FABANA.id. Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, sang guru bangsa pernah berujar kepada para murid-muridnya. “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator”

Sayangnya, di era revolusi digital saat ini, profesi wartawan kalah mengkilap dengan profesi lainnya. Padahal dalam catatan sejarah, tokoh pergerakan di negeri ini tidak bisa lepas dari profesi sebagai wartawan. Sebut saja salah satunya  Raden Mas Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara.

Sebelum mendirikan taman siswa, Ki Hajar Dewantara mengawali karirnya sebagai penulis dan wartawan. Nama-nama surat kabar seperti De Expres, Oetoesan Hindai, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Midden Java dan Sediotomo menjadi tempatnya berkarya.

Begitu juga dengan H. Agus Salim, salah satu tokoh perumus Piagam Jakarta yang kemudian melahirkan Pancasila itu, sebelumnya adalah seorang wartawan. Kiprahnya dalam dunia media, membawa namanya menjadi Redaktur di Harian Neratja pada tahun 1951.

Semangat menulis yang kuat, membawa karir Agus Salim pada posisi sebagai Pemimpin di Harian Hindia Baroe dan kemudian tak lama setelah itu, Agus Salim mendirikan Surat Kabar Fadjar Asia dan kemudian menjadi Redaktur Harian Moestika.

Selain kedua nama-nama di atas, para tokoh pergerakan Indonesia seperti Danudirja Setiabudi atau yang biasa dipanggil Ernest Douwes Dekker juga pernah menjadi wartawan di De Locomotif Semarang. Begitu juga dengan Adam Malik yang pernah menjadi redaktur di Kantor Berita Antara dan sederet nama-nama tokoh lain yang tidak bisa disebut satu persatu.

Dalam lingkup yang lebih luas, tanpa harus masuk dalam perusahaan media engkau juga tetap bisa menjadi wartawan atau pewarta. Yang mewartakan kondisi sosial, budaya dan etika suatu masyarakat dan mengolahnya menjadi sajian informasi yang layak dikonsumsi.

Dalam kaitannya dengan revolusi digital saat ini, jadilah wartawan untuk diri anda sendiri. Setidaknya untuk masa depan anak-cucu kita sendiri, agar kelak mereka dewasa, sebagai orang tua anda akan menjadi rujukan informasi yang pertama bagi anak cucu sendiri.

Jika masih ragu untuk mengolah informasi seperti halnya wartawan, maka jangan diamkan diri anda untuk tidak menulis. Apapun profesi, bidang yang anda kuasai dan pekerjaan yang anda tekuni sehari-hari jangan lupa untuk tidak menulis.

Toh, setiap hari anda juga menulis pesan singkat kan? Membalas chat di instans messanger, merespon di grup online dan memberi komentar pada status teman di media sosial. Nah, itu semua adalah langkah dasar anda untuk penjadi penulis.

Perbanyaklah menulis hasil olah kata dan kreasi anda sendiri, jangan membiasakan untuk menyebar informasi yang anda sendiri tidak tahu sumber utama informasi yang anda baca.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah.  Menulislah, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian,”

Dan pekerjaan wartawan tidak akan pernah lepas dari tulis menulis. Jadilah wartawan jika anda menghendaki perubahan dan Jadilah pengolah informasi, produsen berita dan kata yang berkualitas untuk masa depan anak cucu anda sendiri.