Ridwan adalah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor/Gontor) yang berasal dari suatu desa terpencil di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Sejak tamat dari Gontor, sekitar 30 tahun lalu, dia belum pernah sekali pun kembali menjenguk pondoknya, PM Gontor. Selain karena keterbatasan finansial, aktivitasnya di desa cukup menyita waktunya. Tahun ini, demi mendengar bahwa PM Gontor akan mengadakan Peringatan 90 Tahun dan akan menggelar Reuni Akbar, hatinya sontak bergetar, seolah kembali teringat pada kekasih lamanya. Kawan akrabnya sekabupaten, berbeda kecamatan, memberi tahu hal itu.

Mulanya, ia ragu, mengingat lama perjalanan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk sampai ke Gontor. Akhirnya, ia menemukan cara untuk kembali menjenguk “kekasih lama-”nya itu. Sepeda motor, ya, sepeda motor satu-satunya yang biasa menemaninya beraktivitas di kampung itu akan “diajaknya” ke Gontor. Dengan bekal secukupnya untuk perjalanan bolak-balik, dan bekal selama di Gontor, ia pamit kepada istrinya. Mata istrinya berkaca-kaca melihat azam suaminya yang kuat itu. Meski berat, akhirnya dilepaskannya pula kepergiannya. Selepas Subuh, sebelum matahari terbit, dia mulai meniti jalan di desanya, meninggalkan rumah, sawah, dan kampung halamannya dengan sepeda motor, menuju Gontor.

Singkat cerita, Ridwan berhasil sampai ke Gontor. Teman-teman yang sudah sekitar 30 tahun lalu tak pernah dijumpainya, menyambutnya di markas angkatan, salah satu rumah alumnus di desa tetangga Gontor. Ada Hafizh, pengusaha sukses bidang periklanan; ada Rudi, kontraktor besar yang melanjutkan usaha ayahnya; ada juga si kurus Ismail yang sama sepertinya, istiqamah menjadi petani dan guru mengaji di kampung. Satu lagi, Yusrial yang telah menjadi profesor dan menduduki kursi rektor perguruan tinggi di daerah asalnya, dan masih banyak lagi. Rasa bangga, haru, bahkan juga minder berkecamuk di hati Ridwan. Apalagi setelah giliran teman-teman bertanya aktivitasnya setelah keluar Gontor dulu dan kini. Dengan lugu dikisahkannya, bahwa dia mengaku sempat mengenyam bangku kuliah di perguruan tinggi lokal di kabupatennya hingga S1. Sayang, keterbatasan biaya membuat langkahnya terhenti, meski prestasi akademiknya cukup bagus. Akhirnya, dia pulang kampung, mengabdikan diri sepenuhnya untuk masyarakat, bertani dan mengajar mengaji.

Ya, sepenggal kisah di atas benar adanya. Hanya, nama, tempat asal, dan angkatannya tentu saja dibuat fiktif. Masih banyak Ridwan-Ridwan yang lain, alumnus Gontor dari beberapa pelosok Tanah Air, namun tekadnya sama, ingin menghadiri Reuni Akbar di Gontor.

***

Dalam tiga hari itu (1–3 September 2016), Gontor dibanjiri manusia dengan berbagai usia dan profesi. Mereka adalah para alumni yang akan menghadiri Reuni Akbar. Bagian penerimaan tamu jelas tidak mampu menampung mereka. Konon, lebih dari sebulan lalu, rumau-rumah penduduk di Desa Gontor dan sekitarnya disewa untuk penginapan atau markas angkatan para alumni Gontor. Ada juga yang tidak perlu menyewa, yakni karena rumah itu milik guru-guru PM Gontor. Para alumni itu sepakat menjadikannya markas. Beragam tulisan menghiasi pagar depan rumah atau kelokan jalan. Ada yang menulis “Markaz Tajammuk Marhalah ….;” “Base Camp Alumni Siska.” “Tempat Ngumpul Angkatan …..,“ dan seterusnya. Membaca tulisan itu saja sanggup membayangkan betapa besar antusiasme para alumni itu. Hari Sabtu, tanggal 3 September 2016, Reuni Akbar, dalam rangka Peringatan dan Kesyukuran 90 Tahun PM Gontor digelar, setelah dua hari sebelumnya diawali dengan berbagai macam pertemuan alumni Gontor sesuai dengan profesi masing-masing.

