FABANA.id –  Di suatu senja pada tepian hutan yang rindang, seekor burung puyuh terus mengeluh. Meratapi nasibnya yang seakan diciptakan tak sempurna. Tak bisa terbang, berenang atau melompat tinggi ke angkasa.

Ia begitu iri melihat burung-burung riuh rendah terbang dari dahan ke dahan. Ia juga melihat begitu gembira unggas-unggas berenang di tepian sungai yang tenang. Ia merasa begitu berduka, sayapnya yang kecil seakan lambang kelemahan dan tak membantunya menaikan tubuhnya untuk terbang layaknya burung lainnya, bahkan yang badannya jauh lebih kecil dibanding dirinya.

Dalam pandangan ketika menjadi  seekor burung puyuh, rasanya enak sekali jadi itik, bisa berenang bebas. Bisa mencari makan sambil bermain di atas air. Pun saat melihat burung-burung terbang  mengangkasa, seakan demikian menyenangkan, melihat bumi dari ketinggian.

Di suatu hari yang berbeda, ketika bencana asap dan api seakan mengepung seisi hutan. Semua binatang berlari, terbang dan bergegas berenang. Dan diantara mereka yang berlarian di sela-sela lebatnya hutan, ternyata burung puyuh jauh berada di depan. Ia baru sadar bahwa potensinya memang bukan ada di sayapnya atau pada kemampuannya berada di atas air. Ia sejatinya hewan dengan kelebihan utama sebagai pelari cepat tak terkalahkan.

Di moment inilah burung puyuh sadar, bahwa keluhannya akan kekurangan dirinya sesungguhnya tak beralasan. Pun terlalu fokus pada kekurangan, justru menenggelamkan potensi diri yang Allah telah lebihkan satu dengan lainnya dibalik pencoptaannya. Setiap makhluk, selain unik dan berbeda satu sama lain, ternyata memiliki kelebihan masing-masing yang tak sama.

Fokuslah pada potensi diri

Sahabat Amil sekalian…

Dalam kehidupan kita sebagai amil zakat, kita barangkali secara tak sengaja berperilaku layaknya burung puyuh, kesana kemari mengeluh. Kita merasa penuh kekurangan dan tak melihat potensi apapun yang  dimiliki untuk dikembangkan bagi masa depan.

Di benak kita, seakan semua lembaga lain penuh kehebatan dan demikian besar tak terkalahkan. Mereka seolah teramat sempurna dan tak satupun dihinggapi kekuarangan dan kelemahan. Semua celah seolah tertutupi kebaikan demi kebaikan dan tak didapati cacat dan kekurangan.

Benarkah pandangan tadi, sebuah pandangan yang seolah menutup jalan terbukanya inovasi dan kreatifitas diantara kehidupan organisasi yang ada. Seakan lembaga-lembaga pengelola zakat yang lahir duluan saja yang boleh memonopoli jalannya kebaikan-kebaikan bagi umat dan bangsa, dan bagi dipenuhinya solusi atas persoalan kehidupan.

Bukalah mata, perhatikan sekitar. Cerdaslah melihat jalan di hadapan, mengukur diri menemukan potensi internal organisasi. Karena sejatinya jalan kebaikan demikian luas terbentang, menanti sentuhan dan ide-ide pembaharuan untuk kelak dibuktikan pada dunia kehidupan yang nyata adanya.

Ide-ide baru terus bisa lahir dan bermunculan ke permukaan. Gagasan-gagasan penuh kecerdasan bisa terus lahir dan tak berhenti di permukaan. Ia bisa terus menembus batas waktu seiring tumbuhnya keinginan kuat untuk terus berkontribusi pada lansekap kebaikan, kapan dan dimanapun.

Harus diakui oleh kita semua, kini situasi gerakan zakat tak lagi sama seperti lima enam tahun sebelumnya. Di tengah tak mudahnya mengurus legalitas untuk mendirikan lembaga zakat, ternyata jumlah organisasi pengelola zakat tak semakin sedikit. Dari waktu ke waktu jumlahnya terus bertambah. Saat yang sama organisasi-organisasi yang ada sebelumnya terus berjuang menjaga eksistensi dan bahkan mengembangkannya untuk bisa lebih baik lagi.

Dalam sejumlah catatan yang ada, sampai dengan saat ini, untuk jumlah Baznas saja, tercatat ada 1 Baznas tingkat nasional, 34 tingkat propinsi dan 343 tingkat kabupaten/kota. Sedangkan untuk LAZ yang telah mendapat ijin dari Kementrian Agama RI, tercatat ada 17 tingkat nasional, 7 LAZ tingkat Provinsi dan 11 LAZ tingkat kabupaten/kota. Hitungan ini belum memasukan Baznas tingkat kecamatan dan kelurahan serta ratusan LAZ yang sampai dengan hari ini sedang berproses menyelesaikan legalitas mereka di berbagai tingkatan, baik tingkat nasional, provinsi maupum kabupaten/kota.

