Meski tidak menyatakan dalam visi-misi di setiap lembaga. Namun korelasi yang dapat dibaca secara tersirat adalah menjadi wadah yang menampung berbagai kapasitas sumber daya manusia di Indonesia untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila secara komprehensif.

FABANA.id-Jakarta. Setelah menyelesaikan jabatan sebagai presiden di Republik Indonesia, semua mantan Presiden berlomba-lomba mendirikan lembaga wadah pemikir (think thank) yang sesuai dengan personal branding masing-masing presiden.

Tidak hanya sebagai lembaga kajian/riset sesuai dengan visi-misinya. Lembaga yang namanya diambil dari masing-masing Presiden itu juga memiliki muatan aspek pendidikan cukup kental. Rangkaian seminar, riset/penelitian hingga pendirian lembaga pendidikan formal adalah diantara muatan pendidikan yang bisa dirasakan.

Meski tidak menyatakan dalam visi-misi di setiap lembaga. Namun korelasi yang dapat dibaca secara tersirat adalah menjadi wadah yang menampung berbagai kapasitas sumber daya manusia di Indonesia untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila secara komprehensif.

Berikut rangkaian institut besutan para mantan Presiden RI beserta lembaga pendidikan formal yang ikut andil secara nyata dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang diharapkan dapat bersaing dengan bangsa lain:

Yayasan Pendidikan Soekarno

Dalam lamam resminya, Yayasan Pendidikan Soekarno didirikan pada 27 September 1981 oleh Rachmawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati. Yayasan ini dibentuk atas dasar pengabdian Rachmawati di dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam kerangka pembangunan karakter dan jiwa bangsa (nation and character building) sebagaimana yang dicetuskan oleh Bung Karno.

Diawal pembentukan, Yayasan Pendidikan Soekarno berlokasi di rumah peninggalan Ibu Fatmawati Soekarno Jl. Cilandak V/10, Jakarta Selatan. Dua tahun kemudian, pada tahun 1983, melalui Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati mendirikan sebuah perguruan tinggi dengan nama Institut Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Bung Karno.

Selanjutnya, menyesuaikan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku maka nama tersebut diganti menjadi Universitas Bung Karno – sesuai dengan Keputusan Ketua Umum Yayasan nomor: 279/YPS/VIII/1983. Selain mendirikan Universitas Bung Karno, Yayasan Pendidikan Soekarno juga mendirikan sekolah-sekolah seperti SMA Nasional di Klaten, Semarang dan Boyolali. TK Rachmawati di Boyolali dan TK Sarinah di Jakarta, Cibubur dan Klaten, Indonesia.

Yayasan Supersemar

Dalam rangka membantu dunia pendidikan di Indonesia, pada 16 Mei 1974. Presiden Kedua RI HM Soeharto mendirikan Yayasan Supersemar. Lewat yayasan ini, Soeharto memberikan beasiswa kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.

Di era Orde Baru Yayasan Supersemar sangat populer. Sebuah kebanggaan bagi pelajar atau mahasiswa yang bisa mencicipi dana dari yayasan besutan keluarga Cendana tersebut. Pada tahun 2007, yayasan ini dan Soeharto digugat Kejaksaan Agung karena diduga telah menyalahgunakan dana donasi dari pemerintah yang besarnya mencapai 1,5 triliun rupiah. Mahkamah Agung memvonis ahli waris Soeharto harus mengembalikan penyelewengan dana beasiswa Supersemar sebesar Rp 4,4 triliun jika dikurs dengan dollar saat ini.

Beberapa nama tokoh yang menjadi key person pada bidangnya masing-masing di negeri ini juga pernah mendapat beasiswa Supersemar. Diantaranya: Said Didu-Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi-Mahfud MD, Imam Besar Masjid Istiqlal-Nasaruddin Umar, Mantan Mendikbud-Moh Nuh, pakar fisika dan matematika-Johanes Surya, Marwah Daud Ibrahim-Anggota ICMI, Peneliti LIPI Indria Samego, mantan Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro, Sekretaris Kabinet Jokowi Pramono Anung.

Dan kabarnya 70% rektor perguruan tinggi di Indonesia termasuk Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra dan Komarudin Hidayat. Dan 500 guru besar serta ribuan doktor, sebagaimana yang dikutip dari Antarwanews.com yang dijelaskan dalam buku Tokoh-tokoh inspiratif KMA PBS (Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar).

The Habibie Center

Bertepatan pada hari Pahlawan tahun 1998, Presiden RI ketiga BJ Habibie mendirikan The Habibie Center (THC). Ada dua misi THC, yakni: pertama, untuk menciptakan masyarakat demokratis secara kultural dan struktural yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta mengkaji dan mengangkat isu-isu perkembangan demokrasi dan hak asasi manusia. Dan kedua untuk memajukan pengelolaan sumber daya manusia dan usaha sosialisasi teknologi.

Kegiatan yang diselenggarakan meliputi seminar, pemberian beasiswa di dalam dan luar negeri, pemberian Anugerah Habibie (Habibie Award), dan diskusi dengan topik yang berkaitan dengan bidang sumber daya manusia pada umumnya, maupun yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagi Habibie, Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) tidak diartikan sebagai teknologi semata, namun diartikan sebagai ilmu dalam arti luas, yaitu ilmu dasar, kedokteran dan bioteknologi, rekayasa, sosial, politik, ekonomi, hukum, filsafat, agama, serta budaya.

