Tulisan ini pernah saya publish di Shakaro.or.id pada 20 September 2016 lalu. Sesuai arahan dari redaksi Fabana.id, saya kembali mengupas soal Imunisasi. Selengkapnya..

Vaksin ImunisasiPencemaran udara, penyebaran virus di lingkungan sekitar adalah alasan diwajibkannya program imunisasi kepada setiap bayi yang lahir di bumi. Siapa saja, tak terkecuali pria-wanita, kaya-miskin wajib mendapatkan asupan anti virus ke dalam tubuhnya. Bahkan seorang bidan mengingatkan jika bayi yang lahir tidak diberi vaksin, akan terancam tidak masuk di sekolah negeri di bumi pertiwi.

Tidak lama setelah bidan itu mengingatkan, muncul berita vaksin palsu yang cukup menghebohkan seluruh penghuni Nusantara. Beberapa orang tua protes dan meminta pertanggung jawaban pihak Rumah Sakit yang ternyata vaksin dikonsumsi anaknya itu palsu. Netizen juga tidak mau tertinggal, hujatan dan hinaan dilayangkan kepada para oknum penyebar vaksin palsu.

Mungkin, karena pemberitaan vaksin palsu kurang ada value addednya, wal hasil, penelusuran dan pengembangan vaksin palsu kalah rating dengan kopi sianida. Masyarakatpun perlahan mulai melupakan bahkan cuek dengan vaksin palsu. Sebagaimana kasus bank Century yang kini perkaranya lari entah kemana.

Dari berbagai pendekatan dan kajian oleh para pakar. Setidaknya konsumsi vaksin bagi tubuh bayi terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama berpendapat vaksin bayi disarankan dan kubu kedua menghindari pemakaian vaksin untuk bayi. Perbedaan itu tidak selama berbeda, meski berbeda kesimpulan namun para pakar itu bersuara sama terhadap asupan utama bagi bayi. Yaitu, Air Susu Ibu (ASI).

Mereka tidak menolak bahkan menyarankan hingga mewajibkan, para Ibu untuk memberikan ASI kepada anaknya. Karena memang terbukti sejak zaman para Nabi, ASI tidak hanya mengenyangkan bayi, tapi juga menambah asupan gizi, melancarkan pertumbuhan bayi, menguatkan mental bayi, mencerdaskan pikiran bayi bahkan menangkal berbagai virus yang akan masuk dalam tubuh bayi.

Karena itu, ASI adalah sebenar-benarnya imun bagi bayi (Imuniasi). Kapasitas dan jumlah ASI sangat tergantung dari perjuangan Ibu memproduksi ASI, jangan lupa juga dukungan mental, spiritual dan materi dari keluarga juga turut andil menghasilkan ASI yang berkualitas.

ASI saja tidak cukup bagi perkembangan mental, emosional, intelektual dan spiritual bayi. Jika tidak diberikan dengan cara menyusui. Memberi ASI layaknya memberi susu formula sangat berbeda jauh dengan menyusui. Sentuhan batin sang ibu dan anak akan semakin kuat jika terbiasa menyusui.

Namun, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mayoritas Ibu di kota besar hanya mampu memberikan ASI, belum sampai pada menyusui. Bahkan dalam beberapa kasus, Ibu lebih memilih susu formula dari pada susunya sendiri untuk konsumsi bayi. Apapun itu bentuk keterbatasannya, perjuangkan bersama keluarga untuk menyusui bayi walau hanya sebentar saja.

Foto: Kuwaittimes