menyimpang ini sebenarnya sudah lama terjadi, dan mungkin sudah berabad abad silam. Namun saat ini, kampanye untuk menjadikannya sebagai prilaku yang normal dan pantas diterima semakin gencar dilakukan.

Dengan  mengibarkan bendera “Hak Asasi Manusia” beberapa negara yang sangat menjunjung tinggi kebebasan seksual seperti Amerika Serikat, Belanda, Denmark, dan Spanyol memerdekakan hak rakyatnya untuk menjalin cinta sesama jenis, meresmikan pernikahan mereka secara hukum, dan memberikan pengakuan terhadap status pernikahan mereka, yaitu pengakuan bahwa hubungan yang mereka jalani adalah normal dan tidak seharusnya diasingkan dari komunitas. Padahal di Amerika Serikat sendiri pada era 1950-an, prilaku  Homoseksual, dianggap sebagai penyimpangan seksual, dan menjadi perhatian agar segera disembuhkan, dengan menggunakan metode terapi, namun sekarang sudah ditinggalkan, dan berubah wujud menjadi bentuk apresiasi terhadap penyimpangan tersebut.

Berbicara mengenai Hak Asasi Manusia, HAM adalah pedoman bagi manusia agar  mendapatkan sesuatu yang seharusnya didapatkan, dan menjadikannya sebagai manusia seutuhnya. HAM menjaga  keharmonisan prilaku manusia terhadap manusia lainnya, untuk tetap berada pada lingkarannya sebagai ‘manusia’, terlepas dari status sosial yang dimiliki setiap individu. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang berpasangan, oleh karena itu hukum hidup yang harus diterapkan adalah hukum berpasangan, dan hak manusia adalah hidup berpasangan, yaitu laki-laki  dengan perempuan, tidak ada yang berhak memisahkan. Namun pada kasus LGBT, apakah ini Hak Asasi Manusia? Apakah ini tidak bertentangan dengan ketetapan hukum penciptaan manusia sebagai makhluk berpasangan? Justru bila kita membela dan mendukung LGBT kita termasuk orang yang melanggar Hak Asasi Manusia.

Terjadinya prilaku penyimpangan seksual mempunyai dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor Internal meliputi, gejolak seksual dalam dirinya yang tak terbendung (Libido) yang diperkuat dengan ego yang berkerja dengan prinsip kenyataan, yaitu dorongan melakukan apapun berdasarkan kesenangan dan kepuasan, tanpa didasari prinsip benar dan salah, demi mencapai kepentingan diri sendiri. Sementara Faktor Eksternal datang dari lingkungan sekitar, pergaulan dan intimidasi. Bila seseorang berada di lingkungan yang di dalamnya banyak terjadi penyimpangan  seksual, maka kecendrungan untuk terpengaruh dan terlibat dalam aktivitas tersebut sangat besar. Perlakuan kasar dan pelecehan seksual yang pernah dialami di masa lalu juga dapat mengubah mental dan kejiwaan seseorang untuk berbuat menyimpang, tekanan jiwa yang dirasakan mampu membuatnya ingin melakukan hal yang sama yang pernah dilakukan orang lain terhadap dirinya.

Kita harus menolak LGBT dengan memberikan dukungan moral terhadap pelakunya, bukan meninggalkan dan mengucilkannya, tapi mengembalikan haknya sebagai manusia yang utuh, menunjukkan cintanya pada arah yang benar, meskipun itu tidak mudah. Tapi tidak ada yang mustahil jika terus mencoba untuk berubah. Hal yang penting adalah keinginan dan tekad yang kuat untuk menjadi lebih baik. Karena asumsi bahwa LGBT tidak bisa sembuh adalah mitos belaka. Dukungan yang membiarkan LGBT terus berlangsung dapat mengibiri rasa bersalah para pelakunya, mereka akan merasa biasa-biasa saja, seolah-olah itu adalah hal yang wajar, jadi tidak ada yang perlu disesali.

Di dalam teori moral ada dua istilah yang berhubungan dengan perkembangan manusia, yaitu heteronom dan autonom. Pada level heteronom seseorang akan mengikuti sesuatu yang benar, dengan berpedoman pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh orang lain atau komunitas masyarakat tertentu. Sementara  pada level autonom, seseorang akan melakukan hal yang benar berdasarkan hati nuraninya atau dorongan positif dalam dirinya, dia sudah tahu akibatnya jika dia menyimpang dari kebenaran. Dua level inilah yang seharusnya ditumbuhkan untuk menyikapi penyimpangan seksual yang terangkum dalam istilah LGBT, jangan ada celah untuk membiarkannya tumbuh subur, dimulai dari internal (dalam diri sendiri) lalu eksternal (lingkungan, masyarakat dan pergaulan), sehingga terbentuklah kerangka kesadaran untuk berprilaku dengan benar dan menjauhkan diri dari prilaku yang tidak normal.

Sikap saling peduli adalah hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat, yang sebenarnya berperan aktif menghidupkan nilai-nilai Hak Asasi Manusia secara bijaksana. Bila ada salah satu yang keliru dan menyimpang, maka yang lainnya berusaha meluruskan dan membimbingnya, bukan malah meninggalkan dan merendahkannya, apalagi sampai melakukan persekusi. Karena perlakuan buruk yang diterima akan membuat kejiwaannya tertekan dan prilaku menyimpangnya semakin bertambah parah.

Jika kita bertekad untuk menegakkan Hak Asasi Manusia, Kita harus melawan eksistensinya dengan perlawanan yang ramah dan beretika. Karena bila terus dibiarkan kekeliruan ini akan tumbuh besar dan mengakar, sehingga hidup akan hilang keseimbangan. Mempertahankan sesuatu yang salah, sama saja dengan mengundang bencana dan malapetaka. Mari kita belajar dari apa yang telah terjadi pada umat terdahulu, bagaimana Allah membumihanguskan mereka (kaum Luth dan Sodom), karena ego dan hati mereka yang keras untuk menolak kebenaran.

 

Oleh: Taufik Uzumaky, Founder Planet English Course, Tabalong, Kalimantan Selatan