Fakhruddin Al Razi di Laboratorium

Al Razi di Laboratorium

Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, pada masa keemasan, Al Qur’an punya peran yang sangat sentral dalam peradaban Islam. Wajarlah kalau pendidikan Islam berkisar di seputar kitab suci yang dipandang sebagai basis bagi semua pengetahun,” ujar guru besar untuk bidang Agama dan Hubungan Internasional serta guru besar untuk bidang Studi Islam di Universitas Georgetown. Menurut dia, pada usia enam tahun, seorang anak di zaman kejayaan Islam sudah mulai bersekolah. Kesibukan utamanya adalah menghafal Al Qur’an sesempurna mungkin.

Selain itu, anak-anak juga diajarkan cara untuk menulis 99 nama Allah atau al-asma al-husna. Anak-anak Muslim di masa kekhalifahan pun mulai diperkenalkan dengan tulisan ayat-ayat Al Qur’an yang sederhana. Setelah mahir membaca dan menulis, mereka diajarkan Al Qur’an ditambah pelajaran berhitung atau aritmatika.

Menurut Esposito, teknik utama belajar Al Qur’an pada waktu itu berupa pengulangan, siswa menirukan guru. Mereka mengulang satu bagian Al Qur’an sampai benar-benar hafal,” tuturnya. Tujuan utama PAUD pada waktu itu adalah mencetak siswa menjadi Muslim yang baik. Salah satunya adalah dapat membaca, menghafal, serta mulai memahami Al Qur’an.

Tak heran jika para ilmuwan Muslim terkemuka di era kejayaan Islam kebanyakan telah hafal Al Qur’an sejak usia dini. Ibnu Sina, yang dikenal memiliki kepintaran dan daya ingat yang luar biasa sejak usia dini, telah dikenalkan dengan ilmu Al Qur’an. Dokter yang dikenal di dunia barat dengan sebutan Avicienna ini sudah mampu menghafal Al Qur’an pada usia 5 tahun.

Begitu pula para ilmuwan lain seperti Ibnu Khaldun (Sosiologi), Ibnu Rusydi (Filsafat), Al Khawarizmi (Matematika) dan Al Biruni (Fisika) mereka juga menghafal Al Qur’an terlebih dahulu sebelum meneruskan karir akademis mereka. Bahkan Fakhruddin Al Razi, pakar Astronomi, Kimia dan Kedokteran merupakan seorang pakar tafsir Al Qur’an yang terkenal dengan karyanya Tafsir Al Kabir.

Dengan diperkenalkan Al Qur’an dan nilai-nilai Islam sejak dini, para ilmuwan Muslim di era keemasan tak hanya menguasai sains, tapi juga memiliki basis ilmu agama yang kokoh. Pengembangan ilmu pengetahuan, sains, bahkan seni selalu diwarnai oleh nilai-nilai keislaman, sehingga wahyu berperan sebagai pemandu ilmu.

Sumber: Republika