Fabana.id- Ngawi – Diplomat kadang dikesankan sebagai orang yang piawai dalam bernegosiasi saja. Namun kali ini mereka mengajar di pesantren. Unik dan sangat menantang

Dalam kegiatan “Kunjungan dan Tukar Pikiran”, Kamis-Senin, 12-16 April 2018, sebanyak 36 Diplomat Muda Indonesia terlibat langsung dalam pengajaran di pesantren Gontor. Dari pagi hingga sore, bergelut di kelas untuk menyampaikan materi pengajaran. Layaknya di sidang internasional, mereka tampil dengan pakaian super rapi.

Tentu saja, para diplomat itu tidak mengajarkan ilmu-ilmu agama atau yang terkait lainnya, melainkan hal-hal yang ada hubungannya dengan diplomasi. Mulai soal perlindungan warga negara, isu regional, masalah Palestina hingga simulasi sidang PBB. Sesuatu yang masih relatif jarang ditemui di pesantren.

“Ternyata mengajar itu tidak mudah. Perlu persiapan yang baik serta metode komunikasi yang tepat. Mengajar bukan hanya menyampaikan pengetahuan namun juga bagaimana bisa diterima, dipahami dan akhirnya tertanam dalam diri,” ujar Hendra, salah seorang peserta dari diplomat Kemlu.

Hal yang sama disampaikan oleh Adib. Ia mengaku agak kagok saat di awal-awal mengajar namun di hari kedua merasa sudah nyaman. Kemampuan untuk melibatkan anak didik dalam kegiatan ajar-mengajar menjadi sangat penting.

Lain lagi cerita dari Nona wanita yang pernah ditempatkan di New York, Amerika Serikat yang sangat terkesan dengan kemampuan para santri perempuan dalam simulasi sidang internasional. Beberapa peserta di antaranya sangat tangkas dalam membuat national statement. Para peserta juga dengan cepat menyerap informasi yang disampaikan dan mempraktikkannya dalam simulasi.

“Yang jelas, tukar pikiran dengan santri merupakan pengalaman tersendiri. Kami jadi lebih tahu tentang prinsip-prinsip hidup di pesantren dan sempat berbagi ilmu yang kami miliki. Itu sesuatu banget,” ujar Dudy.

Sementara itu, Dr. Hamid Zakasyi, seorang ustad dan Wakil Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) mengakui, betapa kunjungan ini memberikan warna tersendiri bagi pesantren. Bahkan Pimpinan Pondok, K.H. Hasan Sahal memberikan apresiasi kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan tersebut.

“Saya senang dengan kegiatan ini. Untuk membekali para diplomat ini, saya benar-benar menyiapkan diri. Semoga memberi manfaat bagi semua,” kaya Sang Kiai.

Kegiatan kunjungan dan tukar pikiran Diplomat Kemlu yang sedang mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) ini berlangsung selama 5 hari. Selain kegiatan mengajar, mereka juga melakukan interaksi dengan santri dalam bentuk pertandingan olahraga, seminar dan aktivitas kebersamaan lainnya.

 

Sumber: Detik.com