Saat itu sekitar tengah malam. Tiba-tiba telepon rumah Abdul Kamir Krambo berdering. Dia mengangkatnya dengan sedikit gelisah. Dari seberang, terdengar suara seorang wanita yang berteriak histeris. Krambo sontak terkejut. “Masjid terbakar, masjid terbakar! ” Krambo masih ingat betul kata-kata wanita itu.

Krambo bergegas lari keluar rumah. Dia berlari dengan kaki telanjang dan masih mengenakan gamis. Ia menyaksikan langsung bagaimana tempat ibadahnya dilumat tanpa ampun oleh nyala api. “Saya lemas,” kata Krambo. Menjelang fajar, 4.000 meter persegi masjid terlihat nyaris tinggal puing.

Seperti diberitakan laman Appeal-Democrat (11/3), peristiwa yang menggemparkan warga Muslim Amerika itu terjadi pada Rabu, 31 Agustus 1994, di wilayah Islamic Center Yuba City, California. Krambo adalah salah seorang warga yang tinggal di Buena Road, sekitar satu blok dari kawasan masjid yang terbakar.

Api merupakan pukulan bagi warga Muslim di Yuba City. Tempat ibadah mereka dalam seketika menjadi tumpukan abu. Muncul banyak pertanyaan di benak mereka setelah peristiwa itu: “Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa penyebabnya?”

Setelah diselidiki, disimpulkan telah terjadi kesengajaan dalam peristiwa itu. Hasil penyelidikan saat itu membuktikan bahwa ini murni adalah kasus pembakaran. Api dipicu dari karpet masjid yang disiram bensin oleh sekelompok orang yang menaruh kebencian pada Islam.

Kejadian ini sempat membuat FBI turun tangan. Penyidik mereka mencurigai beberapa orang yang layak dijadikan tersangka. Sayang, tidak ada bukti yang kuat untuk menyeret mereka ke ranah hukum. Hingga hari ini, 20 tahun berselang, belum ada satupun pelaku yang ditangkap. Kasus ini pun sekarang menguap dan telah ditutup dengan meninggalkan tanda tanya besar.

Pada tahun 2000, masjid Islamic Center Yuba City dibangun kembali dengan semangat damai. Bukan hanya oleh warga Muslim yang sehari-seharinya beribadah di bangunan itu, tapi juga oleh warga Kristen, Hindu, dan agama lain yang merasa peduli untuk menguatkan kebersamaan sebagai warga Amerika di bawah payung toleransi antar umat beragama. Menyentuh, bagaimana pihak gereja menuliskan surat dukungan mereka dan menyumbang sejumlah uang untuk membangun kembali masjid yang hancur.

Seluruh cerita tentang pembangunan masjid Islamic Center Yuba City kemudian direkam dalam bentuk dokumenter oleh seorang aktivis antaragama yang juga berprofesi sebagai pembuat film, David Washburn. Diberi judul An American Mosque, dalam film ini, Washburn mencoba mengeksplorasi bagaimana tragedi terbakarnya masjid Yuba City secara terbuka. Dia menggambarkan bagaimana para pemeluk agama yang berbeda di Amerika berkumpul untuk membangun kembali masjid yang hancur.

Film ini merupakan penghargaan untuk perjuangan mereka,” kata Washburn, seperti dikutip dari situs resmi An American Mosque. “Mereka ingin menunjukkan bahwa semua orang Amerika, termasuk Muslim, berhak atas perlindungan agama dan hak untuk mempraktekkan iman mereka secara terbuka.”

Yang jelas, dia melanjutkan, film dokumenter ini menolak stereotip negatif terhadap semua warga muslim Amerika, memberikan penghormatan untuk setiap rumah ibadah, dan membayangkan sebuah negara Amerika yang lebih toleran. “Penyerangan dan perusakan masjid seperti ini tidak boleh terulang. Sesama warga Amerika harus saling menghormati,” ujarnya.

An American Mosque telah diputar di berbagai festival film di Amerika sejak tahun 2012. Pertama kali, film yang membawa misi damai dan toleransi di kalangan antarumat beragama ini diputar di Cleveland Film Festival 2012. Setelah itu, film ini juga diputar dan didiskusikan di sejumlah universitas dan Islamic Center kota lain. Di antaranya di: SALAM Islamic Center di Sacramento, South Bay Islamic Center di San Jose, Islamic Cultural Center of Northern California, dan University of Southern California.

Pada peringatan ke-20 peristiwa pembakaran masjid Yuba City tahun ini, para tokoh agama berharap film An American Mosque bisa dijadikan pembuka jalan diskusi antar umat beragama untuk lebih memahami satu sama lain dan demi kemajuan masyarakat. “Film ini penting,” kata Gerry Sandu, presiden Yuba-Sutter Interfaith and Cultural Council. “Ia (film –red) bisa menceritakan bagaimana hal yang mengerikan bisa terjadi, tetapi sekaligus mampu menyatukan masyarakat (yang berbeda keyakinan).”

Saat ini, Washburn bersama seluruh tim produksi An American Mosque sedang aktif berkampanye untuk meminta dukungan agar film dokumenternya bisa disaksikan oleh kalangan masyarakat Amerika yang lebih luas. Karena film ini telah mendapatkan izin distribusi oleh Asosiasi Telekomunikasi Pendidikan Nasional negara setempat.

Melalui distributor tersebut, kerja keras seluruh masyarakat Yuba City yang terlihat dalam film tentu akan berkesempatan untuk dapat ditonton oleh jutaan pemirsa Amerika di lebih dari 300 channel televisi publik pada bulan Ramadhan nanti. Hanya saja, untuk membuat hal ini bisa terwujud, ia membutuhkan dukungan dana distribusi yang cukup besar: 50.000 USD. Saat tulisan ini dibuat, dana yang sudah berhasil terkumpul dari donasi publik mencapai 16.556 USD.

Sumber