Kesadaran membaca dan menulis yang telah tumbuh bukan hasil yang didapatkan melalui kerja semalam, melainkan melalui banyak kombinasi kreativitas semua stakeholder. Seluruh stakeholder percaya bahwa ketika kemampuan dan kesadaran membaca siswa atau guru rendah maka tingkat kemampuan dan kesadaran menulisnya pun juga akan rendah.

FABANA.id. Pernah saya diskusi dengan salah seorang teman, kami berdiskusi mengenai berbagai hal terkait dengan urusan akademis. mengenai pengalaman di dunia akademis teman saya ini memang tidak diragukan lagi, sebab sepanjang yang saya kenal dirinya memang konsen sekali menggeluti dunia yang saat ini mengantarkanya pada level yang tertinggi.

Hal menarik yang selalu saya ingat mengenai sosok teman saya tersebut berkaitan dengan kegigihan serta semangat pantang menyerah, mungkin dia satu-satunya teman saya yang tergolong teman yang gila. tentunya makna gila disini bukan pada arti yang sebenarnya, melainkan lebih menekankan akan upaya kerasnya dalam memajukan lembaga pendidikan yang sudah dirintisnya bertahun-tahun lamanya.

Lembaga yang dirintisnya dari nol ini, bermula dari keprihatinan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengenyam pendidikan untuk anak-anak didaerahnya. Kondisi itu diperparah dengan adanya sebuah kebiasaan anak-anak menikah di usia yang masih muda. Rata-rata anak yang menikah di usia muda itu memang tidak memiliki jenjang pendidikan yang tinggi selain hanya menamatkan pada jenjang sekolah dasar. Sehingga tidak mengherankan jika di daerah tersebut tingkat perekonomian sangatlah tertinggal jauh jika dibanding dengan daerah lainya.

Asa itu muncul tatkala teman saya ini kembali ke daerah asalnya dan perlahan merintis lembaga pendidikan yang akan membawa angin perubahan bagi daerahnya. Dengan bermodal sebidang tanah warisan mendiang orang tuanya, dia mencoba untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan beberapa tokoh masyarakat sekitar.

Gayung pun bersambut, banyak pihak yang mendukung upaya membangun perubahan melalui lembaga pendidikan, masih terngiang jelas di benak saya bahwa awal-awal merintis lembaga pendidikan, teman saya ini meminta bantuan untuk diantarkan ke beberapa dermawan, dengan membawa bertumpuk proposal bantuan dengan gigih dan semangat coba dia tawarkan. Alhasil berkat kerja keras serta doa yang tiada henti, dapatlah beberapa dermawan yang bersedia menyumbangkan sedikit rejekinya untuk pembangunan lembaga pendidikan yang diimpikanya.

Sampai suatu ketika bertemu, setelah beberapa tahun tidak berjumpa, Lantas dia bercerita banyak hal tentang kemajuan dan perkembangan lembaga pendidikannya saat ini. Bahkan lembaga yang lama dikelola tersebut berkontribusi banyak bagi kemajuan di daerahnya, lambat laut masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan, kondisi perekonomian sudah dapat bersaing dan yang paling penting lembaga pendidikan itu hingga kini masih tetap dipercaya banyak orang.

Kemajuan lembaga pendidikan yang diraihnya saat ini bukan perkara mudah, dan bukan pula hanya hitungan hari. ada banyak rintangan yang selalu menerpanya, ada banyak hambatan yang selalu menerjangnya, namun justru dari rintangan dan hambatan tersebut membuat dirinya semakin kuat.

Konsistensi, menjadi prinsip abadi yang diusungnya sejak lembaga pendidikan didirikan, semangat konsisten yang dianutnya bukan tanpa alasan. Sebab menurutnya banyak lembaga pendidikan yang hanya mementingkan aspek komersial sehingga membuat lembaga tersebut layaknya kios yang sekedar menjual barang jadi.

Konsisten menjalankan proses, bahwa tidak ada anak yang terlahir bodoh, bahwa tidak ada anak yang tidak berbakat, semua itu dicoba untuk diprosesnya, hingga anak-anak yang bersekolah didalamnya menjadi manusia yang utuh dan semakin berkembang. Uniknya disaat banyak lembaga pendidikan yang melakukan seleksi masuk maha ketat, justru sejak berdiri lembaganya selalu menerima apapun latar pendidikan anak.

Tak ada sekat antara anak orang kaya dan miskin, tak ada sekat antara anak pintar atau bodoh. Heteroginitas ini benar-benar diciptakan sejak awal berdirinya lembaga tesebut, sehingga sampai saat ini lembaga tersebut dikenal dengan lembaga swasta yang berkualitas unggul.

Selain konsistensi, masih ada satu hal yang unik menurut saya yakni Literasi. Di mana setiap guru, hingga karyawan memiliki kewajiban untuk membangun budaya literasi. Tak heran budaya itu tumbuh subur di lembaga tersebut, cara mereka mengemasnya pun sangat kreatif. Para guru bahkan diwajibkan untuk paling tidak membaca 3 buku dan menulis  3 tulisan setiap bulannya. Berbeda dengan gurunya para siswa yang ada dilembaga tersebut pun juga diharuskan untuk membaca 1 buku setiap harinya dan menyetorkan bacaanya kepada guru khususnya masing-masing.

Perpustakaan di lembaga tersebut dibangun senyaman mungkin, bahkan kesan perpustakaan yang umum ada dibenak setiap orang tidak didapati pada konsep tata letak bangunan yang tersedia. Kesadaran membaca dan menulis yang telah tumbuh bukan hasil yang didapatkan melalui kerja semalam, melainkan melalui banyak kombinasi kreativitas semua stakeholder. Seluruh stakeholder percaya bahwa ketika kemampuan dan kesadaran membaca siswa atau guru rendah maka tingkat kemampuan dan kesadaran menulisnya pun juga akan rendah.

Sosok dibalik kemajuan lembaga pendidikan tersebut merupakan sosok pengabdi sebenarnya, akhir-akhir ini untuk menemukan sosok pengabdi yang benar mengabdi dengan tulus demi kemajuan banyak orang hampir sulit dicari. jangankan untuk benar mengabdi, yang ada malah banyak menggerogoti lembaga sehingga benar merugikan.

Keseriusan seseorang dalam mengabdi memang akan terlihat jelas saat peran yang dimainkanya sesuai dengan semangat kemajuan lembaga. Kemajuan yang diperoleh memang membutuhkan proses panjang, budaya literasi yang saat ini tumbuh merupakan komitmen semua pihak.

Pelajaran kecil ini dapat saya tuliskan melalui diskusi, saya coba menyadarkan diri akan pentingnya pembangunan kesadaran literasi, langkah kecil ini saya mulai melalui diri sendiri, karena saya percaya betul bahwa pendidikan nilai itu bukan diajarkan tetapi harus memberikan contoh. Nilai seseorang merupakan cerminan diri agar dirinya mampu menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari. Maka marilah menulis walau hanya satu kata.

 

Foto: Antara