Apakah orang yang gajinya sepuluh kali lipat dari orang lain, sudah tentu sepuluh kali lebih bahagia? Belum tentu. Nah peradaban Barat baru mengetahui ini setelah berabad-abad berburu materi dan mendasari peradaban dengan tujuan itu. Kini mereka kembali meninjau arti bahagia. Mereka menemukan bahwa spiritual dapat digali untuk kebahagiaan manusia. Belum terlambat, kata mereka.

FABANA.id. Modernitas selalu mengajari manusia untuk sukses. Tapi, sukses versi modern adalah tentang materi dan kekayaan. Pelatihan motivasi yang diselenggarakan di hotel-hotel berbintang, tidak lain berorientasi kepada sukses versi ini. Anehnya, justru peradaban Barat sebagai motor penggerak modernitas, saat ini malah condong membangkitkan spiritualitas.

Mereka kini berlari untuk menyingkap rahasia-rahasia spiritual. Yoga, meditasi, dan agama kembali dipelajari. Ini membuktikan kegagalan mereka dalam memaknai hidup. Awalnya mereka menyangka jika sudah banyak bergelimang harta dan kekayaan, mereka akan bahagia. Contoh sederhana dalam ungkapan seperti ini: barang siapa memiliki semakin banyak harta, maka semakin bahagialah ia. Sekilas logika ini benar.

Akan tetapi pertanyaan berikutnya adalah, apakah orang yang gajinya sepuluh kali lipat dari orang lain, sudah tentu sepuluh kali lebih bahagia? Belum tentu. Nah peradaban Barat baru mengetahui ini setelah berabad-abad berburu materi dan mendasari peradaban dengan tujuan itu. Kini mereka kembali meninjau arti bahagia. Mereka menemukan bahwa spiritual dapat digali untuk kebahagiaan manusia. Belum terlambat, kata mereka.

Sedangkan Timur, yang notabene mengekor kepada Barat, justru masih terjebak pola materialisme. Memohon untuk menumpuk sebanyak-banyaknya materi. Timur tidak melihat gamblang jelas ke depan, bahwa Barat justru sedang membelakangi materi. Padahal Timur dahulu kala adalah pusat spiritual. Jadinya muncul siklus kejar mengejar, Barat menuju ke Timur, Timur masih berkutat menuju Barat.

Pembagian Timur Barat yang saya pakai ini terlihat naif. Tapi minimal untuk menggambarkan ada sekat yang jelas, antara super ordinasi dan sub ordinasi. Kalau mau menggunakan terma Utara-Selatan, Penjajah-Dijajah, dan Putih-Berwarna juga tak mengapa. Asalkan memang ada kesadaran bahwa satu pihak ingin menguasai pihak lainnya.

Keadaan sekat-sekat inilah yang kemudian memproduksi budaya latah melatah di pihak yang lemah. Harus kita bangun kesadaran, bahwa Barat dijadikan rujukan oleh Timur dalam segala hal. Karena apa? Saat ini Barat adalah penguasa dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dan budaya. Satu paket perangkat peradaban yang lantas dilengkapi dengan metodologi dan ilmu pengetahuan.

Ketimpangan inilah yang terus dipertahankan oleh pihak yang menang dan diciptakan suatu kondisi di mana pihak kalah tidak pernah punya kesempatan untuk bisa setara atau lebih unggul. Kesempatan-kesempatan itu diberangus sedemikian rupa dengan berbagai cara, teknik, dan metode yang dikemas apik untuk tidak bisa disebut sebagai bentuk penjajahan. Sehingga ketimpangan ini dipendam berabad-abad bahkan mengakar.

Justru hal ini melahirkan apriori baru: rela dan ridho dijajah, bahkan bangga. Kemerdekaan semu yang ditanamkan di negara-negara dunia ketiga sebenarnya hanya kamuflase penjajahan baru. Apa itu penjajahan baru? Adanya agresi oleh perusahaan multinasional untuk mengeruk kekayaan negara berkembang. Dengan dalih investasi atau semacamnya.

Kini agressor bukan hanya atas nama negara, melainkan perusahaan. Saya menduga skema ini awalnya diuji coba pertama kali di nusantara. Dulu, yang menjajah nusantara adalah VOC, serikat dagang milik kerajaan Belanda.

VOC ini apakah negara? Tidak. Hanya perusahaan dagang. Tetapi memiliki tentara sendiri, serta kekuasaan yang hampir menyerupai negara. Skema ini kemudian dijalankan dalam kapitalisme global, penjajahan era baru. Atas nama pembangunan dan pedayagunaan sumber daya alam, maka perusahaan multinasional menawarkan iming-iming investasi. Yang terjadi selanjutnya adalah penghisapan besar-besaran.

Kini tidak jelas lagi, apakah bangsa nusantara sudah merdeka atau belum. Sekedar menelaah, kemerdekaan identik dengan kemandirian. Apakah bangsa nusantara benar-benar mandiri, atau diciptakan sistem agar tidak bisa mandiri dalam segi apapun?

Lantas, apa hubungannya dengan sukses, bahagia, materi, spiritual, kapitalisme global, Barat-Timur, dan merdeka? Saya mengajak para pembaca untuk melakukan dekonstruksi pemahaman terhadap istilah-istilah, pemahaman, konsep dan hipotesa yang selama ini menggelayuti hidup kita. Setidaknya ini bentuk filter dan kemandirian sikap, bahwa keluasan pandang terhadap sesuatu seharusnya bisa diperdalam lagi.

Kesalahan memaknai ternyata cukup fatal dalam pengambilan sikap seorang manusia. Mungkin ini berupa pancingan-pancingan awal untuk memecut kita bertindak lebih hati-hati. Apalagi berkenaan dengan sesuatu hal yang berkaitan dengan agama, misalnya. Ada metodologi-metodologi tertentu yang tidak bisa dipukul rata untuk diterapkan.

Akhirnya, kembali ke pertanyaan: sepenting itukah berpikir detail dan rinci terhadap apapun? Jika anda menganggap penting, anda adalah orang merdeka. Jika anda anggap tidak penting, silahkan baca tulisan ini dari awal.

Foto: 123RF