Ketidakpuasan ini mendorong munculnya gerakan homeschooling yang massif terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Para orangtua memilih “turun gunung” untuk mendidik anak-anaknya di rumah. Homeschooling menjadi tumpuan harapan orangtua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak, mengembangkan nilai-nilai moral, dan memberikan suasana belajar yang menyenangkan.

 

FABANA.id. Hari ini anak-anak kita kembali masuk sekolah setelah liburan panjang yang sekaligus menandai dimulainya tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru 2017 ini agak berbeda karena diliputi kontroversi dan blunder kebijakan full day school (FDS) yang mengubah waktu sekolah menjadi 5 hari dan 8 jam per hari.

Kebijakan blunder untuk ke sekian kali seperti ini (“beda menteri, beda pula blundernya”) menjadi wake-up call betapa kalau sekolah-sekolah kita terus dikelola dengan pendekatan BAU (business as usual) semacam ini pada akhirnya akan menjadi obsolet, kian tak relevan, dan akhirnya masuk museum.

Sehingga tak hanya tukang ojek pangkalan yang terkena disrupsi Go-Jek; atau operator taksi yang terkena disrupsi Uber; saya khawatir sekolah-sekolah kita juga akan menjadi korban disrupsi berikutnya.

Berikut ini adalah beberapa alasan substantif kenapa sekolah-sekolah kita bakal terdisrupsi jika kita terus-menerus “gagal paham”, tidak peka, tidak agile, dan tidak cepat merespons gelombang disruptive change yang kini sedang menyapu lanskap pendidikan kita.

#1. Neo-Milennials: The Prime Disruptor
Disruptor paling utama sekolah, menurut saya, bukanlah digital appssharing platform, atau algoritma-AI yang super canggih, tapi adalah konsumen dari sekolah yaitu: murid.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia kita mendapati sebuah generasi yang terlepas sama sekali (decoupling) dengan generasi-generasi sebelumnya (Silent, Baby Boomers, Gen X) yang disebut: Generasi Neo-Milenial.

Banyak istilah diberikan untuk generasi baru ini: Digital Native, Net Generation, WI-Fi Generation, Connected Generation, dll. Merekalah anak-anak kita yang kini duduk di bangku SMP, SD, dan lebih muda lagi.

Kalau proses transisi antar generasi-generasi sebelumnya berlansung secara linear dan kontinum, maka terbentuknya generasi baru ini bersifat disruptifdiskontinum, dan “tercerabut dari akarnya” alias berbeda sama sekali dengan generasi-generasi sebelumnya.

Mereka highly-mobileapps-dependent, dan selalu terhubung secara online (“always connected”). Mereka begitu cepat menerima dan berbagi informasi melalui jejaring sosial. Mereka adalah self-learner yang secara mandiri mencari sendiri pengetahuan yang mereka butuhkan melalui situs seperti Wikipedia atau Khan Academy. Mereka emoh digurui.

Mereka adalah generasi yang sangat melek visual (visually literate), karena itu lebih menyukai belajar berbasis visual (melalui video di YouTube, online games, bahkan menggunakan augmented reality) ketimbang melalui teks (membaca buku atau mendengar ceramah guru di kelas).

Mereka sangat melek data (data literate) sehingga piawai berselancar di Google mengulik, memproses, dan mengkurasi informasi ketimbang pasif berkubang di perpustakaan. Itu dilakukan dengan super-cepat melalui 3Mmulti-mediamulti-platform, dan multi-tasking.

Mereka lebih nyaman belajar secara kolaboratif di dalam proyek riil atau pendekatan peer-to-peer melalui komunitas atau jejaring sosial (menggunakan social learning platform). Bagi mereka peers lebih kredibel ketimbang guru. Dan ingat, mereka lebih suka menggunakan interactive gaming (gamifikasi) untuk belajar, ketimbang suntuk mengerjakan PR.

Karena adanya “generation gap”, mereka stres dan frustasi diajar oleh guru-guru dari generasi sebelumnya (Gen X bahkan Baby Boomers) yang gagal memahami perilaku digital mereka.

Ketika anak-anak kita sudah berubah sedemikian rupa sementara sekolah bebal tak mau berubah, maka tinggal tunggu waktu, sekolah akan terkena sapu jagat disrupsi.

#2. Hyper-Demanding Parents: The Rise of Homeschooling
Meningkat drastisnya orangtua kelas menengah sejak awal tahun 2000-an menciptakan para orangtua yang sangat demanding terkait pendidikan anak-anak mereka. Mereka tak puas lagi dengan hasil pendidikan sekolah formal-tradisional.

Mereka mengeluh, sekolah formal hanyalah berorientasi pada nilai rapor (kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan hidup dan bersosial (moral dan agama). Akibatnya, banyak murid mengejar nilai rapor dengan mencontek. Mereka juga merasa anak-anak mereka kurang diperhatikan keunikan bakatnya secara personal dan sekolah tak merangsang daya imajinasi dan kreasi anak.

Selain itu mereka merasa sekolah formal memiliki kelemahan mendasar karena tak memberikan pembelajaran dunia nyata yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan disiplin ilmu. Pembelajarannya teacher-centric bukannya student-centricdimana keterlibatan orangtua marjinal.

