Berjayanya Symbian Operating System yang dipelopori oleh telepon selular merek Nokia menjadi catatan yang bersejarah dalam dunia telekomunikasi. Empat belas tahun menjadi raja pasar ponsel genggam, rupanya berhasil digeser oleh ‘anak kemarin sore’ yang baru muncul di industry operating system.

Anak itu berlari cepat, mengejar para pendahulunya yang sudah membangun kerajaan bisnisnya belasan tahun. Merasa sudah besar dengan jaringan bisnis yang luas di belahan bumi, sang pendahulu menjadi jumawa dan lupa diri, sehingga sang ‘anak kemarin sore’ berhasil mendahului bahkan meruntuhkan kerajaan bisnis yang sudah susah payah dirintis oleh Symbian.

Anak kemarin sore itu bernama Android, sebuah Operating System yang didirikan oleh Andy Rubin bersama Rich Miner, Nick Sears dan Chris White. Awalnya Andy dan tim ingin menggunakannya di ranah kamera digital.

Karena pasar untuk perangkat ponsel pintar masih terbuka lebar, Rubin dan temannya memantapkan diri untuk membuka pasar di ponsel pintar. Head to head dengan pendahulunya Symbian.

Dalam perjalannya, tidak semulus yang dibayangkan, untuk mengembangkan bisnis, Rubin kehabisan modal dan terpaksa harus meminjam uang sebesar US$ 10 ribu kepada teman dekatnya, Steve Perlman sang pengusaha yang dikenal sebagai pengembang aplikasi multimedia QuickTime. Secara diam-diam Rubin terus bergerilya mengembangkan Android hingga matang.

Selang dua tahun dari perintisan Android, Google melirik inovasi Rubin dan teman-temannya. Tepatnya pada bulan Agustus 2005, Google membeli perusahaan yang Rubin dirikan dan menjadikannya bagian dari Google.

Meski sudah tercium akuisisi tersebut, namun Google masih merahasiakan inovasi yang tengah dikembangkan kepada public. Sampai pada waktunya tiba, pada tahun 2007 secara resmi Google meluncurkan Operating System baru yang revolusioner.

Peluncuran itu, bersamaan dengan dibentuknya Open Handset Alliance (OHA). Sebuah konsorsium yang terdiri dari berbagai perusahaan handware, software dan telekomunikasi yang bermarkas di Sillicon Valley Amerika Serikat.

OHA didirikan dengan tujan untuk mengembangkan standar terbuka bagi perangkat seluler. Saat itu, Android diresmikan sebagai produk pertamanya dan kemudian meluncurkan HTC Dream sebagai telepon seluler komersial pertama dengan sistem operasi Android pada tahun 2008.

Dengan hadirnya Android secara resmi, perlahan tapi pasti masa depan Symbian mulai meredup. Apalagi dengan hadirnya ponsel pintar besutan Apple Inc dengan iPhone OS (iOS). Pasar mulai beralih ke kedua ‘anak kemarin sore’ yang baru hadir.

Sebagai pengguna setia perangkat Symbian, Nokia hilang kendali. Bahtera perusahaannya mulai goyang, hingga pada akhirnya pada September 2013, dengan penuh penyesalan dan isak tangis manajemennya. Kerajaan ponsel genggam merek Nokia runtuh, beruntung masih ada Microsoft yang bersedia membelinya seharga US$ 7.17 miliar.

“We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost,” kata Stephen Elop CEO Nokia saat pembelian saham Nokia oleh Microsoft.

sumber