sumber: pmap.co

sumber: pmap.co

Cuplikan tulisan pertama

Sebagaimana seseorang akan bersih jika ia rutin berwudhu (bersuci dari hadas kecil), kendatipun ia bukan muslim. Demikian pula ia akan meraih kebaikan jika ia praktekkan prilaku-prilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, karena ia mengoperasikan pusat-puast yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak yang bekerja untuk rileksasi dan terlepas dari perasaan-perasaan negatif seperti ketakutan, kegelisahan, dan stress. Saat itulah seseorang berpindah dari kondisi keterasingan dan kesendirian kepada kondisi rileks dan tenang, kendatipun ia tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah).

Demikianlah bahwa tenggelam dalam ibadah membuka cakrawala perasaan ketinggian dan memberikan bantuan untuk terlepas dari berbagai kepediahan dan tekanan jiwa serta kesembuhan dari berbagai kegoncangan seperti kegelisahan, stress, depresi dengan berbagai efek fisik lainnya.

Pelaksanaan ibadah secara teratur akan memperbaharui kemampuan untuk pindah ke alam jiwa yang tenang di dalamnya dan terhindar dari tekanan-tekanan. Dalam kondisi seperti itu, seseorang tidak lagi concern terhadap alam luar (lahiriah yang menekan di sekitarnya). Barang kali dalam tingkat tertentu, kekuatannya akan bertambah untuk menanggung beban kepedihan anggota fisik, seperti yang dikatakan DR. Lawrence Mickeny, Direktur Lembaga Amerika Untuk Pengobatan Kegoncangan Otak, bahwa melaksanakan perenungan yang mendalam sampai khusyuk dapat menolong mengalahkan rasa kepedihan jiwa dan perasaan down, dan mampu mengembalikan keseimbangan dalam mendistribusikan aktivitas pada pusat-pusat otak serta dapat mengosongkan wadah perasaan celaka (bahaya) dan kehilangan harapan kendati bagi mereka yang tidak beriman kepada Tuhan sekalipun.

Apa yang menjadi concern kita sebagai Muslim ialah bahwa Syariat Islam yang suci ini telah mendahului penemuan-penemuan tersebut lebih dari 14 abad dalam hal memotivasi untuk zikir kepada Allah dengan menegakkan shalat. Islam juga telah menyanjung peran iman dan khuysuk dalam merileksasi jiwa. Allah berfirman, ”Orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan hati mereka tenang dengan dzikrullah (mengingat Allah). Ingatlah! Dengan mengingat Allah itu hati akan tenang. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, keberuntunganlah bagi mereka dan bagi mereka sebaik-sebaik tempat kembali (Syurga)” (Q.S. Arra’du / 13 : 28 – 29)

Sebuah penelitian di Amerika menyatakan bahwa seseorang yang berjiwa pesimis dapat membinasakan dirinya, terutama bagi seorang yang mengidap penyakit jantung. Dalam penelitian menunjukkan adanya tingkat kerentanan bagi pengidap penyakit jantung yang berakibat pada kematian, terutama pada saat terjadi sikap pesimis yang memberikan pengaruh pada kondisi kesehatan jantungnya.

Dr. John Barefoot dari Pusat Medis Universitas Duke of America berkata, “Ini adalah penelitian awal yang menguji seberapa besar pengaruh motivasi terhadap pasien dalam kesembuhan penyakitnya, yang akhirnya mempengaruhi peluang mereka untuk bertahan hidup.” Pada penelitian sebelumnya difokuskan pada dampak harapan pasien terutama yang berhubungan dengan kondisi penyakitnya, kemampuannya untuk melanjutkan hidup secara normal, dan secara khusus yang berkaitan dengan aktivitas dan latihan fisik. Namun sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa pengaruh sikap optimisme seorang pasien pada kesehatan fisiknya sangatlah besar.

Para peneliti dari Duke University of America melakukan penelitian terhadap 2800 pasien yang menderita sakit arteri koroner, setidaknya, setiap mereka menderita penyumbatan pada arteri. Dan pada kesempatan itu,  para pasien diminta untuk mengisi kuesioner untuk mengukur ekspektasi mereka tentang kemampuan mereka untuk pulih dari penyakit dan pola pemulihan kehidupan normal. Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa 978 pasien meninggal dalam kurun waktu 6-10 tahun sejak dimulainya penelitian ini. Hal ini mengungkapkan bahwa 66% penyebab kematian mereka adalah karena penyakit arteri koroner. Hasil studi ini menyebutkan adanya tingkat kematian terhadap pasien yang menunjukkan sikap pesimis terhadap kesehatan mereka, yaitu dua kali lipat dibandingkan dengan pasien lain.

Menurut sudut pandang peneliti; adalah sesuatu yang wajar jika terjadi hubungan antara depresi dengan meningkatnya angka kematian pada seseorang, walaupun hasil temuan saat ini menunjukkan besarnya dampak harapan pasien pada pemulihan dan kesahatan dari penyakitnya, meskipun ada faktor-faktor psikologis atau sosial lainnya. Dr. Barefoot menegaskan bahwa penelitian ini memberikan nasihat kepada para dokter akan pentingnya memberikan perhatian khusus terhadap sudut pandang dan pola fikir pasien tentang penyakitnya, karena hal ini akan berdampak pada pemulihan. Sebagaimana dijelaskan bahwa pasien yang memiliki harapan positif (optimis) terhadap penyakitnya, tidak hanya akan memperbaiki perasaannya saja, namun juga dapat memberikan harapan untuk hidup lebih lama. Wallahu a’lam.

Oleh: Ahmad Ghazali Fadli*

Penulis adalah kontributor Fabana.id, penemu metode pelatihan al-Quran Burhany dan Ma’any dan pengasuh Pondok Pesantren Bumi Quran, Wonosobo.