Ketidakpuasan ini mendorong munculnya gerakan homeschooling yang massif terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Para orangtua memilih “turun gunung” untuk mendidik anak-anaknya di rumah. Homeschooling menjadi tumpuan harapan orangtua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak, mengembangkan nilai-nilai moral, dan memberikan suasana belajar yang menyenangkan.

Singkatnya, gerakan homeschooling merupakan jawaban orangtua terhadap kegagalan sekolah formal-tradisional yang kian obsolet dan tak relevan lagi.

Selain murid, orangtua adalah juga disruptor kunci bagi sekolah.

#3. Disruptive Technologies
Jangan lupa, teknologi pendidikan juga telah berkembang secara eksponensial sehingga berpotensi mendisrupsi sekolah tradisional. “Radical innovation will change the way we teach and kids learn,” kata Prof. Clayton Christensen, penggagas konsep disruptive innovation.

Berbagai inovasi disruptif di sektor pendidikan seperti: massive open online course (MOOC), open educational resources (OER), situs tutorial online seperti Khan Academy, personalized/customized learningsocial learning platformprofessional learning network (PLN), massively multi-player online (MMO) learning games, kini sedang antri untuk mencapai critical mass. Begitu itu terjadi, kita akan mendapatkan pendekatan pembelajaran baru yang lebih terbuka, kolaboratif, personal, ekperensial, dan sosial.

Dengan beragam inovasi tersebut barangkali ruang kelas kurang diperlukan lagi. Guru akan berubah peran secara drastis sebagai mentor, motivator, dan model. Dan yang jelas akan tersedia begitu banyak learning channel dan sekolah tak lagi bisa memonopoli proses pembelajaran.

Sebagai wahana pembelajaran, sekolah tradisional akan tergeser dari posisi “core” menjadi “peripheral”. Dalam konteks inilah kebijakan waktu sekolah 5 hari dan 8 jam perhari dari Mendikbud menjadi ahistoris.

#4. Irrelevant Skills
Dengan pendekatan yang obsolet sekolah-sekolah kita hanya bisa membentuk “Generasi Penghapal” dan “Generasi Pembebek”. Mereka adalah generasi yang piawai dalam menghapal. Kenapa? Karena di sekolah, sejak TK hingga SMA, mereka digembleng untuk menjadi penghapal-penghapal hebat. Mereka ditempa untuk piawai menyelesaikan soal-soal multiple choice atau soal-soal hapalan.

Mereka hanya menjadi “obyek penderita” dalam proses pembelajaran yang pasif mengonsumsi pengetahuan dari si guru. Sejak kecil pendidikan yang mereka jalani secara sistematis membonsai keliaran imajinasi, kreativitas, dan daya cipta. Akhirnya sistem ini menciptakan sosok-sosok pembebek yang defisit daya imaginasi, daya kreasi, dan passion untuk mengubah dunia.

Untuk sukses di abad yang sarat disrupsi saat ini, yang dibutuhkan bukanlah sosok penghapal dan pembebek. Tony Wagner (2008) merinci kompetensi yang diperlukan anak-anak kita untuk sukses di era disrupsi. Ia menyebutnya “Seven Survival Skills for 21st Century” sebagai berikut:

1. Critical thinking and probelm solving
2. Collaboration across network
3. Agility and adaptability
4. Initiative and entrepreneurship
5. Accessing and analysing information
6. Effective oral and written communication
7. Curiosity and imagination.

Celakanya, justru di tujuh keterampilan inilah sekolah-sekolah kita paling lemah karena memang tidak mereka kembangkan. Sekolah kita semakin tidak relevan karena keterampilan yang dibangun tidak relevan lagi dengan kebutuhan kekinian.

Keprihatinan ini yang membawa saya bereksperimen merintis Creator School untuk membentuk tujuh survival skills di atas. Sekolah ini menggunakan pendekatan motivasi intrinsik, pembelajaran kolaboratif, one-to-one dan coaching-focused, dan mengenalkan anak didik ke dunia nyata melalui pengerjaan proyek riil dan terjun langsung ke komunitas.

Sekali lagi, kalau kompetensi yang dibangun tidak relevan, maka kita tinggal menunggu waktu datangnya disrupsi.

***

Institusi pendidikan adalah entitas yang paling sulit berubah. Itu sebabnya sekolah kita 50 tahun lalu tak banyak berbeda dengan sekolah kita hari ini. Sekolah yang ada saat ini dirancang di era industrial (industrial age) yang tak relevan lagi di era pengetahuan (knowledge age).

Dengan logika industrial abad 20 sekolah kita distandarisasi (kurikulum, pola pengajaran, dan sistem evaluasinya) agar bisa diperbandingkan dan dikompetisikan (itu sebabnya muncul istilah “sekolah favorit”). Dari situ kemudian pemodal masuk ke jantung industri pendidikan dimana fokus utama mereka adalah profit bukanlah pembelajaran.

Inilah biang dari fenomena instanisasidehumanisasi, dan dekadensi sekolah kita.

Karena itu sekolah kita perlu diinovasi (yup, disruptive innovation) agar tidak obsolet dan tetap relevan dengan kondisi kekinian. Disrupsi selalu menelan korban, tapi sekaligus juga membawa kemanfaatan yang besar… kemanfaatan eksponensial.

 

(Oleh: Yuswohadi, Kolumnis, Penulis dari sekitar 40 buku mengenai pemasaran, tulisan lainnya bisa dibaca di yuswohadi.com)

Sumber:  yuswohadi.com

Foto: Salamyogyakarta.com