Ya, dari pada aku berlama-lama kerja rodi, mendingan aku keluar laah. Saranku sih jangan mau kalau di ajak kerja sama perusahan itu.” Ungkap Nasrullah (23), yang baru resign sebagai admin di sebuah perusahaan swasta di Malang.

FABANA.id. Begitu lulus kuliah, so pasti yang terbesit dalam pikiran kita adalah kerja. Yup. Mengenakan pakian yang rapi, beralaskan sepatu yang mengkilap dan bergenggaman smartphone ditangan. Sampai kantor, duduk manis di bawah hembusan air conditioner yang sejuk dan pastinya sudah dapat merasakan uang hasil jerih payah sendiri. Hemm, rasanya puas betul empat tahun bergelut dengan buku.

Berbicara kerja, berarti berbicara pula masalah kinerja. Nah. Untuk yang satu ini ni. Pasti banyak dari gen muda yang mengalami situasi dan kondisi kinerja yang naik turun dalam bekerja. Betul? apalagi untuk first jobber. Duh. Rasanya tu jadi campuraduk gitu ya. Kadang senang, sedih, kesel, suka, magkel, de el el sama situasi dan kondisi di tempat kerja.

Dalam momen ini, tim Redaksi Fabana bertanya dengan beberapa pekerja baru, jawaban dan kesan mereka sangat beragam looh. Pengalaman menjadi first jobber begitu indah, selanjutnya terserah kamu deeh. Hee.

Yang pertama Fabana awali dari Nasrullah, alumni Universitas Al Azhar Indonesia. Sejak pertama interview dia sangat antusias untuk masuk kerja, begitu bergabung, harapan tidak menjadi kenyataan.

“Kerjanya termasuk berat, nggak sesuai interview awal, dan perusahaan nggak mau bertanggung jawab. Tugasnya bantuin kalo ada masalah IT sama ngecek karyawan perusahaan. Aku juga senang punya teman-teman baru, dunia baru, semuanya menyenangkan. Tapi komitmen perusahaan ke karyawan tidak ada, itu yang aku sesalkan. Perusahaan cuma memikirkan keuntungan untuk diri sendiri, nggak berbagi dengan karyawan, jadi karyawan disuruh kerja kayak kerja rodi.

Ya, dari pada aku berlama-lama kerja rodi, mendingan aku keluar laah. Saranku sih jangan mau kalau di ajak kerja sama perusahan itu.” Ungkap Nasrullah (23), yang baru resign sebagai admin di sebuah perusahaan swasta di Malang.

Nggak hanya Nasrullah looh yang mengalami kegelisahan dalam bekerja, seorang fresh graduate dari Universitas Padjajaran di Bandung juga mengungkapkan akan kekesalan dirinya saat awal kali bekerja.

“Awal interview aku diminta untuk jadi penulis di situs perusahaan, berhubung aku suka nulis, ya aku iyakan saja tawarannya, meski gajinya tidak sampai angka dua juta. Tapi setelah masuk kerja, job desk yang diberikan tidak sesuai dengan awal interview. Aku diminta kerja dari pagi sampai sore, mulai sabtu sampai minggu nonstop.

Habis itu kerjanya bukan hanya menulis, tapi juga memasarkan produknya secara online. Kalo ditambah gajinya sih oke-oke saja, tapi ini mah malah jadi kaya kerja rodi. Dengan keadaan kerja seperti itu, aku hanya bertahan tidak lebih dari satu bulan.” Sesal Ratna (22), mantan karyawati sebuah klinik kesehatan yang berkantor di Darmawangsa Jakarta Selatan.

Pengalaman kerja pertama sering meninggalkan kesan negatif bagi first jobber, tapi jika ditekuni dengan sabar, akan mendapatkan kesan yang seperti dirasakan oleh Emi (24). Seorang developer di wilayah Kuningan Jakarta Selatan ini mengungkapkan pengalamannya pada Janna.

“Awalnya sih dituntut lebih untuk bekerja sama bos, tapi si bos nggak ngasih penjelasan dengan detail, aku kan jadi kurang paham, ya pasti kerjaanku jadi salah kaan. Setelah itu baru deh aku dimarahin sama bos. Belum lagi urusan customer. Kadang ada yang nyolot gitu kalo tanya atau komplen, ya aku jadi kesel dan kebawa nyolot. Kena marah lagi deeh sama bos. Tapi karena aku butuh uang kali ya, jadi aku tetap bersabar saja dengan lingkungan kerja yang ada. Hee..” Tutur jebolan Universitas Trisakti itu.

