Jangan sembarangan bernyanyi kalau tidak paham liriknya

FABANA.id – Gadis kecil berponi, saya taksir usianya sekitar 7-8 tahun memakai gaun warna merah muda. Rambutnya hitam bergelombang sebatas pundak. Pita di ujung rambut makin membuatnya manis. Sekilas persis matryoshka, boneka kayu khas Rusia yang bundar nan imut itu.

Adik kecil ini begitu percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang menyorotnya di loby utama sebuah pusat perbelanjaan. Cuek saja, seakan orang-orang yang menontonnya bukan manusia tapi jejeran gelondongan kayu di halaman rumah pedalaman Baduy.  Sebuah mikrofon tergenggam erat di kedua tangannya. Mata bulatnya melirik gemas ke arah seorang ibu muda yang duduk paling depan. “Mama, kalau aku juara lomba ini, beliin boneka ya,” mungkin itulah arti lirikan itu.

Dan, pertunjukan pun mulai.

“Because you know I’m all about that bass…”
“Bout that bass, no treble…”

Wih, suaranya mantap. Mungkin beginilah suara Meghan Trainor penyanyi aslinya sewaktu masih kecil. Sambil berdiri di tangga eskalator, kaki saya secara tak sadar mengangguk ritmis mengikuti lagu itu. Leher saya pun ikut maju mundur.

Lagu ini memang sempat meledak di pasaran sejak dirilis bulan Juni 2014. Sampai sekarang pun kadang masih menghias tangga lagu unggulan di radio-radio. Tempo lagu ini tidak terlalu cepat tapi menghentak dan berkesan ceria.

Alasan lain lagu ini begitu ngetop adalah liriknya yang menyuarakan isi hati cewek dengan jenaka. Meghan yang menulis lagu ini bersama musikus Kevin Kadish mengkritik cara pandang masyarakat dalam melihat tubuh perempuan. Dewasa ini citra “cantik dan seksi” menurut kriteria kehidupan modern identik dengan wanita langsing, kalau perlu seceking boneka Barbie.

Perhatikan saja, sangat sulit menemukan sosok wanita berbadan bongsor melenggok di catwalk memperagakan busana. Makanya banyak perempuan yang pening setengah mati begitu berat badannya naik beberapa kilogram. Meghan ingin menyuarakan bahwa memiliki bukan sebuah hal yang perlu dipusingkan.

“Cuek aja kayak gue! Gemuk & montok itu juga seksi kok!” kira-kira demikian jerit batin Meghan. Toh terlalu kurus juga tidak sehat, tanda kurang nutrisi.

Saya sudah sampai lantai 5, tingkat teratas. Suara Meghan Trainor cilik masih terdengar. Sampai saat ini masih berjalan lancar sampai pada lirik ini, saya terkejut sembari menepuk jidat.

 “Yeah, my momma she told me don’t worry about your size”
“She says, boys they like a little more booty to hold at night”

Artinya jika diterjemahkan secara bebas adalah demikian:

“Yeah, ibuku bilang jangan pusingkan ukuran badan mu.”
“Katanya, waktu malam, para cowok lebih suka mendekap p****t yang ukurannya gede”

Sebagai informasi, bagian kata yang saya sensor, saya anggap kurang senonoh. P****t adalah salah satu bagian dari tubuh yang berfungsi sebagai tempat tumpuan badan ketika duduk. Terletak di belakang tubuh, agak kebawah, di antara pinggul dan paha. Bagian tubuh ini dibentuk oleh tulang pinggul dan tulang ekor, serta terdiri dari banyak lemak dan kulit. Wanita yang memiliki ukuran p****t montok dan memakai celana/gaun ketat pasti membuat mata cowok berbinar. Anda pasti paham.

Bayangkan seorang anak kelas 2 SD—tanpa beban dan wajah ceria, bukan di bawah pengaruh narkoba—menyanyikan potongan lirik All About That Bass tadi. Dia kepingin dan tidak keberatan organ tubuhnya yang berharga itu dipeluk dan diremas lelaki di malam hari. Alamak!

***

Belum lama ini, lagu berjudul “Despacito” dari Luis Fonsi dibumbui suara ft Daddy Yankee dan sang supestar Justin Bieber lagi beken di kawula muda. Banyak yang mendendangkannya di seluruh dunia, dari pengamen di bus kota hingga ada yang menggunggah dirinya menyanyikan ulang lagu ini lewat video di media sosial. Wajar saja karena lagunya enak didengar dengan melodi sederhana ala Amerika Latin, meski tidak paham liriknya. Yang jadi masalah adalah lirik lagu dalam bahasa Spanyol yang jika diartikan ternyata mengisahkan dua orang yang baru ketemu lalu berhubungan intim layaknya suami istri, atau dalam istilahnya “cinta satu malam”. Orang tua saja tidak sopan kalau menyanyikan ini, apalagi anak kecil. Makanya jangan sembarang berdendang.

