Salah satu karya Choukin Yasutaka yang dipamerkan di jakarta dengan tulisan 'bismillah'

Salah satu karya choukin Yasutaka yang dipamerkan di jakarta dengan tulisan ‘bismillah’

Choukin, sebuah teknik seni rupa tradisional Jepang yang mengukir gambar pada permukaan keras berjenis logam metal: emas, seng, perak atau baja. Istilah yang biasa dipakai adalah ‘chase metal’ atau ‘chiselwork’. Cara kerjanya dengan mengikis permukaan material mengikuti pola tertentu dengan alat sejenis pahat. Karya-karya ‘choukin’ khas Yasutaka menggunakan pahat (tgane) bernama ‘hage’. Ini adalah pahat khusus yang dia ciptakan sendiri.

Awalnya, choukin ini dibawa oleh bangsa Persia pada zaman Dinasti Tang di Cina. Baru menyebar ke Jepang pada zaman Nara, sekitar tahun 710-794 M. Di periode ini, choukin dipakai untuk memahat patung Buddha. Di zaman Sengoku (1467-1573 M), yang merupakan periode perang, teknik ini digunakan untuk mendesain ‘Yoroi Kabuto’ (jubah perang para Samurai Jepang) dan ‘Katana’ (pedang sang Samurai).

Menurut salah satu perupa asal Jepang, Kitamura Yasutaka. Di Eropa, teknik semacam ini populer pada awal abad 18 untuk merancang perak. Terus dikenal juga sampai ke Amerika di pertengahan abad yang sama. “Sekarang teknik ini sudah mulai berkembang di mana-mana,” kata Yasutaka.

Yang menarik dari karya Yasutaka adalah, ia memberikan sentuhan kaligrafi Islam. Ada yang dibuat di atas lempeng aluminium berukuran 148×35 cm dengan tinta akrilik berwarna perak bertuliskan lafadz “Allah”. Karya ini memperkuat sentuhan Islam karena menurut Yasutaka umat Muslim sangat dekat dengan sang pencipta.

Kemudian, dua karya lain bertuliskan kalimat “Bismillah” dan “Syahadat”. Ukirannya diberi warna kuning keemasan dan coklat tua. Besarnya kurang lebih berukuran 150×50 cm. Keduanya ditopang dengan latar bambu bercat putih. Yasutaka menyebut karya-karya choukin yang diciptakannya ini dengan ‘calligraffiti’. Yakni, gabungan dari seni kaligrafi dan grafiti.

Yasutaka

Yasutaka

Yasutaka tertarik mendalami kaligrafi dan budaya Islam setelah menetap di Indonesia. Ia tinggal di sebuah pesantren bernama Nurul Hikmah, di Karawang, dan menjadi guru bahasa Jepang di sana. Ia banyak berinteraksi dengan para ustadz dan antusias mendalami sejarah kaligrafi Islam.

Saya telah mempelajari banyak hal tentang karya seni Islam dan budaya Arab selama berada di sana (pesantren Nurul Hikmah). Saya sangat tertarik dan saya akan mempertahankannya,” ungkap Yasutaka.

Yasutaka sendiri adalah generasi keempat dari pengrajin seni dekorasi Jepang. Dia belajar langsung di bawah bimbingan ahli cukil bernama Natsuo Kano. Pameran tunggalnya telah digelar di sejumlah tempat di Tokyo, Nagasaki, Saitama, Hongkong, dan Vancouver. Ke depannya, seniman kelahiran Tokyo, 1 Mei 1978 ini punya misi mengenalkan ‘calligraffiti’ ini ke berbagai belahan dunia.

Sumber