FABANA.id-Jakarta- Berinovasi mutlak dilakukan pemerintah terutama menyangkut pelayanan publik. Hal ini dikemukakan anggota Komisi II DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam acara bedah buku “Inovasi Harga Mati: Sebuah Pengantar Inovasi Administrasi Negara” karya Tri Widodo Wahyu Utomo.

Acara bedah buku ini dilaksanakan di Gedung Perpustakaan Pusdilkat Kepemimpinan Aparatur Nasional Lembaga Administrasi Negara (LAN), Kamis, (2/10). Hadir sebagai pembicara, Tri Widodo Wahyu Utomo, (penulis buku yang juga menjabat sebagai Deputi Inovasi Administrasi Negara LAN) dan Yulistyo.

Menurut Hetifah inovasi bukanlah hal sulit. Tetapi sangat mudah dilakukan mulai dari hal-hal kecil.

“Dalam buku ini, penulis menyampaikan bahwa inovasi bisa dilakukan dengan istilah ATM yaitu amati, tiru dan modifikasi. Ini mudah dilakukan”, kata Hetifah.

Hetifah menunjukkan beberapa inovasi yang sederhana tapi sangat memberi manfaat. Menurutnya penyediaan chidren playground dan taman baca di Puskesmas dan kantor-kantor kelurahan adalah contoh dari inovasi.

Meski demikian, Hetifah tidak memungkiri bahwa banyak Pemerintah Daerah mengalami kegalauan untuk berinovasi.

“Ada kesan bahwa berinovasi di lingkungan Pemda dianggap melanggar aturan. Ini yang membuat aparatur takut”, terang Hetifah.

Hetifah pun mengajak agar Pemda mulai berinovasi dari hal-hal kecil, dan mudah dan punya keberanian.

Tri Widodo, penulis buku, menyampaikan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan penulis untuk bisa berinovasi. Menurut Tri Widodo, inovasi itu sederhana, kecil dan umumnya dilakukan oleh anak muda. Ia mengajak agar tidak taku salah dalam berinovasi.

“Thomas Alfa Edison 10.000 kali melakukan percobaan untuk menciptakan lampu. Dia berani berinovasi dari kegagalan yang dialaminya”, jelas Tri Widodo.

Sementara itu pembicara lain Yulistyo menyampaikan bahwa sesungguhnya inovasi adalah untuk kebaikan. Lebih lanjut menurutnya inovasi juga butuh keberanian.

“Saat ini sudah mulai banyak pelayanan publik yang inovatif. Di Jakarta sudah diresmikan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) pada 12 Oktober 2017 lalu. Ini mempermudah pelayanan”, kata Yulistyo.