Dari jumlah Organisasi Pengelola Zakat yang ada tadi, apakah semua ide program penghimpunan maupun pendayagunaan telah tertampung semua dan terwakili? Tentu saja jawabannya masih belum semua. Masih demikian terbuka lebar ide-ide dan gagasan perbaikan maupun ide baru di gerakan zakat Indonesia.

Selalu ada peluang masuknya hal baru ditengah gegap gempita isu-isu dunia zakat yang tak henti terus muncul dan berkembang. Di tengah kepungan OPZ-OPZ besar yang lebih dahulu mapan dan bertengger di papan atas klasemen gerakan zakat, masih ada peluang ide baru masuk dan bisa diterima luas oleh mustahik, muzaki maupun publik.

Salah satu lembaga yang “menembus batas” mencoba keluar dari kerumunan ini adalah LAZ Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) dengan gagasan dan eksekusinya berupa Zakat Game IZI. IZI termasuk OPZ yang lahir di jaman Now. Lahir di 10 November 2014, ditengah-tengah masa terminasi UU Pengelolaan Zakat No. 23 Tahun 2011, sebuah UU pengelolaan zakat yang merupakan amandemen atas UU pengelolaan zakat sebelumnya, yakni UU Pengelolaan Zakat No.38 Tahun 1999 yang merupakan produk UU zakat pertama yang lahir di momentum reformasi Indonesia.

Kembali ke Zakat Game IZI, harus diakui, ini adalah pembacaan yang cerdas atas tuntutan zaman yang semakin menuntut kemudahan dan kepraktisan dalam belajar. Masyarakat saat ini adalah masyarakat yang serba inovatif, dan mau tidak mau OPZ pun dituntut untuk terus berpikir cara-cara efektif untuk mengedukasi masyarakat, apalagi soal zakat dan ekonomi syariah yang tak mudah.

Melalui permainan Zakat Game IZI secara tidak langsung telah mengedukasi masyarakat tentang ilmu zakat melalui hadirnya permainan edukatif Zakat Game. Masyarakat jaman Now saat ini sudah tidak lagi tertarik dengan cara-cara yang konvensional. Dan ketika Zakat Game IZI ini dimainkan, tanpa disadari, sesungguhnya kita sedang belajar tentang Zakat.

Dalam permainan Zakat Game IZI hadir beberapa konten yang mengajak pemain untuk peduli terhadap sesama yang terkena musibah. seperti misalnya ketika rumah seorang pemain di Game Zakat ini kebakaran maka teman-teman sekitarnya yang menjadi lawan main diharuskan menyumbang dana bela sungkawa atas musibah yang menimpa pemain yang rumahnya terkena musibah tadi.

Kedepannya, tentu saja pola permainan dengan Game Zakat IZI ini bisa terus memicu ide-ide baru lahir ditengah gerakan zakat Indonesia. Sudah saatnya OPZ berani melahirkan gagasan-gagasan baru demi disebarluaskannya spirit edukasinya zakat ke berbagai lembaga dan elemen masyarakat.

Sebagai sebuah produk inovasi yang masih terus terbuka untuk diperbaiki dan dikembangkan, bukan tidak mungkin akan merangsang lahirnya bentuk-bentuk sosialisasi dan edukasi zakat untuk masyarakat.

Sudah saatnya OPZ tak jadi burung puyuh yang hanya pandai mengeluh dan hanya melihat kelebihan OPZ lainnya. Mari, mulailah mencipta ide dan gagasan baru bagi terciptanya gerakan zakat Indonesia yang paling sesuai dengan zaman dan terus berusaha mengerti dan memahami situasi dan kebutuhan masyarakat terkini.

Sudah saatnya OPZ bangkit, tak hanya menunggu berubahnya nasib tanpa berbuat apapun untuk melakukan inovasi dan perubahan. Bagi OPZ yang sudah lama bekerja di gerakan zakat Indonesia, teruslah tumbuh dan menjaga eksistensi lembaganya agar terua berkembang dan tak runtuh di telan perubahan zaman. Dan bagi OPZ baru yang belum lama memasuki babak baru gerakan zakat Indonesia, yakinkah bahwa masa depan adalah milik semua pihak yang memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Tak ada yang tidak mungkin dalam sebuah ikhtiar demi mewujudkan kemuliaan peradaban zakat di bumi pertiwi ini.

Semoga.

Ditulis mulai dari ruang tunggu bandara halim hingga dalam pesawat Batik Air ID 7539, Jakarta-Jogja, Jum’at, 9 Februari 2018.

 

Foto: (c) Syahputra