Dzulqornaen Ali Sahab, Desainer Baju Koko Al Mia, bersama sang isteri.

Dzulqornaen Ali Sahab, Desainer Baju Koko Al Mia, bersama sang isteri.

Lahir dari keluarga yang sederhana, tidak mengurungkan semangat Dzulqurnain Ali Sahab untuk mengejar impiannya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, intuisinya di bidang desain dan grafis mulai terasah. Pengalaman pertama kali yang ia dapat waktu itu membuat kaligrafi masjid di Pekalongan.

Tahun 2008 menjadi titik awal Dzulqor menjadi desainer profesional. Saat itu ia merantau ke Jakarta mengikuti jejak ayahnya menekuni dunia konveksi sambil kuliah di LIPIA Jakarta. Karena alasan waktu dan ekonomi, terpaksa Dzulqor tidak menyelesaikan kuliahnya.

Baginya, belum berkesempatan belajar di perguruan tinggi bukan suatu hal yang disesali. Karena belajar bisa dari mana saja dan kapan saja tanpa terikat ruang dan waktu. Walau bukan dari lembaga pendidikan formal.

Dzulqor menjelaskan, sebelum bergabung dengan Al Mia, ia sudah merancang berbagai desain baju koko yang eksklusif untuk Al Mia. Padahal saat itu, belum ada akses yang mengantarkannya ke perusahaan pelopor baju koko modern di Indonesia itu.

Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor 2006 itu berkeyakinan, kelak saat ada kesempatan bertemu dengan manajemen perusahaan Al Mia, karya-karya yang telah ia buat akan diberikan kepada pihak yang bersangkutan.

“Karena ayah saya terjun di dunia konveksi, suatu ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan salah satu manajemen perusahaan Al Mia. Dari situlah awal mula interaksi saya dengan Al Mia dan alhamdulillah impian saya untuk menyerahkan desian baju koko eksklusif untuk Al Mia akhirnya tewujud,” jelas Dzulqor kepada Fabana.id

Pihak manajemen pun kagum dan senang dengan trobosan desain yang Dzulqor berikan. Selang beberapa hari, Dzulqor menjadi bagian tim desainer Al Mia. Tepatnya pada 2009, Dzulqor resmi menjadi bagian tim Al Mia dan memberiakan kontribusinya dengan sepenuh hati.

Hasilnya? Kini, Dzulqor dipercaya sebagai desainer khusus untuk baju-baju koko eksklusif Al Mia. Setiap harinya, minimal satu buah desain ia sumbangkan untuk Al Mia. Hingga sekarang, lebih dari 1.000 desain ia ciptakan untuk baju koko Al Mia.

Sebagai tambahan informasi, Al Mia adalah pelopor baju koko modern di Indonesia yang didirikan pada 2006. Produk-produknya sangat terkenal di kelas menengah atas. Beberapa program di televisi dan acara off air juga kerap disponsori oleh Al Mia. Selain baju koko yang menjadi andalan, Al Mia juga merambah produk lainnya, seperti gamis dan hijab.

Disinggung soal inspirasi, penggemar MotoGP itu menjelaskan, inspirasi itu datang dari keinginan dan lebih sering dari kebutuhan. Kebutuhan seperti apa yang diinginkan disitulah inspirasi didapat.

“⁠⁠Rumah seperti apa yang ingin saya tinggali, dari situlah saya membangun. Dan baju seperti apa yang diinginkan, dari situlah saya mendesain,” jelas alumni Darussalam Modern Islamic Boarding School Ponorogo itu.

Selain mendesain baju koko eksklusif Al Mia, Dzulqor juga mengembangkan kemampuannya di bidang jasa desain logo. Dengan bendera 83 Designs, Dzulqor sering kebanjiran pesanan. Berbagai perusahaan, lembaga swadaya masyarakat dan komunitas di berbagai wilayah di Indonesia sudah menjadi kliennya.

Diantaranya, Aqiqah Bunayya Kediri, Tanduran Photo Art (TAPA) Pekalongan, Rumah Baca Labasa Indramayu, Mooza Milk Pekalongan,  Glory Mind, Soera Peladjaran dan Fabana.id.

Tidak hanya itu, sebagai wujud syukur dan kepeduliannya kepada sesama, Dzulqor bersama beberapa temannya mendirikan lembaga sosial Shakaro Foundation. Sebagai co-Founder, Dzulqor menjelaskan, kehadiran lembaga sosial tersebut untuk menyeimbangkan kebutuhan lahir dan batin. Serta didedikasikan sebagai wadah berkreasi bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kemampuan dalam diri secara maksimal.