Dengan aplikasi Etakmir, para ustadz dapat menerima undangan dari jamaah dari berbagai wilayah di Indonesia dengan mudah. Jadwal aktivitas ustadz pun dapat dipantau oleh jamaah dengan simpel.

FABANA.id-Jakarta. Di Indonesia, ada lebih dari 200 ribu Sarjana Keagamaan yang berasal dari berbagai lembaga pendidikan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Sedangkan jumlah musola di Indonesia ada sekitar 820 ribu. Untuk masjidnya, diperkirakan mencapai 1,6 juta masjid.

Potensi ini yang dimanfaatkan oleh Etakmir Foundation untuk membangun aplikasi pencari ustadz pertama di Indonesia. Menurut Shalahuddin Ahmad, Managing Director Etakmir Foundation, ada banyak ustadz-ustadz berkualitas di Indonesia yang kurang dikenal oleh publik.

“Padahal kemampuan mereka tidak kalah dengan ustaz yang biasa tampil di televisi,” jelas Shalahuddin  saat peluncuran Etakmir di Jakarta (6/9/2016).

Dengan aplikasi Etakmir, para ustadz dapat menerima undangan dari jamaah dari berbagai wilayah di Indonesia dengan mudah. Jadwal aktivitas ustadz pun dapat dipantau oleh jamaah dengan simpel. Tidak hanya itu, berbagai keahlian ustadz seperti mengajar bahasa Arab, tahsin Al Quran, kajian berbagai bidang khazanah ke-Islaman juga bisa diakses oleh jamaah dengan ringkas.

Jadi, saat ada jamaah yang ingin belajar bahasa Arab misalnya, mereka bisa langsung mencari dengan keyword bahasa Arab, secara otomatis akan menampilkan nama-nama ustadz dengan keahlian mengajar bahasa Arab, beserta latar belakang pendidikan formalnya.

Untuk sementara ini,  aplikasi Etakmir hanya tersedia di operating system Android. Alasannya, jumlah pengguna ponsel pintar berbasis Android lebih besar di Indonesia. Namun, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan dibuka juga di iOS.

“Proses pembuatannya melibatkan negara Ukraina. Dengan melibatkan negara lain, Etakmir diharapkan dapatekspansi ke global,” lanjut Sholahudin.

Untuk tahap awal ini, ditargetkan sebanyak 5-10 ribu ustadz yang bergabung dengan Etakmir hingga akhir 2016. Direncanakan juga di awal tahun 2017 sudah ditentukan biaya administrasi saat menggunakan Etakmir untuk pengembangan dan operasional aplikasi.

Mengenai investasi, Shalahudin mengklaim semua dana berasal dari internal perusahaan, sedangkan dengan negara Ukraina hanya sebatas pada sharing partner untuk teknisi pembuatan aplikasi.

Sumber