Di tengah perkembangan dunia digital yang massif di abad 21 ini, media online bertumbuh pesat di Indonesia. Sayangnya, informasi tentang Pendidikan dan Pengajaran yang menjadi dasar membangun bangsa dan negara, nyaris luput dari pemberitaaan dan pendalaman informasi.

Sedangkan, semua peran dan para pakar suatu bidang, tidak lepas dari pendidikan. Bahkan, untuk membangun organisasi, lembaga, perusahaan, keluarga hingga negara pun. Peran pendidikan tidak bisa dipisahkan. Manusia bisa membaca, menulis dan berbicara juga karena pendidikan.

Karena itu, sekelompok generasi millennial yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan membentuk Fabana. Nama Fabana merupakan hasil diskus panjang via grup dengan teman-teman alumni 10 Windu Gontor.

Seperti yang dilontarkan oleh pencetus nama ini, saudara Kahfi Riza. Nama Fabana diambil dari identitas lokal yang diharapkan dapat diterima disemua lapisan masyarakat syukur-syukur bisa sampai go global. Natayaqonuhu siih, suku kata Fabana mirip dengan suku kata ‘La-za-da’ dan ‘Za-lo-ra’. Kali aja, nama Fabana bisa nyusul keberhasilannya seperti dua startup yang favorit itu.

Sejak pertama kali nama Fabana mencuat di permukaan dunia maya, bertemuan demi pertemuan terus digalakkan oleh team Fabana untuk menyamakan persepsi mengenai Fabana. Saat ini, ada 7 orang yang bertahan dan menjadi perumus dan Grand Designer Fabana, jika tidak berlebihan saya pribadi melebeli mereka dengan sebutan Co-Founder.

Mereka yang setia, sedia dan berkorban mewakafkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menghidupi Fabana. Kadang, mencuri-curi waktu di sela rutinitas mereka bekerja di perusahaan yang menjadi sumber penghidupan keluarga.

Tidak ketinggalan juga, teman-teman angkatan 10 Windu Gontor yang menjadi pemantik awal pendirian Fabana. Fabana adalah bagian dari Alumni 10 Windu Gontor yang akan berdiri di atas dan untuk semua elemen. Lewat Fabana, teman-teman dapat menyapa dunia. Kira-kira begitu, rumusan Fabana.

Kemudian, pertanyaan mendasar pun muncul, seperti “Apa itu Fabana?” “Jika Fabana itu sebuah platform digital, Apa bedanya dengan platform yang lain? “Mengapa saya harus memilih Fabana?” “Benefit apa yang saya dapatkan jika berkunjung ke Fabana?” “Bagaimana cara mengelola Fabana?” “Jika memang Fabana potensial, bagaiaman cara memonotize nya?” dan sederet pertanyaan yang membuat nyali kembang kempis untuk bergerak.

Sudah tidak kehitung lagi berapa kali melakukan brainstorming Fabana. Ada yang inginnya Fabana itu yaa begini, ada yang inginnya begitu, ada yang cukup ini saja, itu saja dan sebagainya. Saya pribadi punya kerangka perpikir sendiri tentang Fabana, bentuknya mau bagaimana dan goal nya mau apa?

Tapi, hidup ini bukan tentang siap yang paling benar, tapi bersama-sama mencari kebenaran. Jadi, bisa jadi apa yang saya pikirkan tentang kebenaran Fabana ternyata tidak tepat bagi teman-teman lainnya. Karena itu, saya pribadi terus meleburkan ‘ambisi’ saya untuk mempertahankan kebenaran Fabana versi saya.

Kurang lebih satu semester para Co-Founder berdiskusi lintas platform untuk menentukan visioning Fabana. Dan, berikut istinbath dari grand design yang saya ramu dari berbagai royun ghonam teman-teman Co-Founder Fabana. Lanjut ke part berikutnya…

 

Nastamir godan..

Sumber: Fabana Mislu Hadza