Despacito Luis Fonsi ft Daddy Yankee

Harus saya akui, lagu Despacito enak didengar, sayangnya liriknya itu…
Foto: Billboard.com

Andai saja lirik Despacito itu tentang bakti ke orang tua pasti cocok untuk segala umur.

Generasi muda kita harus dijauhkan dari mendengar lagu yang bermuatan tidak mendidik. Tapi tidak bijak juga jika hanya melarang, harus ada alternatif lagu yang baik untuk perkembangan mereka. Sudah menjadi hukum alam, remaja jika semakin dilarang akan kemungkinan semakin penasaran untuk melanggarnya. Bagi sebagian dari mereka, melanggar peraturan adalah prestasi. Tahu-sama tahu lah. Kita semua pernah remaja.

Sewaktu saya kecil dulu, ada penyanyi cilik seperti Enno Lerian, Chikita Meidy, Bondan Prakoso dan Trio Kwek-kwek. Mereka hadir dengan lagu-lagu mereka yang bernada gembira, kalimatnya sederhana, dan sopan bahkan ada sisipan pengetahuan.  Pencipta lagu yang cukup kawakan pada era itu: Papa T. Bob, AT Mahmud hingga Paman Dolit.

Daripada Despacito, mending dengarin lagu ini;

Sekarang memprihatinkan, lagu anak-anak agak langka. Untuk memuaskan hasrat bernyanyi, anak-anak menyanyikan lagu pop atau dangdut dewasa. Padahal tidak semua lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak ternyata pas untuk mereka. Lagu yang berisi kata-kata seperti cinta, kebencian, selingkuh, pengibaratan apalagi cinta satu malam atau selimut tetangga akan sulit dipahami anak. Yang lebih bahaya, lirik lagu yang negatif diam-diam dapat tertanam dan mempengaruhi mental sang anak.

Di tengah keprihatinan ini, sebenarnya dengan semakin luasnya internet, anak-anak sudah mulai dapat menemukan lagu yang sesuai dengan usianya di Youtube misalnya. Meski sebagian dari lagu itu berbahasa Inggris. Patut disyukuri.

Bagi remaja yang masuk fase peralihan sebelum dewasa, gairah bermusik harus diarahkan menjadi hal yang positif juga. Jangan sampai lirik lagu itu malah merusak jiwanya secara perlahan. Kalau saya pribadi masih mentolerir lagu cinta didengarkan remaja, asal liriknya membangkitkan rasa optimis dan semangat hidup. Jangan lagu yang bikin hati makin mewek setelah ditimpa masalah.

***

Lagu adalah rangkaian nada yang dipadukan dengan irama yang harmonis dan dilengkapi dengan syair. Perpaduan ini membentuk sebuah harmonisasi indah. Musik dan lagu adalah salah satu cara manusia menyampaikan pesan dan perasaannya.

Terlepas ada beberapa kalangan dari aliran tertentu dalam agama yang mengharamkan musik, menurut saya adalah fitrah manusia menyukai susunan irama yang harmonis. Kita suka suara petikan gitar, tabuhan gendang, mengetuk-ngetuk meja sebagai pelampiasan rasa bosan, atau sekadar gumaman la… la… la…. saja sewaktu di kamar mandi. Konon irama yang harmonis membuat manusia merasa nyaman karena hormon endorfin di otaknya jadi aktif.

Kondisi psikologis dan suasana hati si pendengar juga berpengaruh. Ketika seseorang sedang berduka dan mendengar lagu yang bersemangat, ia akan cenderung bangkit termotivasi dan tidak sedih lagi. Sebaliknya, ketika orang sedang sedih dan ia mendengarkan lagu berirama menyayat hati, ia akan cenderung semakin sedih saat menghayati dan memaknai liriknya lebih dalam. Bahkan ada yang sampai depresi dan bunuh diri!

Daripada salah mendendangkan lagu, nyanyikan saja lagu Indonesia Raya. Dijamin tidak ada efek samping bagi kejiwaan anda dan keluarga. Bandung Lautan Api juga oke!

Diceritakan ulang dari tulisan saya “Jangan Sembarang Berdendang” di Kompasiana, Februari 2015, dengan penyesuaian.

Foto: Sahabat Nestle