Era modern telah merubah pemikiran orang tua sekarang hanya terfokus pada materi belaka, tak heran jika kebanyakaran dari mereka yang menyekolahkan anaknya berorientasi tentang pekerjaan yang didapat usai anak itu lulus, tak jarang pula kita mendengarkan ucapan-ucapan yang mengalir begitu saja dari para ibu-ibu kepada anakanya:

Nak pilihlah jurusan yg paling banyak menghasilkan uang…
Nak, pilihlah pekerjaan, perusahaan, tempat kerja yg menghasilkan uang banyak…
Hidupmu menjadi lebih mudah dengan uang berlimpah
Dengan banyak uang maka hidup mu bahagia

Apakah demikian ? Uraian berikut adalah rangkuman talk show radio yang disampaikan “Ayah Edy” dengan judul anak money magnit dan diungkapkan kembali pada tulisan ini oleh penulis dengan gubahan serta tambahan

Prolog tulisan ini merupakan kalimat-kalimat yg boleh jadi pernah kita dengar atau sering dijumpai di banyak keluarga di Indonesia. Hal ini tak mengherankan mengingat Indonesia ialah negara berkembang yg pernah dijajah berabad-abad lamanya.

Latar belakang kehidupan susah nan pelik tergambar pada byk keluarga Indonesia pada zaman dahulu dimana perjuangan untuk melangsungkan hidup tidaklah mudah apalagi jika tak memiliki uang. Apapun dilakukan untuk mencari uang untuk dapat menghidupi keluarga. Boleh jadi kebahagiaan utama mereka hanya bagaimana keluarga mereka dapat bertahan hidup di esok harinya. Kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan atas pilihan pribadi sangat tipis bahkan tak punya waktu untuk itu.

Maka berkembanglah pola pada “money, money, money happiness”. Uang adalah syarat utama dalam meraih kebahagiaan. Generasi zaman dahulu sangat unggul dalam semangat dan jerih payah untuk keluarga yang lebih baik serta pengorbanan dala merelakan kebahagiaan pribadi mereka.

Bagaimana dengan generasi saat ini? Apakah pola money, money, money, happiness, masih relevan?

Setiap generasi tentunya mengharapkan generasi selanjutnya menjadi lebih baik, saat ini kesempatan memperoleh pendidikan tak sesulit seperti zaman dahulu. Begitu pula lapangan pekerjaaan dan lahan wirausaha yang terbuka lebar bagi siapa saja yang mau bekerja dan bersungguh-sungguh.

Terdapat perbedaan yg bisa diamati pd kondisi pada zaman dahulu ataupun masih bisa dtmukan jg pada zaman sekarang (dalam bentuk lebih kecil). Setiap orang tua rela mengorbankan apapun bahkan semua hartanya untuk pendidikan anak, sampai-sampai menunda bepergian haji karena menganggap bahwa masa depan anak-anak lebih penting. Kemudian setiap anak juga berusaha sekuat tenaga dengan cita-cita menghajikan kedua orang tuanya setelah meraih sukses. Namun perkembangan kini, mulai banyak orang tua yang mampu berhaji dan bahkan mencukupi kebutuhan pendidikan anaknya. Oleh karena itu,  setiap anak mulai harus memikirkan bahwa mungkin mereka tak lagi wajib menghajikan kedua orang tuanya tetapi harus memikirkan nahwa mereka perlu diayomi di masa senja mereka, selalu diberi sapa, dan perhatian terutama terhadap kesehatan yg tak lagi prima seperti masa muda.

Kembali lagi ke topik anak money magnit dengan rumus “money,money,money, happiness”. Pola tersebut sebetulnya kurang relevan lagi dijadikan rumus menjadi orang sukses. Jangka waktu kesuksesan hanya semetara karena terlalu berfokus pada uang. Anak-anak pun tak terjamin kebahagiaan mereka karena pilihan meraka hanya bermuara pada sumber uang. Performa mereka tak bisa melejit hingga top level karena mereka bekerja setengah hati tanpa totalitas dan memendam keinginan serta gairah sebenarnya dalam memilih jurusan atau bidang pekerjaan.

Hal ini merupakan gaya pendidikan zaman dahulu yg tak berubah sehingga generasi mendatang sulit untuk menjadi lebih baik. Bila kita sebagai orang tua kita perlu dan wajib memantau apa yang sebenarnya menjadi interest dan bakat sesungguhnya pada anak. Selain itu, bimbingan, motivasi, dan pencereahan juga dibutuhkan anak-anak dalam menemukan jati dirinya.  Kemudian orang tua mulai berpikir :

Apakah anak mampu menemukan potensi dirinya sebenarnya?
Bagaiamana dengan anak yg hanya menyukai malas, dan terbawa arus pergaulan bebas?
Apa rumus yg lebih baik daripada “money, money, money, happiness” ?

Kita cukupkan sekian dulu dan akan disambung kembali dalam uraian tulisan berikutnya. Saran, kritik , serta dialog amat sangat diharapakan agar lebih bisa bermanfaat bagi sesama.

Ditulis oleh: Ustadz Azhar Alam