Kurang lebih seperti itu gambaran kebelet yang dimaksud. Bisa diimajinasikan sendiri, kira-kira apa yang akan dilakukan jika sudah kebelat kaya, tetapi jalur resmi yang baik dan benar itu ditutup.

FABANA.id. Kok, judulnya pakai ‘kebelet’ apa tidak ada kata lain yang lebih sopan?

Pertanyaan itu tiba-tiba berbisik di telingaku. Entahlah, bagiku kata itu sangat tepat untuk menggambarkan kondisi para karyawan -entah punya karya atau tidak- yang sedang mengejar karir dan para pedagang yang ingin cepat punya laba besar dari usahanya.

Karena kalau dihitung secara matematis, untuk punya rumah tanpa nyicil misalnya butuh dana minimal Rp 200Juta. DP mobil sekitar Rp 50 juta. Itu juga dicicil maksimal 5 tahun.

Belum lagi untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Biaya sekolah anak yang semakin bertambah tahun semakin melangit harga masuknya. Sementara pendapatan per bulannya tidak lebih dari 10% dari total kebutuhan yang sudah dihitung tersebut.

Ibarat orang yang ingin buang air, posisi airnya sudah diujung tanduk. Jika tidak segera dibuang, kemungkinannya tercecer di celana, atau buang sembarangan di jalan. Apapun tempatnya yang penting hajatnya terpenuhi.

Kurang lebih seperti itu gambaran kebelet yang dimaksud. Bisa diimajinasikan sendiri, kira-kira apa yang akan dilakukan jika sudah kebelat kaya, tetapi jalur resmi yang baik dan benar itu ditutup.

Bahkan sengaja ditutup supaya aksesnya terbatas untuk kolega dan kelompoknya.
Iya, kalau di samping kanan-kirinya ada ‘botol’ yang bisa menampung rasa kebeletnya untuk sementara. Kalau tidak ada? Apapun akan dilakukan, asalkan menghasilkan kekayaan dalam waktu cepat. Udah gak nahan soalnya niih, udah kebelet…

Lillah, Fillah, Bismillah
Mudah memang untuk menulis, mengucapkan kata itu. Bekerja lillah (semata karena Allah), supaya berada dalam lindungan Allah (fillah). Jika memulai apa saja harus melibatkan Allah (bismillah). Agar kelak, Allah selalu bersamamu, dan kamu senantiasa bersamaNya (ma’a Allah).

Tapi kan, prakteknya tidak semua bisa. Kalaupun bisa apa indikasinya?

Seperti membuang air saat kebelet tadi, mungkim indikasinya adalah: tidak ada harapan kita untuk mengambil atau menghitung kembalian dari air yang sudah dibuang bukan? Kalau indikasi lainnya, bisa dilihat dari kepribadiannya.

Apakah dia banyak menuntut (tidak mengharap balas jasa) ataukah dia legowo alias menerima apapun yang menimpa dirinya.

Jika ada manusia seperti itu di sekitarmu. Sediakan ‘botol’ sementara untuknya. Jangan karena hanya lulusan SMP/SMA, atau kemampuannya tidak sejalur dengan ijasah sarjananya. Lantas, kita tega menutup akses pintu baginya untuk berkarya.

Kecuali jika dia memang tidak butuh “botol” lagi. Kebeletnya bukan untuk kebutuhan, melainkan untuk pelampiasan dan pemuasan. Jangankan kita, Tuhan saja dianggap fana sama dia. Ya sudah, sambil dibiarkan dia jajan sembarangan, kita doakan semoga Tuhan tidak menambahnya kesesatan.