Ketimpangan ini melahirkan ketidaktepatan perilaku, kesempitan berpikir, dan absurditas nilai-nilai. Maka seharusnya pertanyaan tentang siapa yang salah diajukan bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri kita sendiri. Sudahkah kita melakukan perbuatan dalam skala pahala sosial?

FABANA.id. Beberapa peristiwa menghebohkan baru saja terjadi akhir-akhir ini. Seorang bayi dimasukkan ke dalam freezer oleh ibunya sendiri. Seorang terduga maling dibakar hidup-hidup, padahal dugaan tersebut tidak benar. Tapi satu nyawa terlanjur tiada. Apa benang merah dari kedua peristiwa di atas? Kekerasan? Kegilaan? Non toleran?

Kadang kala kita mengukur dosa pahala berdasarkan skala individual. Siapa mencuri, ia menanggung dosanya sendirian. Siapa bersedekah, ia mendapat pahalanya sendirian. Meskipun perluasan tentang dosa pahala ini kadang diluaskan hanya dalam terminologi fardlu kifayah. Jika sebagian orang sudah melakukan, sebagian yang lain terlepas beban dosa. Jika tak ada satu orang yang melakukan, maka semua orang berdosa. Ini adalah dosa kolektif.

Padahal, jika skala pahala dosa ini diluaskan dalam lingkup lebih luas, tentunya akan memperbaiki cara pandang kita terhadap segala sesuatu. Dosa kolektif dan pahala kolektif. Kedua peristiwa di atas, bisa jadi berkaitan dengan dosa kolektif.

Misalnya, dalam kasus bayi freezer, ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan. Apakah ada sistem dalam lingkup luas yang bertanggung jawab hingga akhirnya perbuatan tersebut terjadi? Misalnya, apakah pelaku terhimpit faktor ekonomi hingga ia nekat melakukan aksi tersebut? Jika memang terkait ekonomi, siapa yang membuat regulasi sehingga sistem ekonomi dapat menghimpit setiap orang termasuk pelaku? Apakah ada kesengajaan dalam menciptakan sistem tersebut? Ataukah orang-orang di sekitarnya, baik keluarga maupun tetangga, tidak peduli kepada pelaku? Apakah pelaku beragama?

Jika iya, apakah pemuka-pemuka agama juga tidak pernah menanyakan langsung kondisi pelaku dalam keseharian, semisal masalah apa saja yang ia hadapi? Apakah pelaku merasa seorang diri dalam menghadapi masalah yang menimpanya? Sehingga seharusnya orang-orang di sekitarnya juga bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Mulai dari suami, keluarga, Pak RT, lurah, bupati, gubernur, dan presiden.

Cara pandang seperti ini mungkin tidak umum, tetapi saya ingin menjelaskan bahwa satu peristiwa tidak berdiri sendiri. Ada ratusan bahkan ribuan variabel yang berkaitan. Itu baru urusan ekonomi, bisa jadi segi-segi yang lain dikaitkan, variabelnya bisa jutaan. Inilah yang disebut dosa kolektif, bahwa ada sebuah sistem, baik struktural atau kultural, di mana semua yang terlibat di dalamnya ikut menanggung beban dosa. Sistem ini bisa jadi sengaja diciptakan atau terjadi begitu saja dikarenakan polah tingkah laku sebagian orang.

Peristiwa mengenaskan tersebut merupakan hulu atau hilir, sebab atau akibat? Di mana ikatan beban tanggung jawab saling berkelindan satu dengan yang lain. Dalam kasus pembakaran hidup-hidup seorang yang diduga maling misalnya, apakah ia benar-benar menjadi korban? Atau pelaku-pelaku pembakaran itu juga sebenarnya adalah korban. Korban atas apa? Atas ketimpangan sosial yang menggelayuti hati mereka dalam kurun waktu yang lama sehingga membekas menjadi dendam kolektif.

Masyarakat tidak tahu harus melampiaskan dendam ini ke mana, sehingga dendam itu dibawa-bawa ke manapun mereka pergi. Siang malam, pagi sore, di rumah atau di jalan, dendam itu dipelihara sedemikian rupa. Sehingga sampailah waktunya, ada orang yang dianggap maling, mereka mendapatkan momentum yang pas untuk membalaskan dendam itu. Saya berbicara bukan dalam lingkup individual, tetapi orang banyak.

Kita ini secara tidak langsung dihinggapi dendam dalam kurun waktu yang lama hingga akhirnya menanti saat yang tepat untuk membalaskan dendam tersebut. Jika saya berbicara individu, mungkin itu wajar saja. Tapi jika dendam ini bersifat kolektif, maka harus segera ditindaklanjuti. Karena mungkin saja peristiwa ini akan terjadi di kemudian hari, dengan waktu, momentum, saat dan tempat yang berbeda. Kembali ke pertanyaan awal, ini hulu atau hilir?

Mengapa dendam ini ada dan disimpan oleh banyak orang? Bisa jadi ketimpangan sosial yang mengendap bertahun-tahun. Bisa jadi ketidakluasan pandang banyak orang dalam segala hal. Bahkan, perilaku dendam mendendam ini tidak hanya dilakukan rakyat jelata. Para elit terus-terusan mengajarkannya kepada masyarakat, di tv, koran, internet, medsos, dan di mana saja. Pelajaran mendendam ini tumbuh subur karena seringkali ditampilkan di depan umum.

Maka dua peristiwa tersebut merupakan dosa kolektif, di mana ada sistem yang rusak dan cacat, sehingga menimbulkan ketimpangan dalam banyak hal. Ketimpangan ini melahirkan ketidaktepatan perilaku, kesempitan berpikir, dan absurditas nilai-nilai. Maka seharusnya pertanyaan tentang siapa yang salah diajukan bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri kita sendiri. Sudahkah kita melakukan perbuatan dalam skala pahala sosial? Mulai dari pejabat, elit, hingga rakyat jelata. Sehingga terma kita sebagai satu bangsa benar-benar terwujud dalam segala aspek kehidupan. Sudahkah kita?

Foto: Tipstren