Kisruh gula yang terjadi belakangan disebabkan ketidakadilan yang terjadi dan menimpa petani.

“Konflik sosial ekonomi dan kultural petani di Indonesia biasanya muncul karena adanya konflik kepentingan antara tuan tanah dengan kepentingan petani” (Kuntowijoyo, dalam Radikalisasi Petani, 2002)

Membaca berita akhir-akhir ini tentang nasib petani tebu di Cirebon, Jawa Barat yang terpuruk akibat gulanya tak laku dibeli pabrik dan hanya menumpuk di gudang, terus terang mengusik nurani terdalam saya. Bukan soal saya berasal dari Cirebon, bukan pula saya asalnya memang anak petani dan orang tua pernah pula sawahnya disewa untuk menanam tebu. Bukan karena semua tadi, saya justru terusik, kalau benar semua cerita ini disebabkan karena beredarnya gula rafinasi, betapa ada ketidakadilan yang nyata terjadi.

Sebagaimana kita tahu, sejumlah media beberapa hari terakhir memberitakan bahwa sejumlah petani tebu di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengaku kesulitan mencari modal menanam kembali lahannya. Alasan mereka katanya akibat gula mereka tidak laku dijual. Kata Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Barat, saat ini ada 10 ribu ton gula yang menumpuk di gudang. Info ini berlanjut, bahwa kini pedagang dan perusahaan gula tidak mau membeli gula dari petani. Kondisi ini terjadi manakala ditengarai peredaran gula rafinasi cukup banyak jumlahnya dan mulai menggeser posisi gula kristal hasil petani.

Kantor Berita Antara, dalam salah satu liputannya menjelaskan, berdasar info dari Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Barat, Agus Safari di Cirebon, Sabtu (12/8), ia mengatakan nasib petani kini semakin terpuruk. Katanya “Kami saat ini tidak mempunyai modal untuk menanam kembali, karena gula kami tak laku di pasaran”.

Agus juga menambahkan bahwa para petani sekarang ini dalam masa sulit. Apalagi pada tahun 2016 petani merugi akibat anomali cuaca yang ekstrem. Kini, di tahun 2017, kondisi yang ada semakin parah dengan gula hasil produksi yang malah tidak laku. Ujungnya, modal yang dibutuhkan petani pun tidak kunjung tercukupi.

Masih menurut Agus, untuk sekali tanam, petani membutuhkan modal yang cukup besar. Dalam kalkulasi APTRI, per hektare lahan butuh modal mencapai Rp. 25 juta itu untuk tanam pertama. Kemudian, jika hanya menunggu tunasnya kembali tumbuh petani membutuhkan Rp. 17 juta. Modal tersebut juga belum termasuk sewa lahan, kalau yang tidak mempunyai lahan.

Atas situasi ini sejumlah pengurus DPC dan DPD  APTRI akhirnya melakukan sidak untuk memastikan kondisi yang ada di pasaran. Dan kata mereka : “Ternyata kami temukan gula rafinasi beredar di pasaran dan ada juga yang numpuk di gudang, ini tentunya menyalahi aturan, karena gula rafinasi diperuntukan hanya untuk industri,” kata mereka.

Nasib Petani Dahulu dan Kini

Nasib petani yang jumlahnya mayoritas di negeri ini dari jaman ke jaman seolah tak pernah membaik. Ketika portugis dan spanyol datang ke negeri ini mereka tak jauh-jauh dari urusan pertanian, cengkeh dan pala. Kemudian akhirnya menjajah dan menunjukan kekuasaannya yang dipenuhi keserakahan untuk menjajah negeri ini dan mengambil sumberdaya yang ada. Yang bahkan ketika itu rempah-rempah nusantara disebut “emas hangat dari timur”.

Pabrik Gula Purworedjo, Jawa Tengah, tahun 1910.

Pabrik Gula Purworejo, Jawa Tengah,  1910.
Foto: Koleksi Tropenmuseum, Belanda.

Setelah era Portugis dan Spanyol, datanglah Belanda dan kemudian Jepang. Kedua negara ini sama-sama bernafsu menjadikan Indonesia yang kaya raya dan eksotis negerinya ini menjadi bagian negaranya. Berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat diberlakukan, dan yang paling membuat bangsa ini semakin terpuruk adalah disedotnya sumberdaya alam secara besar-besaran untuk memenuhi ambisi penjajahan mereka. Dan tentu saja, yang paling dirugikan adalah kehidupan para petani. Mereka diperas habis-habisan dan dianiaya bila dianggap bekerja lambat, apalagi terkesan menentang kebijakan para penjajah ketika itu.

Di masa akhir Jepang berkuasa situasinya paling parah. Selain adanya kerja paksa model “Romusha”, Jepang juga setiap harinya dengan alasan menghadapi perang, meminta adanya penyerahan semua hasil bumi yang diproduksi atau dipanen petani. Luar biasa bukan perjuangan petani, mereka karena tak pernah mampu melawan penajajah hanya bisa pasrah dan mengikuti semua paksaan yang ada. Mereka juga dipaksa wajib kerja tanpa istirahat di tanah mereka sendiri dengan hasil yang bisa jadi tak pernah dinikmati. Hasil panen selalu dirampas dan tak jarang tiada sedikitpun disisakan untuk sekedar makan dan bertahan hidup bagi petani dan keluarganya.

Bersambung…

Oleh: Nana Sudiana, Direktur Pemberdayaan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)

Foto: Merdeka