haidir-odoj

Selesai bulan Ramadhan, selesai pula tilawah Alquran. Selesai pula pesan-pesan moral, motivasi spiritual dan seabreg aktifitas religiusitas lainnya. Belum lagi tayangan di televisi yang sekarang makin menjauh dari pendidikan moral. Kondisi yang memprihatinkan bangsa ini, menggetarkan semangat Haidir dan Riki serta beberapa rekan lainnya untuk memberi sentuhan baru bagi generasi muda Indonesia.

Sebuah kegiatan mengaji One Day One Juz (ODOJ). Yaitu menargetkan dalam satu hari dapat selesai membaca Alquran satu juz secara personal. Caranya dengan membaca dua lembar Al Quran usai shalat lima waktu. Kurang lebih hanya menghabiskan waktu 5-10 menit usai shalat.

Harapannya, dengan pendekatan seperti itu, setiap satu juz Alquran yang berjumlah sepuluh lembar bisa selesai dibaca dengan fun dan ringan dalam satu hari.

“Selain target personal, ODOJ yang sudah memiliki member sebanyak lima puluh ribu lebih ini, dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok punya 30 (tiga puluh) anggota. Jadi, kalau tiap anggota bisa selesai satu juz perhari, maka satu kelompok bisa menkhatamkan Alquran (30 Juz) setiap hari,” terang Haidir saat ditemui di kantornya di Kementerian Agama Selasa (7/1/2014).

Haidir menegaskan. Gerakan yang bertujuan menjadikan baca Alquran sebagai budaya ini, tidak ada kaitannya dengan program Kementrian Agama, agenda parpol tertentu, apalagi ingin mengorbitkan salah satu pengurus atau anggota ODOJ menjadi tokoh tertentu. Semua dilakukan murni atas keterpanggilan hati menyatukan umat dengan Al Quran, menjadikan baca Alquran sebagai budaya dan tradisi di dunia.

“Bahkan kami punya rule. Komunitas ODOJ tidak akan membahas politik, atau berbisnis seperti membuat kaos atau pin untuk anggota. No Poliik, No bisnis!” tambah pria kelahiran Enrekang Sulawesi Selatan 20 Agustus 1982 ini, meyakinkan.

Sementara itu, Riki Adrinaldi, koordinator pusat ODOJ menjelaskan bahwa, gerakan komunitas ODOJ ini bermula dari gabungan beberapa metode baca Alquran dari Komunitas Alumni Surabaya (komunitas alumni perguruan tinggi di Surabaya) dan Rumah Alquran Depok. Yang kemudian berkembang pesat seperti sekarang.

Sebelum itu, tahun 2009 sudah ada metode ODOJ by sms, kemudian tahun 2010 via Blackberry messenger. Dan dua puluh dua pengurus komunitas ODOJ sekarang ini, terdiri dari berbagai backround pendidikan yang berbeda,” terang Riki.

Riki menegaskan kembali, demi menjaga idealisme. Semua pengurus komunitas ODOJ tidak menerima fee dari sosialisasi ODOJ di berbagai daerah di Indonesia.