FABANA.id – Secara alamiah manusia terlahir sebagai “Homo Faber” yaitu makhluk yang membuat peralatan. Karakteristik dari homo Faber adalah kemampuan individu untuk membangun hubungan antara pengetahuan teoritis dengan wawasan yang bersifat praktis.

Kedudukan manusia sebagai homo faber adalah proses berkemajuan untuk mencapai standar hidup yang lebih baik. Karena manusia tidak dapat hidup hanya dengan bertahan pada kedudukan sebagai homo sapiens atau makhluk yang berfikir.

Manusia harus melahirkan tindakan, sikap dan penyelesaian dari konsep berfikir yang sudah dibangun, lalu dihadirkan dalam dunia nyata. Sehingga pengetahuan yang bersifat abstrak di alam pikiran dapat terbentuk dan nampak bagi manusia lainnya sebagai salah satu manisfestasi dari berkembangnya pengetahuan.

Kemampuan alamiah manusia tersebut mampu memberikan jawaban atas berbagai permasalahan hidup yang dihadapi, secara otomatis manusia akan mencari solusi dan jalan Keluar, dengan mengembangkan pengetahuan dasar yang sudah terbentuk secara empiris, lalu selanjutnya akan diwujudkan lewat sikap dan tindakan nyata.

Pada segmentasi pertama, manusia bekerja sebagai makhluk yang berfikir, yaitu mengerahkan segenap kemampuan untuk mengenali, memahani dan menganalisa suatu masalah, hingga terbentuk strategi penyelesaian. Manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam proses berfikir, ada yang mencapai titik penyelesaian dengan cepat, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama.

Tahapan kedua, manusia mengakomodir teori yang sudah terbentuk untuk menjadi output, berupa tindakan dan hasil. Pada segmen ini diperlukan ketepatan dalam penerapan, bagaimana objek berfikir yang abstrak bersinergi dengan proses nyata. Tahapan ini merupakan realization phase (tahap pembuktian).

Dua kedudukan tersebut memperjelas eksistensi manusia di lingkungannya. Bahwa manusia adalah makhluk yang peka terhadap solusi hidup, baik yang bersifat sosial maupun tekhnologi. Jika kita melihat ke masa lalu, ketika peradaban manusia masih belum maju seperti saat ini, bagaimana mereka berfikir untuk menyelesaikan masalah dan menjawab kebutuhan hidup. Misalnya, ketika manusia membutuhkan cahaya penerang di malam hari, mereka berfikir dan berusaha menemukan solusinya secara naluriah, dengan mengeksplorasi pengalaman empiris yang sudah terbentuk.

Hubungan Positif dalam Perspektif Psikologi dan Kesehatan

Pada akhirnya mereka menemukan api sebagai alat penerang setelah melalui proses berfikir dan memainkan peran sebagai homo faber. Penemuan ini terus berkembang berdasarkan fungsinya, yaitu api untuk memasak, api untuk mengusir hewan buas, dan api untuk memberikan isyarat.

Manusia akan cepat tanggap dalam  mengambil sikap bila menghadapi persoalan hidup. Tanpa ada perintah dan intervensi dari orang lain. Kesadaran itu secara otomatis akan aktif. Walaupun terkadang ada masalah yang tidak dapat dipecahkan sendiri, perlu pemikiran dari orang lain, namun bukan berarti masalah itu tidak diproses terlebih dahulu oleh individu yang bersangkutan.

Oleh karena itu tidak ada permasalahan hidup yang tidak menemukan penyelesaian. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan pakem yang akurat dan sistematis. Yaitu hubungan erat antara homo sapiens dengan homo faber, yang bekerja secara harmonis dalam diri tiap individu.

Hanya saja, terkadang kepanikan menjadi tekanan psikologis, membuat manusia menjadi lupa akan kemampuan yang sudah dianugerahkan, menjadi gagap dan bingung, yang ada dalam pikiran hanya jalan buntu dan keputusasaan.

 

Oleh: Taufik Uzumaky, founder Planet English Course, Tabalong,Kalimantan Selatan

 

Foto: cloudfront.net