Kalau tidak ada pekerjaan, maka tidak akan punya uang. Jika sudah ada uang, dia bisa lanjut kuliah master. Jika bekerja ada titel master, maka jumlah uang diterimapun semakin banyak.

FABANA.id. Kaya, bahkan raya adalah impian semua umat manusia. Apapun profesinya, bidang ilmu yang dikuasai, keahlian yang dimiliki atau usaha yang ditekuni. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai kekayaan.

Kaya saja kurang cukup, perlu ada tambahan raya (kaya raya). Kaya dan mau apa saja bisa dengan mudah dicapai dengan harta yang berlimpah di kantong pribadinya. Jika perlu jumlah kekayaan itu dibawa sampai liang lahat hingga negeri akhirat.

Termasuk para sarjana yang sedang merintis karir di berbagai kota di Indonesia. Sebab, tanpa titel di universitas, ia tak dapat punya pekerjaan.

Kalau tidak ada pekerjaan, maka tidak akan punya uang. Jika sudah ada uang, dia bisa lanjut kuliah master. Jika bekerja ada titel master, maka jumlah uang diterimapun semakin banyak.

Tapi tetap saja tidak cukup, sebab biaya kuliah anak semakin mahal. Kebutuhan hidup semakin melambung. Butuh gelar doktor hingga profesor untuk menambah pasokan pendapatan.

Sebab, semakin spesialis bidangnya semakin mahal harga jualnya. Entah sejak kapan sistem itu tercipta, yang jelas uang menjadi kebutuhan utama.

Kata orang tua di kampung, kalau ada uang bisa menyehatkan. Kalau tidak ada uang mau berkata apa. Hanya bisa berpangku tangan dan menggantungkan cita-cita setinggi langit. Sebab, hanya melamunkan cita-cita saja yang masih gratis.

Namun, saat dunia sedang berhimpitan dan sikut menyikut, merebutkan jabatan dan harta itu.

Kook, yoo. Masih ada saja anak muda yang rela diupah ala kadarnya. Bahkan rela hanya diupah dengan ucapan terima kasih. Kok, yaa, masih ada pemimpin perusahaan yang bilang sama anak buahnya.

“Paak, kita bekerja disini diniatkan untuk ibadah lillahi ta’ala ya. Bidang kita ini sangat erat dengan kemanusiaan. Jika kita niatkan ibadah lillahi ta’ala. Semoga gak hanya bisnis kita yang lancar, tapi juga bisa jadi bekal kita menuju keabadian di negeri akhirat,”

Kook, yaa. Masih ada orang-orang tulus di tengah persaingan menjadi terkaya? Emang ada yaa orang yang tulus, membantu sesama tanpa balasan materi?

Aah, saya jadi bimbang menakarnya. Jangan-jangan itu ungkapan jebakan. Supaya orang yang bekerja bersamanya bisa diupah ala kadarnya.

Aah, Jangan-jangan hanya pencitraan semata. Supaya dianggap religius, agar terkesan pribadi yang bertakwa. Apa jangan-jangan itu rayuan untuk memperkaya diri? Supaya cepat tercapai impian menjadi kaya raya dengan menekan cost pendapatan anak buahnya.

Percaya atau tidak dengan sosok seperti itu. Jika suatu ketika di lingkunganmu ada ciri-ciri manusia yang tulus. Yang siap bekerja dengan ilmu ikhlas, alias diupah ala kadarnya, meskipun tantangannya melebihi kapasitas dirinya sendiri.

Jika ada, sosok yang kau temukan di wilayah mu, di kantormu, di tempat usahamu sebagai mitra kerja atau sebagai anak buah. Jangan sekali-kali menzoliminya. Memberinya upah ala kadarnya, padahal kita mampu memberinya lebih.

Jika kita masih percaya pada keabadian di syurga dan neraka. Hati-hatilah dalam bersikap pada para mukhlisin. Orang-orang yang tulus, yang ikhlas dan siap berkorban harta, tenaga, pikiran bahkan nyawanya untuk kemajuan bersama.

Foto: Merdeka.com