Fabana.id – Minggu siang itu adalah pertemuan terakhir kelas persiapan International English Language Testing System (IELTS Preparation) Beasiswa Jurnalis yang diadakan oleh Euro Management. Lembaga konsultasi pendidikan luar negeri tersebut mengadakan program beasiswa bahasa asing bagi para jurnalis. Saya mewakili Fabana.id mengikuti program yang sudah memasuki berjalan sebanyak 4 angkatan. Setiap angkatannya berlangsung sekitar 3 bulan atau 15 pertemuan.

Indonesia 2030 dan Kunci Dunia

Tujuan program beasiswa ini adalah sebuah cita-cita jangka panjang yaitu mencetak sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas yang akan ‘dipanen’ tahun 2030. Penguasaan bahasa asing adalah salah satu kunci untuk bersaing di tengah kepungan dan persaingan di masa depan. Setiap kelas teridiri dari 20-30 jurnalis yang dibagi sesuai minat bahasa masing-masing. Fabana berkesempatan mengikuti kelas persiapan IELTS tersebut.

Program beasiswa ini diinisiasi oleh Bimo Sasongko, founder dan CEO Euro Management. Sejak pertama kali berlangsung hingga sekarang, program ini mendapat dukungan banyak pihak baik pemerintah maupun swasta. Indonesia 2030 juga membuka kesempatan bagi para pemuda negeri ini untuk bergabung baik sebagai relawan (volunteer) biasa maupun relawan pengajar.

Kelas kami hanya salah satu dari sekian kelas yang diadakan Euro Management untuk para jurnalis. Ada kelas lain dengan modul yang berbeda seperti kelas conversation (percakapan bahasa Inggris), bahasa Prancis, Jerman, Belanda, Rusia, Korea dan Jepang.

Terima kasih Euro Management!

Wali Kelas Istimewa

Momen terseru adalah saat kami memberikan hadiah kenang-kenangan kepada Patricia Budiman, guru bahasa Inggris yang jadi ‘wali kelas’ kami. Miss Patty–demikian kami memanggil Patricia–adalah salah satu relawan gerakan Indonesia 2030 yang tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi di Jepang. Patty harus kembali ke negeri sakura untuk kelanjutan studinya. Karena kemungkinan tidak bertemu lagi maka kami pun berinisiatif memberikan kenang-kenangan sederhana.

Rupanya yang penasaran terhadap isi hadiahnya bukan Patty tapi justru kami urunan untuk membeli hadiah. Maklum dengan dalih demi menambah nuansa kejutan dramatis, koordinasi pembelian souvenir tersebut dilakukan mengendap-ngendap antara sesama murid. HaJadi justru kami yang ingin tahu seperti apa bentuk hadiah yang diberikan kepada guru kami.

Semua anggota kelas kami kompak terkesan dengan Miss Patty. Memang harus diakui bahasa Inggrisnya lebih fasih dari kami sekelas, meski beberapa anggota kelas kami juga ada yang bahasa Inggrisnya tidak kalah bagus. Satu faktor yang membedakan adalah semangat Patty mengajar. Tampak sekali ia all-out mengerahkan semua pengetahuan yang dimilikinya. Sangat sering ia memindai (scan) halaman buku contoh soal IELTS untuk dibagikan di grup percakapan Whatsapp dan dijadikan PR lalu dibahas bersama-sama.Meski saat ditanya ia merendah bahwa yang melakukan scan adalah abang-abang penjaga kios fotokopi.PR kami juga dikoreksi dengan serius dan diberi nilai.

Selama kurang lebih tiga bulan masa kursus, grup WA kami sering ramai sampai tengah malam. Ada saja yang kami tanyakan kepada Patty. Dengan sabar ia meladeni bahkan ia meminta kami merekam latihan percakapan kami selama dua menit untuk diberi komentar dan perbaikan.

Meski usianya masih belia, awal 20an di bawah rata-rata usia kami yang sebagian sudah berkarier dan berkeluarga, kami menganggapnya sebagai wali kelas.

Arigatou Patty, sampai ketemu lagi di Jepang sana.

Jiwa Guru adalah Segalanya

Semangat guru dalam mengajar adalah hal terpenting dalam pembelajaran. Semangat yang muncul dari jiwa akan menular, seperti halnya seorang guru yang beraut sedih dan loyo tanpa semangat akan mempengaruhi murid juga biarpun yang diajarkan adalah metode Bahasa Inggris paling mutakhir dengan perangkat pendukung berupa multimedia tercanggih.

Sebaliknya, guru yang bersemangat akan menularkan semangat belajar tersebut kepada anak didiknya. Kisah-kisah guru yang luar biasa di tengah keterbatasan yang akhirnya dijadikan karya sastra populer seperti Ibu Muslimah di hikayat Laskar Pelangi atau Butet Manurung di film Sokola Rimba adalah contoh pentingnya jiwa seorang guru.

Mendiang Prof. Mahmoed Joenoes, salah satu pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia menyebukan sebuah jargon dalam bukunya ‘At Tarbiyah wa At Ta’lim” (Pendidikan dan Pengajaran):

Metode pengajaran lebih penting dari materi yang diajarkan.

Seorang guru lebih penting dari metode pengajarannya.

Tetapi jiwa seorang guru lebih penting daripada sosok guru itu sendiri.

Lebih jauh lagi, Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menyebutkan bahwa seorang guru selain semangat dan metode mendidik yang bagus, juga harus punya jiwa ikhlas. Keikhlasan dalam jiwa tersebut akan membuat seorang guru selalu mendoakan muridnya menjadi orang yang baik, sukses bahkan lebih baik dari dirinya sendiri.

 

Foto: Kelas IELTS Jurnalis (dok. @janeanthrani)