Fabana.id. Kalau boleh melakukan wawancara lewat mimpi, saya ingin sekali melakukannya kepada Prof. Arysio Santos asal Brasil. Ia mengarang buku yang berjudul: Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Buku yang berisi hasil sebuah penelitian dan hasilnya mencengangkan, bahwa benua Atlantis yang dicari-cari oleh para ilmuwan dan peneliti tidak lain adalah Indonesia saat ini. Karena kita berbicara tentang nama negara, tentu saja yang disebut Indonesia adalah negara yang lahir tahun 1945.

Padahal, bisa jadi yang dimaksud Pak Santos adalah wilayah yang saat ini mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Anehnya, hasil penelitian Pak Santos bertahun-tahun tersebut menunjuk kepada wilayah Indonesia dan sekitarnya, tapi ia belum pernah sama sekali ke Indonesia! Sungguh aneh. Mengapa ia begitu yakin padahal belum pernah menginjakkan kaki langsung di Indonesia.

Atlantis IndonesiaKalau membaca kelahiran buku tersebut, justru yang menerbitkannya adalah anak Pak Santos sendiri karena ia keburu meninggal dunia dan tidak sempat menerbitkannya, padahal penelitian tersebut sudah selesai. Metode yang ia gunakan adalah meneliti seluruh mitos yang berkembang di peradaban kuno dan semuanya menunjukkan pola cerita yang sama. Bahwa penduduk dunia ini berasal dari satu tempat, kemudian terjadi letusan raksasa sebuah gunung berapi, dan terjadi migrasi besar-besaran ke seluruh pelosok bumi. Daratan yang awalnya tertutup es lambat laun dapat dibuka untuk ditinggali. Pengaruhnya jelas, letusan raksasa gunung berapi tersebut ikut memanaskan suhu global sehingga mencairkan es di daratan. Akibatnya, air laut naik dan menenggelamkan wilayah yang cukup luas sehingga menjadi pulau-pulau yang terpisah.

Gunung raksasa tersebut saat ini tidak bisa dilihat karena sudah memuntahkan seluruh isi perutnya. Bahkan saking besarnya letusan, dirinya sendiri ikut musnah dan malah menjadi danau. Danau apa yang dirujuk oleh Pak Santos? Tidak lain adalah Danau Toba. Danau itu asalnya adalah sebuah gunung yang meletus lantas menjadi cekung dan terisi air. Saya sendiri belum pernah ke Danau Toba. Tapi rasanya jika melihat ukuran dan cakupan luasnya, cukup untuk membayangkan betapa besar Gunung Toba.

Bahkan Pak Santos menemukan dalam cerita-cerita kuno tersebut, abu hasil letusan Gunung Toba menutupi bumi selama beberapa hari. Batu-batu merah menyala mengapung di atas lautan, sehingga membuat penduduk Atlantis mengurungkan niatnya untuk kembali ke Atlantis.

Para ilmuwan tertarik dengan pencarian benua Atlantis diawali oleh cerita Plato mengenai benua tersebut. Sejak itulah prediksi di mana benua Atlantis berada muncul dan hasilnya beragam. Ada yang mengatakan di laut Mediterania, ada yang berpendapat di Samudera Atlantik. Yang jelas, kemunculan Pak Santos ini turut memberikan sumbangsih dalam ranah pencarian benua Atlantis.

Kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu bukan melenakan, tetapi akan memunculkan pemaknaan baru terhadap jati diri bangsa. Bagaimana ingin membangun masa depan, jika tidak berpijak pada masa lalu?

Lantas, mengapa Atlantis ini menarik? Mengapa para ilmuwan getol untuk mempelajari, mencari, dan memprediksikan tempatnya? Apa kira-kira yang dapat diambil dari Atlantis? Harta karun? Teknologi canggih masa lalu? Atau sekedar penulisan sejarah umat manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini yang ingin saya ajukan kepada Pak Santos.

Bukan apa-apa. Jika memang Atlantis, benua yang hilang itu ternyata lokasinya adalah wilayah Indonesia saat ini, maka ada pergeseran paradigma penulisan sejarah bangsa. Selama ini sering kali ditemui banyak distorsi dalam penulisan sejarah bangsa yang akhirnya tak bisa memberikan peran signifikan dalam jati diri bangsa. Siapa tahu dengan penulisan sejarah dengan mengaitkan kepada Atlantis, bangsa Indonesia punya kebanggaan kolektif. Hingga akhirnya hal tersebut dapat membangkitkan harkat dan martabat bangsa. Bangsa Indonesia bisa percaya diri di hadapan bangsa lain, bukan hanya membebek dan merasa inferior.

Kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu bukan melenakan, tetapi akan memunculkan pemaknaan baru terhadap jati diri bangsa. Bagaimana ingin membangun masa depan, jika tidak berpijak pada masa lalu? Sedangkan bangsa Indonesia kerap kali mendambakan masa depan, tanpa pernah serius mencari asal-usulnya. Apalagi sibuk berlari tanpa pernah tekun mempelajari masa lalunya. Sehingga yang muncul di saat sekarang adalah bangsa yang berhenti di persimpangan, bingung hendak melangkahkan kakinya ke mana.

Yang saya takutkan justru generasi masa depan, anak cucu kita, akan lebih bingung lagi menuntaskan cita-citanya karena kita sebagai orang tua tidak pernah tegas terhadap masa lalu. Mereka mewarisi sejumlah kebingungan-kebingungan, tidak paham sangkan paran sebagai manusia, dan akhirnya membangun peradaban tissue: sekali pakai buang. Kalau Pak Santos saja berani seyakin itu, mengapa kita tidak?

Foto: Antonio Roberto dos Santos