Fabana.id – Mohammad Hatta bersama Bung Sukarno adalah dwi tunggal, dua insan satu nafas yang tak terpisahkan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Jika Bung Karno merupakan pemimpin kharismatik dan berapi-api, maka Bung Hatta sedikit lebih ‘kalem’. Saat Bung Karno berorasi meledak membius khalayak, maka Bung Hatta menulis gagasannya dalam buku.

Saat diasingkan ke Digul dan Kepulauan Banda medio 1934, ia menghabiskan banyak waktu membaca dan menulis di majalah dan suratkabar di Jakarta, hingga Medan. Sambil pula ia mengajar anak-anak di Banda yang memanggilnya dengan sebutan ‘Om Kacamata’. Harta yang pertama dibawanya ke pengasingan adalah koleksi buku yang berpeti-peti itu.

“Aku rela dipenjara di mana saja asalkan ada buku. Karena dengan buku aku bebas,” demikian bunyi ujarannya yang terkenal.

Meski gaungnya tidak  se’gemuruh’ Bung Karno, peran Bung Hatta tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangannya melalui meja diplomasi dan menanamkan pemikiran kebangsaan pada pemuda Indonesia berperan penting dalam berdirinya Republik ini. Beliau juga menancapkan pilar-pilar pembangunan dan ekonomi bangsa yang baru lahir tersebut.

Saking seriusnya dalam pergerakan, sampai-sampai ia rela menunda pernikahannya. Bukan sekadar menunda, tapi sampai berjanji bahwa dirinya tidak akan melepas masa lajang hingga Indonesia bebas dari belenggu penjajah.

Akhirnya di usia 43 tahun ia mempersunting pujaan hatinya, Rahmi putri keluarga Rachim, 18 November 1955 di Bogor. Mas kawinnya pun istimewa, buku yang ditulisnya saat meringkuk di pengasingan yang berjudul “Alam Pikiran Yunani”.

Bung Hatta Menikah

Bung Hatta dan Ibu Rahmi.
Foto: Repro ‘Mohammad Hatta, Hati Nurani karya Deliar Noer, Historia.id.

Ibu Rahmi yang lebih muda 24 tahun dibanding suaminya itu menyebut bahwa kecintaannya kepada buku sebanding cinta terhadap keluarga.

“Istri Bung Hatta itu ada tiga dan sama-sama dicintainya: tikar sembahyang, buku-buku, dan saya”, ujar Ibu Rahmi dalam sebuah wawancara dengan Majalah Haji, tak lama setelah Bung Hatta berpulang ke haribaan Ilahi. Tikar sembahyang yang dimaksud Ibu Rahmi dapat disandingkan dengan sajadah di masa kini.

Meski terkenal sebagai tokoh nasionalis, tak banyak yang tahu bahwa Bung Hatta begitu religius. “Sholat itu nafas, darah dagingnya. Beberapa minggu sebelum wafat, ia masih shalat Jumat di Masjid Matraman, sambil dipapah. Bung Hatta sudah yatim sedari kecil. Sebab itu ia merasa shalat sebagai orang tuanya,” lanjutnya lagi.

Cinta yang besar kepada buku membuat Ibu Rahmi mungkin merasa agak cemburu. Saat masa kritis revolusi kemerdekaan 1948, Bung Hatta masih sempat memikirkan koleksi bukunya, alih-alih mencurahkan semua sayangnya pada sang istri.

“Bayangkan, saat jadi tahanan Belanda di Bangka, dalam surat-suratnya Bung Hatta selalu menanyakan apakah bukunya dipelihara dengan baik,” di tahun itu Bung Hatta bersama sohibnya Bung Karno memang kembali dibuang.

Buku tak pernah absen dari tas kerjanya ke mana pun pergi. Sekretaris pribadinya Iding Wangsa Widjaja menceritakan bahwa semasa menjabat sebagai wakil presiden ia selalu menyisihkan waktu membaca selama satu jam sebelum ngantor dan sebelum tidur. Kebiasaan ini terus dibawa bahkan hingga ia mundur dari jabatan.

Tulisan ini terinspirasi dari kumpulan cuitan akun  Twitter @potretlawas, dirangkum dari berbagai sumber.

 

Foto utama: Repro buku ‘Mohammad Hatta: Politik, Kebangsaan, Ekonomi’.