Yang perlu dilakukan saat ini adalah tetap istiqomah pada keyakinan, bahwa perbuatan yang sedang dilakukan baik atau buruk dikembalikan semua penilaian terhadap orang yang ada disekeliling. Keyakinan bukan berarti cuek dan arogan sehingga malah menimbulkan kekacauan, tetap mendengar segala masukan, nasehat dan wejangan dari orang-orang sekitar.

FABANA.id Kita tidak pernah tahu kapan akan berhenti melakukan perbuatan yang dapat merugikan banyak orang. Perbuatan seseorang sesungguhnya timbul berdasarkan reaksi terhadap sesuatu yang terjadi. Reaksi yang dimunculkan oleh setiap orang tentunya berbeda antara satu sama lain, adakalanya reaksi yang ditunjukkan dapat merugikan atau bahkan juga dapat bermanfaat.

Seringkali seseorang berbuat melakukan sesuatu, berdasarkan imbalan yang akan diterimanya, imbalan tersebut menjadi penyemangat dirinya agar berbuat menjadi lebih baik. Melakukan kebaikan dimanapun tempat dan waktunya akan menjadikan diri seseorang menjadi lebih bermanfaat bagi sekelilingnya.

Namun yang terjadi saat ini berbeda, dimana situasi ekonomi, politik dan sosial sedang berada dititik paling rawan konflik. Maka apapun yang dilakukan tetap saja akan dipandang berbeda oleh banyak orang walau perbuatan yang dilakukan tersebut baik dan tidak merugikan orang lain. Sudut pandang dalam melihat sebuah fenomena akan berbeda serta tidak sama, sehingga interpretasi yang dibangun pun juga akan memiliki makna yang berbeda pula.

Fenomena saling hujat, saling menjatuhkan seolah menjadi makanan dan tontonan setiap hari. Semuanya menginginkan keberadaan ide dan argumentasinya harus lebih unggul dari lainya. Bahkan tak jarang pula berakhir ricuh, tidak legowo hingga ancaman dan teror. Apapun cara dilakukan, berapapun rupiah pun akan dikeluarkan, untuk menunjang kepentingan-kepentingan diri atau golongan-nya.

Perbedaan pandangan ini sebenarnya manusiawi sekali, bahkan perbedaan pandangan ini juga harusnya mendapatkan tempat sepadan layaknya perbedaan-perbedaan lainya. kebhinekaan bangsa harus senantiasa dijaga dan dilestarikan agar pondasi-pondasi kebangsaan yang dibangun oleh para pendiri bangsa tidak tergadaikan.

Cukup sudah berkoar dan menyebarkan ujaran-ujaran kebencian, setinggi apapun jabatan pasti akan hilang, sekaya apapun pasti mati juga. Berdamailah bersama perbedaan, karena persamaan antar satu dengan lainya hanya bersifat sementara. Suatu ketika nanti, saat perbedaan dan persamaan bertatap muka, akan diketahui maksut sesungguhnya dari fenomena yang terjadi.

Yang perlu dilakukan saat ini adalah tetap istiqomah pada keyakinan, bahwa perbuatan yang sedang dilakukan baik atau buruk dikembalikan semua penilaian terhadap orang yang ada disekeliling. Keyakinan bukan berarti cuek dan arogan sehingga malah menimbulkan kekacauan, tetap mendengar segala masukan, nasehat dan wejangan dari orang-orang sekitar.

Tetap juga menghargai perbedaan pendapat, menghargai dan menghormati tradisi-tradisi yang dimiliki oleh orang yang berlainan golongan. Ibarat beberapa ekor semut yang berkerumun saat mendapati makanan manis disekitarnya. Semut-semut tersebut tetap berbaris rapi saling tolong menolong antara satu sama lain untuk dapat menikmati bersama makanan yang sedang mereka temukan. Mereka tidak ingin makanan yang sedang ditemukan itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian semut saja, mereka mencoba untuk senantiasa berbagi kebaikan kepada siapapun.

Permisalan semut ini hanyalah penyederhanaan perbuatan manusia yang umumnya banyak dilakukan. Manusia memang memiliki segudang cara yang dapat mereka gunakan berdasarkan akal yang mereka miliki. Sungguh menjadi hina tatkala perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata untuk kepentingan dirinya pribadi tanpa memikirkan kondisi dan keadaan sekelilingnya. Kesadaran serta kepedulian terhadap sesama harus sering disuarakan kepada semua agar hidup menjadi lebih bermakna.

Foto Ilustrasi: Tanduran Photo Art by Dwi K