Ismunarso saat bertugas

Ismunarso saat bertugas

Berseragam hitam lengan panjang, Ismunarso Teguh Aribowo tampak tegap di sela kesibukan bandara Internasional Juanda, Surabaya, yang mulai mereda. Sebagai salah satu pelabuhan udara tersibuk di Indonesia, rata-rata perbulan tidak kurang 500 ribu penumpang pulang pergi di airport ini.

“Pada saat high season seperti saat lebaran dan libur tahun baru, penumpang sampai tembus 600 ribu,” ungkap pria yang akrab disapa Narso ini.

Waktu sudah larut malam, tapi ia harus tetap bertugas karena masih ada satu rombongan lagi yang harus ia pastikan kedatangannya. Menurut rencana, salah seorang petinggi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akan tiba ikut penerbangan terakhir malam ini dari Jakarta.

Demikianlah tugas lelaki kelahiran Madiun, 28 Februari 1988 itu sebagai Protokoler Polri di Bandara Juanda. Sehari-hari ia harus memastikan perjalanan udara pejabat kepolisian baik pusat maupun daerah dapat terurus dengan baik. Pekerjaannya ini membuat Narso, kadang harus siap sejak pagi buta atau larut malam. Pekerjaan ini juga menuntut kedisiplinan tinggi.

“Meskipun pegawai sipil, secara unit kerja, saya berada di bawah Polda Jatim. Tugas saya juga termasuk mengurus keamanan, tempat duduk di pesawat dan jadwal keberangkatan mereka, jadi harus koordinasi dengan maskapai penerbangan. Yang jadi tantangan adalah saat berita keberangkatan yang datang ke kami dadakan dan mepet,” tuturnya kepada Fabana.id.

“Jika rute yang akan dinaiki termasuk jalur ramai, seperti ke Jakarta dan Balikpapan, tentu tidak masalah. Tapi kalau harus menuju atau dari kota seperti Jambi atau Bengkulu, kami harus pontang-pantong putar otak,” ujarnya melanjutkan.

Selain pejabat Kepolisian dan tamunya, ia juga harus mengurus penerbangan orang penting tertentu seperti para kriminal atau buronan yang tertangkap oleh polisi. Uniknya, saat membawa golongan ini, ia bersama maskapai harus mengkondisikan seakan yang masuk pesawat bukan penjahat. Hal ini bertujuan agar para penumpang sipil lain tidak terganggu.

“(Buronan) yang tertangkap tidak mengenakan borgol. Tetapi diatur sedemikian rupa seperti penumpang biasa. Tentu ada polisi berpakaian preman yang mendampingi, jumlahnya sampai 4 orang. Waktu digiring ke kabin pun cara memegangnya khusus, seperti merangkul, jadi orang tidak curiga,” jelas ayah dari Ben Josh Keyval Narastya ini.

Menjajal Bahasa Jerman

Setelah lulus dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, ia melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Bahasa Jerman tahun 2007.

“Kuliah jurusan linguistik, sebenarnya saya menantang diri sendiri. Kalau santri identik dengan studi agama, saya ingin menjajal bidang umum. Pegangan saya adalah pesan Pak Kyai bahwa bekal pendidikan yang didapat di pondok bebas digunakan untuk apa saja selama itu baik, ” kenangnya.

Keluarga kecil Narso

Keluarga kecil Narso

Tidak lama, dalam hitungan minggu setelah menggondol gelar sarjana tahun 2011, Narso ditawari pekerjaan oleh salah satu kerabatnya di Bandara Juanda.

Singkat cerita, sesampai di Surabaya ia ikut pelatihan bersama kandidat lain untuk jadi protokoler airport.

Menurutnya tes yang dijalani cukup berat secara fisik dan mental, menghabiskan waktu dari pagi sampai malam. Bahkan sampai ada beberapa rekan angkatannya yang mengundurkan diri.

“Tapi dari situ mungkin berkahnya. Alhamdulillah saya jadi terpilih, padahal ada peserta yang sebenarnya nilainya di atas saya, tapi ia akhirnya malah mundur,” katanya mengenang.

Berada di lingkungan kerja yang aktif, dinamis dengan kesibukan padat, ia menyadari betul bahwa agama sangatlah penting untuk menjalani hidup. Jika tidak punya pegangan agama, akan mudah tergelincir ke dalam godaan duniawi yang menggiurkan.

Atas dasar agama itulah, Narso mantap memilih pasangan hidup. Maka pada 9 Oktober 2015 ia mempersunting Dyah Setya Retnaning Tyas, dara asal Ponorogo. Dyah yang juga alumni Pesantren Putri Mawaddah, Ponorogo tahun 2010 ini ia harapkan akan mendidik buah hati mereka yang lahir Agustus 2016 lalu dengan baik sesuai ajaran Islam.

“Surga dunia bukanlah istri yang cantik saja, tapi yang terpenting adalah salehah. Jika agamanya baik maka Insya Allah keluarga pun akan bahagia. Bukan hanya surga dunia yang didapat tapi juga akhirat,” tukasnya.

Saat disinggung mengenai sosoknya yang sering memberikan pernyataan eksentrik di sosial media, ia menanggapinya dengan santai.
“Mohon kawan-kawan tidak menanggapi terlalu serius, sebenarnya itu sindiran satir buat kita semua” katanya.

“Saya sengaja mengeluarkan pernyataan dengan sedikit kontroversi contohnya saat diskusi di WA, sebenarnya tidak ada maksud jelek dan mengundang permusuhan. Selama ini kan grup WA sering jadi ajang menyuarakan kebencian secara berlebih. Catat ya: ekspresi kebencian berlebih sampai caci maki,” Narso menekankan.

Menurutnya jika ada sikap pemimpin, tokoh atau golongan yang tidak sesuai agama dan moral bangsa silakan dikritik, diperingatkan dan diluruskan. Kalau perlu bawa ke ranah hukum. Akan tetapi jangan sampai kita hanya fokus pada kebencian semata. Padahal banyak nilai positif dari umat Islam dan bangsa ini yang harus kita tonjolkan. Akhirnya kita tidak mengembangkan potensi yang ada tapi hanya sibuk mencela sana-sini.

“Sayang kalau energi kita habis untuk ribut-ribut saja yang akhirnya kita tidak mengembangkan diri dan lingkungan sekitar. Kalau ada perbedaan pendapat baiknya disikapi dengan kepala dingin. Kesantunan tutur bahasa pun juga tetap dijunjung,” pesannya mengakhiri pembicaraan.