Lokasi masjid bersejarah di Pekojan

Lokasi masjid bersejarah di Pekojan

Pada tulisan sebelumnya, kita mengunjungi Masjid An Nawier. Di Pekojan, selain An Nawier ada lagi beberapa masjid yang tak kalah menarik dikunjungi

Langgar Tinggi

Langgar Tinggi

Langgar Tinggi
500 meter ke arah timur Masjid An Nawier, berdekatan dengan Kantor Polisi Pekojan dan bersisian dengan Kali Angke, kita menemui Langgar Tinggi. Sesuai dengan namanya, langgar ini setinggi dua lantai. Hanya saja, akibat peninggian jalan, bagian bawah langgar sekarang berada lebih rendah dari jalan.

Lantai atas untuk shalat sedangkan bagian bawah jadi tempat tinggal dan deretan toko minyak wangi dan peralatan shalat. Dulu, para pedagang yang menyisir kali dengan rakit kerap mampir di sini untuk shalat, istirahat maupun menginap.

Dibangun tahun 1833 M / 1249 H dengan memadukan citarasa arsitektur Eropa dan lokal. Menurut cerita penduduk setempat seperti dikutip oleh Windoro Adi, dulu langgar ini amat ramai terutama saat perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan peringatan Isra Mi’raj. Semua kalangan ikut meramaikan, termasuk penduduk non-muslim.

Bagian dalam Masjid Al Anshor (foto: sayangi.com)

Bagian dalam Masjid Al Anshor (foto: sayangi.com)

Masjid Al Anshor

Adalah masjid tertua di Jakarta yang masih tersisa menurut Adolf Hueken, karena dibangun tahun 1648. Sebenarnya masjid tertua di Batavia ada kawasan Kota Tua di Jalan Kali Besar Barat, dekat Hotel Omni Batavia sekarang. Namun masjid tersebut sudah musnah saat J.P. Coen menyerang kota Jayakarta tahun 1619.

Untuk menuju masjid ini, kita berjalan ke arah utara di bawah jembatan fly-over Pasar Pagi. Saat bertemu Jalan Pejagalan, kita sedikit belok ke arah kiri lalu masuk di Jalan Pengukiran 2. Jalan ini cukup sempit, hanya bisa dimasuki oleh sepeda motor.

Pot

Potret Masjid Al Anshor tahun 1910 (foto: BPAD Jakarta)

Tidak jauh dari mulut jalan, terdapat papan kayu menunjukkan lokasi masjid ini di sebuah gang kecil.
Terjepit di antara rumah-rumah yang berjejer rapat, masjid ini nyaris tersembunyi. Banjir yang meluap dari Kali Krukut hampir setiap tahun, membuat penduduk setempat berswadaya untuk meninggikan masjid. Karena termakan usia, banyak bagian masjid yang lapuk. Masyarakat berinisiatif sendiri untuk mengganti bagian-bagian masjid yang rapuh tersebut.

Mereka sadar, jika renovasi ini dapat merubah bentuk sebuah cagar budaya. Namun jika hanya menunggu respon lambat pemerintah, masjid ini terancam roboh.

Di bagian teras belakang, memunggungi mihrab, terdapat palang kayu bertulisan bahwa masjid ini dibangun di atas tanah wakaf warga muslim India.

Masjid Jami' Kampung Baru (foto: Panoramio)

Masjid Jami’ Kampung Baru (foto: Panoramio)

Masjid Jami’ Kampung Baru
Nuansa Jawa sangat kental di sini terasa lewat atap tumpang berbentuk limas. Masjid dibangun tahun 1748 oleh orang-orang India atau Moor (Moorsche dalam bahasa Belanda merujuk pada penduduk Asia Selatan). Papan nama masjid bertuliskan aksara Arab Melayu (Arab Jawi).

Posisi masjid sekarang berada di tepi Jalan Bandengan, dekat halte Busway Bandengan Pekojan. Pekarangannya yang sempit hanya muat untuk kendaraan roda dua. Menurut catatan Pemerintah DKI, Masjid ini ada di bawah Yayasan Masjid Jami’ Kampung Baru Inpak. Kalimat “Inpak” merupakan kepanjangan dari “India-Pakistan”. Keturunan orang-orang India pelopor masjid ini sudah tidak ada di Pekojan. Justru masjid ini dikelilingi oleh toko, penginapan, dan pemukiman Tionghoa.

Bagaimana cara ke Pekojan?

Pekojan kurang lebih berada 1 km sebelah barat Kota Tua. Kita dapat berjalan pagi lewat Pasar Pagi Asemka atau menyewa sepeda di Kota Tua.

Kita juga bisa nail angkutan umum yaitu:

  1. Mikrolet M 10 (biru muda) jurusan Tanah Abang – Jembatan Lima. Dilanjutkan kalan kaki ke Pekojan.
  2. Angkot KWK B 02 (merah) jurusan Cengkareng – Kota.
  3. Kereta KRL, turun di stasiun Angke.
  4. Busway koridor 12, Tanjung Priok – Pluit. Turun di halte Bandengan Pekojan.

 

Oleh: M. Yulian Ma’mun*

Penulis adalah kontributor Fabana.id yang mencintai olah raga sepak bola dan penikmat sejarah.