“Joko menendang bola”

“Bola ditendang oleh Joko”

Kalimat di atas merupakan dua jenis kalimat yang berbeda. Sepintas nampak sama secara makna, namun secara identitas sebenarnya berbeda. Pada kalimat pertama, “Joko menendang bola” memiliki peran sebagai kalimat aktif, dan pada kalimat kedua “bola ditendang oleh Joko” berberan sebagai kalimat pasif.

Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya aktif melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas, dalam kata lain kalimat aktif adalah tokoh utama yang punya kontrol penuh terhadap verb (kata kerja).

Sementara kalimat pasif adalah kebalikannya, subjek yang seharusnya pegang kendali terhadap kata kerja, malah dikenai suatu pekerjaan. Sepintas nampak seperti subjek pada kalimat aktif, namun sebenarnya dia adalah objek. Dia tidak punya power, jati dirinya sebagai subjek mengalami degradasi, posisinya lemah dan terombang ambing, kalah dengan objek yang kontras maju ke depan sebagai pemeran utama dalam kalimat.

Gaya kepemimpinan yang menyerupai pola kalimat pasif adalah mimpi buruk bagi setiap yang dipimpin. Bergerak dan bertindak tidak berdasarkan hati nurani, berucap dan berkelakar berdasarkan naskah yang sudah disetting sedemikian rupa dengan diksi yang memikat serta eksposisi yang kuat. Pemimpin yang semestinya punya otoritas sebagai subjek tidak berdaya. Bagai wayang yang digerakkan oleh dalang, meski terlihat berlakon sebagai subjek  dalam sebuah cerita, tetap saja dalanglah yang memainkan perannya, wayang hanyalah objek yang dikenai pekerjaan oleh si Dalang.

Pemimin seperti itu adalah kendaraan lintas kepentingan, hanya simbol yang dipuja oleh para pemilik kepentingan itu sendiri. Integral Role sebagai pemegang kemudi terus memudar seiring sang pemimpin terus berusaha berlagak sebagai panutan rakyat dengan payung kepemimpinan yang kokoh, pada akhirnya orang-orang yang dipimpin akan menyadari betapa sosok yang mereka harapkan tidak lebih dari sekedar “BONEKA” yang dimainkan oleh para dalang dibelakangnya.

Tipe kepemimpinan seperti ini sangat tidak menguntungkan bahkan di lingkungan keluarga sekalipun, bayangkan sosok suami yang seharusnya bijaksana, pemegang tongkat keputusan, panuntan keluarga harus tunduk dan tidak berdaya oleh anak-anak dan istrinya, dia harus menuruti semua kemuan istri dan anak-anak mesti bertolak belakang dengan hati nurani, ucapanya selalu diabaikan. Itulah bila kalimat pasif ter-implementasi dalam kehidupan nyata, baik skala mikro (keluarga) maupun makro (Negara).

Kepemimpinan tipe kalimat pasif bertolak belakang dengan Prinsip kepemimpinan menurut Richard Beckhard, bahwa prinsip pertama dalam kepemimpinan adalah adanya hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Tanpa yang dipimpin tidak ada orang yang perlu memimpin. Prinsip kedua adalah bahwa pemimpin yang efektif menyadari dan mengelola secara sadar dinamika hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Dua prinsip ideal tersebut hanya dimiliki oleh pemimpin yang berperan sebagai kalimat aktif dalam tiap paragraf kehidupan.

Ruang lingkup kepimimpinan merupakan simbosis yang mutlak antara pemimpin dan yang dipimpin, pemimpin sebagai subjek pada kalimat aktif dengan segala ketegasan dan otoritas, sementara yang di pimpin adalah objek dari kepemimpinan. Tapi yang perlu diingat adalah setiap verb (kebijakan) yang digunakan oleh si subjek (pemimpin) harus benar-benar dipilih, ditentukan dan diputuskan secara bijak agar nantinya tidak membuat si Objek (yang dipimpin) mengalami kesengsaraan dan penderitaan, lalu tercipta kalimat yang indah dan harmonis pada tiap-tiap paragraf, yang pada akhirnya akan jadi cerita dengan akhir yang bahagia.

 

Oleh: Taufik Uzumaky
Praktisi pendidikan, founder Planet English Course di Tabalong, Kalimantan Selatan.