Selain THC, BJ Habibie juga mendirikan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Sebua wadah yang terdiri dari 1.500 lulusan SMA yang mendapatkan Program Beasiswa Habibie selama periode 1982-1996 di berbagai negara maju. Seperti Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belanda, Australia, Jepang, Kanada, dan Austria.

IABIE lahir saat Habibie masih menjabat sebagai Menteri Riset, untuk memperkuat lembaga-lembaga di bawah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan Badan Pengelolaan Industri Strategis (BPIS). Kini, beasiswa tersebut telah berhasil mengirim ribuan penerima beasiswa untuk meningkatkan kemampuan Bangsa Indonesia dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Setelah 20 tahun kemudian, pada 2 Agustus 2013 dilakukan deklarasi berdirinya IABIE oleh perwakilan dari masing-masing negara Alumni tujuan beasiswa.

The Wahid Institute

Didirikan oleh Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Dr. Gregorius James Barton, Yenny Zannuba Wahid, dan Ahmad Suaedy. Berdiri sejak 7 September 2004, the Wahid Institute (WI) adalah lembaga yang berusaha mewujudkan prinsip dan cita-cita intelektual Gus Dur dalam membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum muslim di Indonesia dan seluruh dunia.

“Tujuan The Wahid Institute sejalan dengan visi Gus Dur, yaitu membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim Indonesia,” kata Yenny Wahid dalam acara peresmian The Wahid Institute yang diselenggarakan di ballroom Hotel Four Seasons, Jakarta. (7/9/2004).

Dalam berbagai programnya, WI menggelar kegiatan di lingkungan aktivis muslim progresif dan dialog-dialog di antara pemimpin agama-agama dan tokoh-tokoh politik di dunia Islam dan Barat. Selain itu, WI juga berperan aktif dalam mengkampanyekan pemikiran Islam yang menghargai pluralitas dan demokrasi. Beasiswa, penghargaan bagi ilmuan, pemberdayaan akar rumput dan riset juga tidak lepas dari program Wahid Institute.

Megawati Institute

Megawati Institute adalah lembaga nonprofit didirikan oleh Megawati Sukarnoputri sebagai think tank yang fokus pada ideologi kerja Pancasila (1 Juni 1945). Megawati Institute berperan sebagai lembaga yang merangkul pemikiran kaum cendekiawan, baik yang terafiliasi dengan PDI Perjuangan maupun kelompok cendekiawan independen.

Salah satu sosok non politisi yang masuk dalam kepengurusan Megawati Institute adalah Musdah Mulia. Seperti dikabarkan oleh Detik.com (9/10/2013), Musdah adalah aktivis perempuan, dosen, peneliti, penulis di bidang keagamaan di Indonesia yang dipercaya oleh Megawati sebagai pemimpin Megawati Institute.

Adapun visi dari Megawati Institute adalah: Membumikan nilai-nilai Pancasila (1 Juni 1945) sebagai ideologi bangsa dalam  berbagai dimensi kehidupan masyarakat Indonesia. Sedangkan misinya adalah untuk menerjemahkan ideologi Pancasila (1 Juni 1945) menjadi ideologi kerja (working ideology).

Dan Merangkul kaum cendekiawan nasionalis. Menghasilkan rekomendasi yang aplikatif untuk penyelesaian persoalan bangsa dengan parameter berbasis pada nilai-nilai akademis.

Untuk mencapai visi misi tersebut, rangkaian kegiatan dijalankan diantaranya adalah dengan mengadakan diskusi, mempublikasi jurnal dan buku, serta mendirikan Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa.

The Yudhoyono Institute

Baru diresmikan pada 10 Agustus 2017. Nama Yudhoyono diambil dari keluarga Presiden RI keenam Soesilo Bambang Yudhoyono. Sebagai pemimpin lembaga, anak sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono didapuk sebagai Pemimpin Lembaga.

Dengan slogan ‘Liberty, Prosperity dan Sucurity’ The Yudhoyono Institute didirikan dengan semangat untuk menjadi sebuah lembaga kajian yang focus membedah isu-isu strategis regional, nasional dan global.

Rencannya, aktivitas yang akan dijalankan meliputi  Sekolah Manjemen dan Kepemimpinan, kerjasama dengan lembaga kajian lain di Asia Pasifik serta publikasi. Mengutip dari Tirto.id, menurut Chief Communication Office TYI Ni Luh Putu Caosa Indryani. Majalah Strategi merupakan produk pertama yang diluncurkan TYI. Di edisi perdananya, majalah ini mengangkat tema Menuju Indonesia Emas 2045.

Sejumlah tokoh menteri era SBY juga dikabarkan menjadi bagian dari pengurus TYI. Sementara, untuk mendukung kelangsungan organisasi, ada tiga struktur pengurus yang menopang TYI. Ada board of trusteeexecutive director, dan panel of experts. AHY memegang komando executive director membawahkan tiga divisi: Program & PublicationCorporat Affairs, dan Digital Media & Strategy. Jabatan kepala Corporat Affairs dipegang oleh Mira Permatasari. Rony Hutayan memimpin divisi Program & Publication, sedangkan Yoyok Budianto mengepalai divisi Digital Media & Strategy.

 

Foto: Antarafoto