China USADewasa ini, peradaban dunia Barat sangat jauh berbeda dari lima ratus tahun lalu, tepatnya pada abad pertengahan. Pada masa itu, kawasan Eropa terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki otonomi penuh.

Kerajaan tersebut saling berebut pengaruh sehingga mengakibatkan peperangan sipil yang tiada henti. Untuk membiayai perang, para raja memungut upeti yang cukup besar dari rakyat, sehingga menyebabkan kemiskinan dan kelaparan merajalela.

Lebih lagi sikap para pendeta yang memanfaatkan dominasi gereja dalam hal otoritas keagamaan untuk kepentingan-kepentingan pribadi ikut memperparah kondisi masyarakat yang sudah sangat menderita.

Selain dunia Barat, peradaban Tiongkok mulai muncul dan diperhitungkan pada dekade terakhir ini. Saat ini negeri Tiongkok diklaim sebagai negara pengekspor produk manufaktur terbesar di dunia. Produk-produk berlabel Made in China yang terkenal dengan harganya yang miring menancapkan pengaruhnya dalam perdagangan bebas dunia.

Bahkan di Amerika Serikat yang merupakan negara pengusung utama perdagangan bebas, produk negeri ini mengalahkan dominasi produk lokal.

Terkait hal itu, dalam sebuah kesempatan Amien Rais yang dikenal dengan kritikus Amerika Serikat mengatakan,  bahwa hegemoni negeri Tiongkok mulai mengancam pengaruh Amerika Serikat.

Amien berpendapat negeri Tiongkok mulai mengalahkan dominasi AS dalam beberapa sektor, terutama sektor ekonomi yang menjadi salah faktor utama keunggulan suatu bangsa.

Bahkan, Fareed Zakaria, host program GPS di Stasiun TV CNN, menyebut negeri ini sebagai salah satu kekuatan “the others” yang akan segera menyulitkan dominiasi Amerika Serikat di masa depan.

Bagaimana tidak, saat ini negeri Tiongkok mulai unggul dalam berbagai hal seperti ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan juga dominasi dalam kancah perpolitikan global. Padahal sebelum perang dunia, negeri ini adalah jajahan negara Jepang selama kurang lebih empat belas tahun.