Lain lagi kisahnya dengan Faishal (25), sejak lulus dari universitas Gajah Mada Yogyakarta, doi merupakan salah satu karyawan kontraktor tambang di daerah Cawang.

“Bagiku saat memasuki dunia kerja itu ya jadi punya tanggung jawab yang lebih gitu. Kalo soal awal kerja, ya nggak tahu kenapa ya, pasti ada-ada saja hal yang buatku kurang nyaman. Dari mulai aku dianggap nggak tahu apa-apa lah, terus kurang dihargailah. Ya maklumlah, masih anak baru, hee..” Ujar Faishal.

Semangat tinggi dalam mewujudkan dedikasi optimal dengan perusahaan, sering melupakan kondisi diri pekerja itu sendiri. Benturan sana-sani adalah bagian dari bumbu pelezat dalam mengoptimalkan peran di perusahaan, semua rasa itu menjadi daya olah tersendiri dalam menciptakan sebuah karya yang terbaik bagi First jobber. Seperti kisah sarjana teknik berikut ini.

“Awal kerja aku sempet drop dan jatuh sakit. Mungkin karena belum beradaptasi kali ya, punya rutinitas baru dan pekerjaan yang benar-benar baru dari bidang yang aku pelajari di kampus. Tapi yang aku rasakan saat menjadi karyawan ya benar-benar punya kesempatan untuk bisa mengaktualisasikan diri. Pengalaman so pasti banyak. Apa lagi pengalaman pertama bertemu rekan kerja yang sangat menjengkelkan. Nggak bisa diajak kerjasama, ditambah lagi komplen dari orang tua siswa. Huh, mantap deeh.”Ungkap Hidayatunnur (23), karyawan lembaga bimbingan belajar di Jakarta.

Belum lagi urusan pribadi yang terbentur oleh persyaran di perusahaan, kadang menjadi dilema tersendiri bagi first jobber. Kayak kisah cowok jebolan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

“Tadinya aku berencana untuk menikah pasca lulus kuliah, berhubung aku ingin cari nafkah, ya sudah aku masukin deh lamaran ke beberapa perusahaan di Jakarta. Eh tahunya pas interview ada salah satu syarat untuk tidak menikah dahulu selama satu tahun. Ya, mau gimana lagi, dari pada nikah tapi belum punya nafkah, ya terpaksa aku fokusin cari nafkah dulu.hee.” Ungkap Rahman (25) karyawan sebuah perusahaan jasa di Jakarta.

Dari kisah di atas, ternyata ada juga looh Sob yang berjalan mulus. Seperti kisah cewek jebolan Undip semarang ini.

“Kalo aku sih fine-fine aja, meski aku kuliah di bidang teknik kimia, tapi sebelum masuk dunia berbankan ada training dulu dari kantor, jadi ya aku bisa beradaptasi dengan hal baru. So far sih aku bisa menjalankan pekerjaan ini dengan enjoy.” Pungkas Putri seorang teller bank di Malang.

Naaah, sekarang jadi semakin tahu kan, nggak hanya di kuliah aja yang ada kisah indahnya, jadi first jobber juga punya banyak kisahnya. Buat kamu-kamu yang mau, akan dan sudah menjadi first jobber jangan lupa ya untuk tetap menjaga kesehatan dan stamina yang prima.hee.

 

Komunikasi yang Kondusif

Dari semua kisah pengalaman first jobber ini, Heri Kuswara, ketua BSI Career Center menegaskan bahwa seorang first jobber setidaknya harus memahami: tugas/ job desk dari pekerjaannya. Karena tidak sedikit dari first jobber hanya bengang bengong di kantor, atau bingung apa yang mau dikerjakan. Yang kedua adalah interaksi dan komunikasi yang kondusif antar unit-unit yang berkaitan dengan pekerjaan. Dengan begitu, maka akan tercipta sinergi yang baik dalam bekerja.

Heri juga menambahkan bahwa seorang first jobber untuk tidak terpaku pada nilai salary. Salary itu pilihan kedua setelah suasana kerja yang kondusif. Yang penting menunjukan kontribusi dan dedikasi yang baik buat perusahaan, suatu saat akan mendapatkan salary yang layak dan sesuai dengan kinerja dan pengalamannya.

 

*Pernah dimuat juga di Majalah Janna

Foto: popcult.co.id