Sebelum jemari saya merangkai beberapa kata melanjutkan Fabana Mislu Hadza Bagian l, saya terusik dengan postingan di Fabana.id yang mengupas tentang pasar potensial E-Learning di Indonesia. Untuk mendalami informasi tersebut, saya melakukan Google research dengan key word ‘EdTech’ (Education Technology).

Selain informasi dari Forbes.com dan Techcrunch.com, data mengenai EdTech juga datang dari TechInAsia, sebuah media platform yang menjadi rujukan pelaku usaha rintisan (startup) berbasis teknologi. MengenaiTechInAsia ini, jika boleh usul, karena konsep Fabana belum ada di Indonesia dan dunia? Jadi, sebagaibenchmark nya menggunakan TechInAsia.

Seperti halnya kehadiran Go-Jek di Indonesia. Karena belum pernah ada model bisnis seperti Go-Jek sebelumnya, maka dicari model bisnis yang mirip dengan transportasi online yang pernah ada di dunia, yaitu Uber. Apa yang saya pikirkan rupanya dipikirkan juga sama salah satu teman Alumni 10 Windu Gontor,Angga Laksitama yang saat nyantri menjadi jurnalis di Darussalam Pos.

Singkat kata, hasil penulusuran tersebut, saya mendapatkan kesimpulan bahwa perkembangan EdTech tidak sefantasis E-Commerce maupun FinTech. Tapi potensinya sangat menarik, di UK, ada lebih dari 1.000 EdTech yang telah memberikan kontribusi perekonomian di UK senilai £1 Miliar setiap tahun. Diantara EdTech yang cukup diperhitungkan adalahRaspberrry Pi dan Blackbullion.

Bisa jadi, dengan perkembangan tersebut UK akan menjadi pemimpin inovasi dunia pendidikan di dunia.MIT Technology Review menambahkan, online education bukan barang baru lagi di UK. Lebih dari 700 ribu siswa belajar jarak jauh secara full time. Istilah yang diperkenalkan adalah Massive Open Online Coursesatau MOOCs.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Dikutip dari Id.techinasia.com, jumlah startup pendidikan (EdTech) di Indonesia berkembang cukup signifikan. Dalam catatannya, salah satu startup pendidikan yang sudah bergerak lama, sejak 2004 adalah Zenius. Selain Zenius, ada banyak startup yang berhasil mendapatkan pendanaan dari para investor untuk pengembangan.

Pertanyaannya adalah, apakah Fabana akan mengikuti model startup seperti Zenius atau EdTech yang sudah ada sebelumnya? Kalau mau tahu lebih banyak, kita obrolin pas acara Halal Bi Halal ya. Insya Allah penjelasannya lebih lengkap. hehehe.

Oleh: Syukron Ali