Seperti yang diceritakan oleh Hakam, saat itu pihak Universitas hanya memberikan waktu satu bulan kepadanya untuk mencari mahasiswa yang mau belajar di program studi yang nasibnya waktu itu la yahya wa laa yamut.

 

FABANA.id. “Namamu Siapa?” “Ali. Pak?”

“Kalau kamu kenalan sama orang, kamu nyebutin agama kamu tidak?” “Enggak pak?”

“Enggak kaan. Karena nama Ali itu identik dengan nama Islam. Jadi kamu tidak perlu menyebutkan Ali Islam, bukaan?”

Begitu diantara percapakan yang terjadi antara rektor pertama Universitas Al Azhar Indonesia dengan para mahasiswa Healing & Conseling pada pertengahan tahun 2009 saat ingin memastikan kelanjutan nasib program studi Healing & Counseling.

Kemudian rektor menjelaskan alasan mengenai nama Universitas Al Azhar Indonesia dan bukan Universitas Islam Al Azhar. Termasuk menyinggung mengenai bargaining position lulusan Healing & Counseling jika bekerja. Dan usai berdiskusi, para mahasiswa hanya pasrah dan legowo atas segala hasil yang diputuskan.

Sejak didirikan pada tahun 2000, Program Studi Healing & Counseling di bawah Fakultas Agama Islam adalah salah satu program yang ikut serta mengiringi perjalanan dan perkembangan kampus yang lahir dari masjid Agung Al Azhar tersebut.

Namun, karena berbagai hal, pada tahun 2009 gonjang-ganjing informasi penutupan program studi Healing & Counseling mulai merebak. Salah satu tanda penutupan tersebut dengan dileburkannya Fakultas Agama Islam dan jurusan Healing & Counseling yang sudah terlanjur ada sebelumnya digabung ke dalam Fakultas Psikologi dan Pendidikan.

Hal tersebut tentu berdampak pada banyak hal, diantaranya adalah jumlah peminat di program studi yang pernah mengundang Mario Teguh saat masih onfire, tampil di Aula Arifin Panigoro kampus Universitas Al Azhar Indonesia.

Padahal jika dirunut ke belakang, jumlah peminat prodi ini cukup bagus. Terhitung, rata-rata setiap tahun jumlah mahasiswa yang mendaftar sebanyak 15-20 orang. Memang mayoritas mahasiswa nya adalah dari Ibu-Ibu dan bapak-bapak yang sudah memiliki pekerjaan tetap yang jam terbang pengalamannya sudah sangat jauh melesat.

Seperti yang dijelaskan oleh para alumninya saat mengadakan tahadus bin an ni’mah bersama mahasiwa baru di Aula Serba Guna Universitas Al Azhar Indonesia. Berdasarkan cerita mereka, pada tahun 2004 jumlah mahasiswa yang mendafar sebanyak 8 orang.

Tahun 2005 ada 13 orang. Tiga orang dari lulusan SMA sisanya adalah ibu-ibu yang sudah established dengan karir dan usaha yang ditekuninya. Tahun-tahun berikutnya, jumlah mahasiswa yang mendaftar tidak lebih dari 20 orang, tapi tidak kurang dari 10 orang.

Puncaknya, karena ada informasi penutupan program studi ini. Pada tahun 2010, jumlah mahasiswa yang mendaftar hanya 4 orang mahasiswi. Bahkan, waktu itu berhembus informasi bahwa jatah mahasiswa program studi Healing & Counseling berakhir pada tahun 2013. Mau nggak mau, terima atau tidak terima semua mahasiswa yang terikat di lembaga ini harus selesai kuliahnya maksimal tahun 2013.

 

Lembaran Baru

Waktu itu, 5 Agustus 2014 sebuah tantangan besar yang menjadi tonggak perjalanan Healing & Counseling dimulai. Setelah melewati proses yang panjang, nama Healing & Counseling tidak lagi dipakai sebagai nama program studi.

Dibawah Fakultas Psikologi dan Pendidikan, nama program studi tersebut berubah menjadi Bimbingan Penyuluhan (Konseling) Islam BPI. Strategi yang ditempuh pun berbeda. Di bawah komando Ustad Abdullah Hakamsyah, Lc program studi tersebut mulai menunjukkan jati dirinya.

Seperti yang diceritakan oleh Ustad Hakam, saat itu pihak Universitas hanya memberikan waktu satu bulan kepadanya untuk mencari mahasiswa yang mau belajar di program studi yang nasibnya waktu itu la yahya wa laa yamut.

Dengan segala upaya dan didukung oleh para alumni-alumni program studi tersebut. Pada tahun 2014 berhasil mengumpulkan sebanyak 14 orang yang siap untuk belajar dan dididik lewat program studi BPI Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al Azhar Indonesia (BPI FPP UAI).

Uniknya, mayoritas para mahasiswa yang terdaftar tersebut adalah mahasiswa yang memiliki skill hafalan Al Quran. Di sini point plus nya, para penghafal Al Quran ini telah berhasil memberi sentuhan lebih berwarna dalam lingkungan di Universitas Al Azhar Indonesia.

Jika sebelumnya, hanya segelintir orang yang pernah hafal Al Quran, kini hafalan Al Quran sudah menjadi syarat untuk mendapat beasiswa kuliah di Program Studi BPI FPP UAI.

Dan setiap ada lomba Musabaqoh Tilawatul Quran (MTQ), para peserta dari BPI ini dapat memperkenalkan ‘brand’ UAI dan secara otomatis ikut serta mengharumkan nama almamaternya.

Lantas siapa yang menanggung beasiswa tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah dari para alumni-alumni BPI. Mereka tidak ragu untuk berbagi dan memberikan donasinya untuk masa depan program studi yang menjadi tempat mereka menimba ilmu.

Pihak Universitas pun mengapresiasi langkah Alumni BPI ini. Dan menjadikan para Alumni BPI FPP UAI sebagai contoh alumni yang peduli dan kontributif terhadap alamamaternya sendiri. Bukan hanya itu, berkat kineja, bantuan dan dorongan dari para alumni juga. Kini, BPI mendapat akreditasi B dengan skor 331 yang membawa BPI sebagai program studi terbaik di Fakultas Psikologi dan Pendidikan UAI.

Dibanding dengan program studi lainnya, BPI dapat disandingkan dengan program studi populer lainnya. Seperti program studi Ilmu Komunikasi, Bioteknologi, Sastra Arab, Hubungan Internasional dan Hukum. Bahkan dengan program Hukum sendiri, skornya hanya beda 3 point.

“Suatu kesyukuran tersendiri bagi kami, setelah melewati berbagai tantangan yang dihadapi. Berkat kontribusi, dukungan dan bantuan dari para alumni, dosen dan segala pihak. Program Studi BPI bisa diterima lebih baik lagi,” jelas Abdullah Hakamsyah Ketua Program Studi BPI saat membacakan Kaleidoskop BPI FPP UAI 2014-2017.

Tahun selanjutnya, di 2015 jumlah mahasiswanya bertambah lagi. Tercatat sebanyak 27 mendaftar sebagai mahasiswa BPI. Dan pada tahun 2017 ini, sebuah rekor baru dalam perjalanan BPI. Sebanyak 39 mahasiswa telah bergabung untuk belajar bersama di program studi BPI.

Perjalanan tersebut menjadi suatu kesyukuran tersendiri bagi BPI Fakultas Psikologi & Pendidikan Universitas Al Azhar Indonesia. Semoga para sarjana yang dihasilkan bisa menjadi lulusan yang lebih baik lagi dari para pendahulunya.