Fabana.id. Di dalam abjad versi Bahasa Indonesia, ada huruf V. Huruf ini agak termarjinalkan, kalau boleh dibilang, terselip di antara huruf yang lain. Ia adalah minoritas. Mengapa demikian? Karena huruf V tidak seperti huruf lain. Dalam Bahasa Inggris, huruf V memiliki cara pengucapan yang berbeda dengan huruf F. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, huruf V tidak ada perbedaan dengan huruf F, cara mengucapkannya sama.

Sampai di sini saya mulai curiga. Jangan-jangan huruf V ini adalah mata-mata asing, sehingga tugasnya adalah melakukan spionase terhadap huruf-huruf lain. Ia ada, tapi tak berbeda dengan huruf F. Ia menyelinap di antara alfabet untuk mengawasi gerak-gerik huruf lainnya. Lantas apa fungsinya huruf V tersebut. Mengapa tidak ada satu ahli bahasa pun yang mempermasalahkannya? Apa mereka tidak peka terhadap setiap susunan huruf-huruf abjad? Kalau ia tidak berfungsi, mengapa tidak dihapus saja?

Lalu mengapa tidak diadakan simposium nasional untuk membahas huruf V? Bukankah ini sebuah kesia-siaan, jika ia ada tapi tidak berfungsi apa-apa? Apakah kita tidak punya keberanian untuk menegaskan jati diri di hadapan internasional, bahwa kita sungguh-sungguh tidak butuh huruf V? Apa justru kita sendiri ragu-ragu huruf V ini enaknya diapakan? Dibuang, dihapus, atau ditetapkan sekalian? Tapi jika ditetapkan, ia tidak berfungsi apa-apa melainkan hiasan semata?

Atau, menghina huruf V termasuk perbuatan makar dan tidak menyenangkan, sehingga kita tidak tertarik untuk mengotak-atiknya? Sebegitu sakralkah huruf V, diajarkan di bangku sekolah mulai tingkat dini hingga perguruan tinggi, tapi tidak ada satu jurnal dan penelitian pun tentang huruf V? Ada apa ini? Mengapa kita tidak sungguh-sungguh terhadap huruf V?

Atau jangan-jangan, huruf V adalah titipan asing, sehingga ada kode etik tertentu sehingga ia tidak boleh digugat siapapun. Ia adalah simbol manifestasi asing atas kelemahan bangsa Indonesia. Ia adalah monumen kedigdayaan bangsa asing terhadap bangsa ini. Monumen toh tidak selalu berbentuk patung dan tugu. Ia bisa saja berbentuk apa saja, selama dapat dikenang atas suatu hal.

Huruf V ini juga sakti. Ia ada sebagai bentuk legitimasi atas suatu hal, dimana kita luput untuk benar-benar menyadarinya. Bahkan seluruh penghuni Republik Indonesia mungkin tahu tapi pura-pura tidak tahu, tahu tapi tidak tahu, tahu tapi bingung, atau tahu tapi cuek. Bahkan ada yang tidak tahu tapi sok cuek. Sebegitu parahkah kecuekan ini terjadi?

Mungkin di masa depan, akan ada kelompok yang memprotes keberadaan huruf V. Mereka mempertanyakan hakikat huruf tersebut dalam segala tindak-tanduk perilaku bangsa. Apakah ada hubungannya atau sama sekali tidak ada. Apakah berpengaruh atau tidak. Lantas pemerintah mulai terusik dengan hal tersebut. Lahirlah peraturan berbunyi seperti ini: barang siapa menggugat huruf V, maka ia berniat memecah-belah bangsa dan harus dibubarkan. Saya yakin jika sudah demikian, baru orang-orang melek terhadao hurud V. Sekelebat, akan ada simposium dan seminar membahas huruf itu. Padahal, ia sudah lama ada, mengapa baru dipelajari setelah ada yang mempertanyakan.

Akan muncul kelompok yang membela huruf V dengan nama Front Pembela Huruf V. Atau juga akan muncul Pemuda Huruf V, Laskar Pecinta Huruf V, dan Aliansi Masyarakat Peduli Huruf V. Dugaan saya, akan terjadi long march diisi oleh jutaan masyarakat berkumpul di monas untuk menegaskan keberpihakan mereka terhadap huruf V.

Akan tetapi, juga ada yang membentuk kelompok anti huruf V. Mereka pun melakukan aksi tandingan serupa. Tujuannya satu, menghapus huruf V dari tanah air Indonesia. Koran-koran akan meributkan hal tersebut. Dua kelompok besar ini akan saling berhadapan demi ideologinya masing-masing: mempertahankan atau menghapus huruf V.

Juga akan muncul fatwa tentang huruf V. Maa laa yatimmu wajibul  abjad illaa bi harfi V, fa harfu V wajib. Apabila abjad sebagai kewajiban tidak akan sempurna tanpa huruf V, maka huruf V hukumnya menjadi wajib. Ayat dan haditsnya bisa muncul belakangan, yang penting fatwanya sudah ada. Kelompok anti huruf V mencak-mencak setelah mendengar fatwa tersebut. Mereka buat fatwa tandingan: laa dhororo wa laa dhirooro. Huruf V berbahaya dan mengandung kemudaratan, maka harus dihapus. Ia mengancam keselamatan dan maslahat banyak orang, maka harus segera dicoret, apapun bentuknya.

Saya kemudian merasa tidak enak hati. Gara-gara mempertanyakan satu huruf saja, saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air harus saling bertengkar. Mereka siap berpecah belah, melupakan kedamaian antar sesama, dan luput mewarisi kasih sayang yang diajarkan oleh para leluhur bangsa ini. Saya begidik bukan main. Lebih baik tidak saya ungkit-ungkit keberadaan huruf V, daripada akan membuat perpecahan. Mending saya cuek, pura-pura tidak tahu. Hal tersebut lebih banyak mendatangkan kemaslahatan daripada mudhorotnya. Itu baru huruf V, belum lagi tentang Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, atau hal lain yang lebih penting. Saya tak sanggup membayangkan.

Foto: Maroon5.com