Penasaran dengan masalah yang terus mendera seolah kesejahteraan hanya fatamorgana? Sesungguhnya Allah telah memberi peringatan yang jelas dalam Al-Qur’an.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-a’raf : 96).

Ya, di antara yang bisa menjadi penyebab jauhnya kesejahteraan adalah hilangnya keberkahan. Keberkahan yang dijanjikan Allah hanya kepada mereka yang bertakwa dengan sebenar-benarnya. Salah satunya adalah ketakwaan dalam bermuamalah, khususnya ekonomi. 

Ekonomi menjadi bab penting karena selain menyangkut hajat hidup masyarakat, juga menjadi acuan bagaimana pemerintah mengelola sebuah Negara. Dalam sistem ekonomi kapitalis yang saat ini dianut negara kita, bunga menjadi indikator sekaligus instrumen kunci untuk mengendalikan perekonomian. Sejarah telah membuktikan, alih-alih menciptakan kesejahteraan, sistem tersebut malah rentan terhadap krisis. Jatuhnya Lehman Brothers pada 2008 serta bangkrutnya ekonomi Yunani pada 2015 menjadi bukti shahih betapa rapuhnya fundamental perekonomian mereka dan semunya pertumbuhan yang dibangga-banggakan.

Sejatinya Islam sebagai agama yang kaffah telah memberikan panduan yang komprehensif bagi umat manusia, termasuk dalam hal muamalah. Maka sesungguhnya aktifitas ekonomi tidak boleh dipisahkan dari agama.

Begitu pentingnya masalah ekonomi ini, Allah menyebutkan secara jelas dalam Alquran larangan terhadap riba. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al-baqarah : 278).

Adakah yang lebih shahih dari apa yang telah dituntunkan oleh sang khaliq? Tentu tidak ada. Maka dari itu sudah sepatutnya sebagai seorang muslim juga memperhatikan keberkahan dalam ekonomi. Keberkahan yang dmulai dari hal sederhana, yakni dengan memastikan ke-halal-annya.

Hal unik yang terjadi di masyarakat Indonesia khususnya adalah adanya anomali terhadal halal oriented. Masyarakat sangat aware dan sensitif terhadap halalnya makanan. Bahkan jika turis indonesia melancong ke luar negeri, maka akan didapati mereka rela mengantri panjang untuk mendapat makanan halal.

Begitu juga dalam hal pakaian dan kosmetik. Hijab dan pakaian syar’i terutama untuk muslimah menjadi trend positif yang tidak hanya mensyi’arkan syariat, namun juga mampu menjadi penggerak industri. Sehingga para desainer berbondong-bondong meluncurkan koleksi hijab & busana muslim, dan produsen kosmetik membuat produk kecantikan khusus muslimah.

Namun ketika bericara tentang transaksi ekonomi, masih sedikit yang peduli tentang halalnya transaksi. Banyak individu maupun instansi yang masih menggunakan instrumen ribawi. Salah satu yang bisa diukur adalah perilaku masyarakat menggunakan bank sebagai media transaksi. Jika melihat data statistik yang dirilis Otoritas Jada Keuangan (OJK) Juni 2016, marketshare perbankan syariah di Indonesia kurang dari 5% jika dibandingkan total aset perbankan di indonesia yang mencapai 6.363 triliun rupiah. Ini menandakan bahwa sebagian besar transaksi masyarakat di Indonesia masih menggunakan bank konvensional, kontras dengan profil Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Banyak analisa yang dilakukan terkait masih rendahnya minat masyarakat untuk bertransaksi di bank syariah. Beberapa faktor diindikasikan menjadi penyebab, dari mulai kurangnya sosialisasi sampai kebijakan pemerintah yang dianggap belum sepenuh hati mendorong perkembangan industri keuangan syariah. Dan perlu dicatat bahwa industri perbankan syariah hanyalah salah satu bagian dari sistem ekonomi syariah secara luas.

Berbicara mengenai ekonomi syariah, maka sejatinya berbicara tentang keberkahan ekonomi umat. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas serta kesejahteraan yang merata hanya dapat dicapai dengan instrument yang halal. Tentunya kita tidak ingin keberkahan menjauh karena kita masih bergumul dengan riba. Maka sudah sepatutnya kesalihan ibadah diikuti dengan kesalihan dalam berekonomi, baik di tingkat individu maupun Negara.

Hal paling sederhana yang dapat dilakukan sebagai ikhtiar hijrah dari riba adalah menggunakan bank syariah untuk transaksi keuangan dan meninggalkan transaksi di bank konvensional. Karena dengan demikian kita telah jelas mentaati perintah Allah untuk meinggalkan riba. Saat ini pun Bank Syariah sudah sangat jauh berkembang dan dapat memberikan fasilitas serta kualitas layanan yang tidak kalah dengan bank konvensional, sehingga kita semakin mudah untuk beralih dari bank konvensional ke Bank Syariah. Kalau kalian, sudah punya account di Bank Syariah belum? (kv)