Dampak Brand Awareness

FABANA.id Ibarat manusia, sebuah produk yang baru diluncurkan adalah bayi yang baru lahir dari rahim sang ibu yang tidak lain adalah perusahaan itu sendiri sebagai ibunya. Butuh kasih sayang dan kerja keras untuk mengenalkan nama anak kepada khalayak. Agar kelak, saat berjumpa dengannya tidak lagi menyebut “hai anak muda” atau “hai nak” tapi langsung menyapa dan menyebut namanya “Hai Agus” misalnya.

Nama sebuah produk yang dikeluarkan oleh perusahaan dikenal dengan istilah brand atau merek. Agar supaya brand dapat dikenal secara luas dan diingat oleh masyarakat sepanjang zaman dibutuhkan sebuah aktivitas pengenalan merek (brand awareness) dengan cermat dan dengan hitungan investasi yang tepat.

Dampak brand awareness tidak hanya mengenalkan nama merek semata, lebih dari itu bahkan bisa mengganti nama kategori produk dengan nama merek. Contoh yang sudah umum dimasyarakat adalah kategori toko buku. Agresifnya Kompas Gramedia dengan brand awareness mampu menggeser penyebutan toko buku dengan nama Gramedia. Sehingga ramai di masyarakat saat ingin pergi membeli buku di toko buku dengan menyebut pergi ke Gramedia.

Dan banyak lagi perumpamaan lain yang sering dijumpai sehari-sehari terkait dengan reposisi kategori produk dengan nama produk. Mengutip penelitian dari MARS Indonesia, jika perusahaan berhasil mengenalkan dan membesarkan nama anaknya. Maka, sang anak tidak hanya dikenal tapi juga diketahui (knowladge) setelah itu berlanjut menjadi rasa suka (liking).

Jika publik sudah ada rasa suka, maka secata otomatis langkah berikutnya akan timbul minat (intention), baru kemudian terjadi keputusan untuk melakukan pembelian (purchase). Jika sampai pada tahap ini, konsmen merasa puas dengan produk yang dikenalkan, maka dia akan menjadi pelanggan yang loyal (loyalty) dan tidak menutup kemungkinan akan terus datang kembali dan kembali datang membeli produk yang ditawarkan (repreat order).

Marketing Mix
Terlepas dari kontroversi terkait undang-undang Corporate Social Responsibility (CSR) yang mewajibkan perusahaan mengeluarkan dana sebesar 2% dari keuntungannya. Maka, sudah menjadi kesadaran sendiri bagi perusahaan bahwa CSR tidak hanya sebatas pada aktivitas suka rela (voluntary) tapi juga program pemasaran perusahaan.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh Mark Magee, General Manager of IKEA Indonesia. Ia menegaskan bahwa ‘CSR is not Charity, it is an integral part of the marketing mix’. Anggaplah ada regulasi yang mewajibkan (mandatory) bagi perusahaan mengeluarkan dana sebesar 2% untuk kegiatan sosial dan lingkungan.

Jika melihat pada aspek pengeluaran, belum lagi dana pajak yang dikeluarkan, tentunya akan memberatkan perusahaan dalam menjaga cash flownya. Namun, jika berangkat dari kesadaran bahwa CSR bukanlah sebuah dana hibah atau sukarela (charity), merupakan dana kombinasi pemasaran sekaligus bantuan sosial.

Maka, dengan begitu, dana yang dikelurkan lebih tepat sasaran dan bisa memperkuat brand awareness perusahaan di masyarakat. Dan tentunya, perusahaan tidak perlu khawatir akan ‘kehilangan’ dananya bukan?

Bentuk penyaluran dana CSR pun beragam, seperti yang dilakukan oleh IKEA dalam menjalankan program CSR nya, perusahaan asal Swedia itu menggandeng Mercy Corp Indonesia untuk membuat 100 septic tank knocdown sebagai program dari pengadaan air bersih dan sanitasi limbah di Kecamatan Penjaringan Jakarta.

Bisa juga dengan mendirikan yayasan (foundation) dengan nama perusahaan. Seperti yang dilakukan oleh HM Sampoerna. Lewat Putra Sampoerna Foundation yang berdiri sejak tahun 2001, turut serta memberikan warna tersendiri dalam dunia pendidikan Indonesia. Hampir sama dengan IKEA, perusahaan ritel asal Korea Lotte Mart juga tidak lupa dengan program CSR nya. Bedanya, dana CSR Lotte Mart disalurkan dan dikelola oleh lembaga filantropi Rumah Zakat yang sudah menjadi mitranya sejak 2013.

Dari semua brand tersebut, yang terus konsisten menerapkan strategi CSR nya, dari pengamatan penulis sendiri, nama-nama tersebut terus terjaga brand awareness nya dan bisa dipastikan juga nama perusahaan akan terus meroket.

Oleh: Syukron Ali 

*Tulisan ini dimuat juga di shakaro.or.id