Siapapun harus hidup dengan disiplin jika ingin bermanfaat. Siapapun harus berdisplin untuk hidup produktif. Untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain. Untuk bisa memancarakan kebahagiaan bagi orang lain. Dan menjadi manusia paling terbaik.

Kemarin ketika peneriman santri baru, KH Hasan Abdullah Sahal banyak sekali menyinggung tentang nizham (Disiplin) muntazham (orang yg berdisplin) munazzham (Yang terkena hukum dispilin) dan beberapa istilah lain kepada santri dan walinya. Sudah setiap tahun dipidatokan, sudah berkali-kali santri yang kena pelanggaran dispilin dihukum, sudah berulang ulang juga kasus pelanggaran apapun alsannya tanpa pandang bulu diperlihatkan, tapi para santri dan wali santri banyak juga yang terkejut mendengar penuturan Kyai Hasan di atas.

Displin di Pesantren Gontor adalah Ruh. Meliputi siapapun. Santri, wali santri, guru, keluarga guru, Kyai dan keluarganya. Semuanya terikat disiplin. Semuanya terkena disiplin ini. Kyai sekalipun, meskipun malam baru dari luar negeri, baru datang di kampus pukul 06.30 pagi, tapi harus memberikan sambutan pada acara pembekalan kelas enam, maka beliau akan datang. Harus datang. Tidak boleh tidak. Ini sunnah, ini aturan, ini ruh.

Jangan pernah melanggar, atau anda akan tergilas oleh Gontor. Ini yang beluam banyak disadari oleh santri dan walinya. Bahkan putera Kyai sendiri, pernah melanggar aturan sewaktu jadi santri di Gontor, maka langsung dihukum, dipindahkan ke pondok di Sulawesi, jauh dari orang tuanya. Bahkan ketika sang Ibu menangisi kepergian puteranya, sang Kyai tetap bergeming. Biar ini jadi pelajaran buat yang lain, bahwa dispilin di Gontor tidak pernah pandang bulu.

Kalau anda pulang dari liburan di Gontor. Meskipun di rumah ada yang meninggal sehingga keberangkatan anda tertunda, atau meskipun orang tua anda akan berangkat umrah dan berangkat pada malam 10 Syawwal, atau kakak anda menikah pada tanggal 11 Syawwal, tapi anda datang pada pukul 12 malam lebih satu menit.. .maka siapkan anda akan berhadapan dengan hukuman botak di Gontor. Tidak main-main, tidak pandang bulu, tidak ada yang tidak taat aturan.

Kalau ada kader (guru Gontor) yang menikah lalu terlambat menggelar resepsinya, maka jangan harap pak Kyai akan menghadirinya. Andai ada acara di Gontor yang molor, maka bersiaplah akan dibatalkan acara itu oleh pak Kyai, meskipun acara itu sebesar pentas kolosal Panggung Gembira yang biayanya ratusan juta sekalipun. Inilah displin.

Dulu ketika mejadi wali kelas enam, saya sempat mengajar pelajaran Muthala’ah dengan tema besar “disiplin” ini. Muthala’ah adalah pelajaran menelaah cerita dalam Bahasa Arab agar menguasai kosakata, struktur dan gaya bahasanya.

Saya lupa judul ceritanya apa. Di situ saya memberikan analogi berupa kehidupan ayan dan kucing. Ayam yang hidupnya berdispilin. Bangun paling pagi, cari makan paling pagi, paling rajin mengais Rejeki, setelah bekerja keras seharian. Ketika malam tiba, Ayam akan seger pulang kandang lalu tidur. Tidak peduli nanti malam ada orkes dangdut, ada wayang kulit, ada sinetron top, ayam akan tetap tidur. Karena dia sadar, esok hari dia harus bangun paling pagi, lalu membangunkan yang lain untuk bangun juga.

Maka lihatlah hasilnya. Berapa banyak ayam disemebelih setiap hari? Berapa banyak telor ayam kita goreng, dadar, kita buat campuran kue, kita rebus setiap harinya. Tapi pernahkah kita temukan bahwa ayam adalah binatang langka di dunia ini? Tidak. Dia adalah binatang priduktif yang memberikan apa yang dia punya untuk kebahagiaan pihak lain. Tapi karena dia berdispilin, maka hidupnya bermanfaat, dan selalu bisa meningatkan prpoduktifitasnya.

Beda dengan kucing. Malam hari dia masih keliaran cari rejeki. Tidurnya sembarangan. Tidai pernah disiplin waktu. Tidak pernah displin makan. Apalagi displin tidur. Maka meskipun hampir tidak ada orang yang makan kucing, jarang ada orang yang bunuh kucing, tapi kucing bahkan pernah jadi binatang langka. Kenapa?? Karena kucing kehilangan displin dalam hidupnya. Maka dia kehilangan priduktifitas. Dia kehilangan manfaat bagi orang lain.

Itulah Displin. Siapapun harus hidup dengan disiplin jika ingin bermanfaat. Siapapun harus berdisplin untuk hidup produktif. Untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain. Untuk bisa memancarakan kebahagiaan bagi orang lain. Dan menjadi manusia paling terbaik. Yang kata nabi adalah yang paling bermanfaat bagi orang banyak.

Gontor mangajari saya untuk itu. Gontor melatih saya. Melatih kita semua alumninya, karena tujuan Gontor adalah menjadikan kita alumninya bermanfaat bagi orang lain dan membawa manfaat bagi lingkungan.

Oleh: Oky Rachmatullah (Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, 1999)