Tanggal 2 Sepetember sore dan malam, hampir semua alumni yang akan mengikuti reuni telah tiba di base camp angkatan masing-masing. Mereka hadir dengan berbagai macam cara. Ada yang naik pesawat, kapal laut, kereta api, kendaraan pribadi roda empat, roda dua, hingga bersepeda, berkursi roda, dan berjalan kaki. Mereka datang dari seluruh pelosok Tanah Air, mulai Aceh hinggga Irian Jaya; dari Pulau Kalimantan yang terbesar, hingga Alor, pulau kecil di kawasan Nusa Tenggara Timur; dari alumni dekade 1950–1960-an (dan berusia di atas 60 atau 70 tahun) hingga alumni yang baru keluar bulan Ramadhan kemarin. Ada yang tengah mengemban amanat menjadi pejabat tinggi negara, pejabat daerah, anggota legislatif, hingga menjadi kepala desa, Ketua RW/RT; ada anggota partai yang nasionalis maupun partai keagamaan, dan non partisan; pengikut ormas seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dsb. Mereka tumplek bleg di Kampus PM Gontor.

Pertemuan itu, sungguh, meretas semua sekat yang menjadi pembatas mereka di masyarakat: sekat partai, sekat ormas, sekat usia, sekat angkatan, masa ketika Trimurti masih ada ketika Trimurti telah semuanya wafat. Hanya ada satu hati bagi mereka: kembali ke Gontor, ibu kandungnya. Mereka memiliki niat yang sama, tujuan yang sama, degub dada yang sama; getaran perasaan yang sama: senang, haru, bahagia, rindu menjenguk pondok. Mereka ingin kembali melihat perkembangan pondok, silaturahim dengan Pimpinan Pondok, guru-guru, dan sahabat karib seangkatan; ingin kembali makan dengan menu yang sama, kembali mengenakan sarung dan pergi ke masjid. Pokoknya, semua yang pernah menorehkan sejarah kehidupan selama di pondok, ingin kembali dikenang, dirasakan, diulang kembali, dinapaktilasi.

Pertemuan itu pun diwarnai jabatan tangan sangat erat, pelukan amat kuat, serta tetes air mata yang dahsyat. Memang, karena sedaerah dan rumahnya berdekatan, ada yang hampir setiap hari bertemu. Namun, tidak sedikit pula yang hanya bisa bertemu setahun sekali; dan lebih banyak lagi yang belum pernah bertemu sejak meninggalkan pondok puluhan tahun silam. Pertemuan itu sayang sekali kalau disia-siakan. Maka, mereka pun melampiaskannya dengan ngobrol hingga larut malam, bahkan dini hari. Pokoknya, hari itu, tidak ada yang lebih indah, lebih nikmat, bahkan lebih penting, kecuali pertemuan itu. Anak-istri pun ditinggalkan.

Seorang alumnus dari Medan Sumatera Utara, yang datang dengan kursi roda, didampingi kedua anak kembarnya yang baru tamat Gontor Ramadhan lalu, berujar, “Tadinya, karena sakit macam ini, aku tak akan datang, khawatir merepotkan banyak orang, apalagi kalau ke kamar mandi. Tapi, kalau aku tak datang juga, akan lebih sakit rasanya, karena hanya mendengar cerita dari teman-teman yang datang. Akhirnya, berangkat jugalah aku. Ha..ha..ha..ha.” Tawanya lepas usai berkisah itu.

Banyak yang susah mengenali sahabat karibnya, meski sekelas sekalipun. Rambut mereka, sebagian atau seluruhnya sudah memutih; wajahnya pun memperlihatkan garis ketuaan; ada yang giginya sudah banyak tanggal. Bertahun-tahun mereka dipisahkan oleh lautan, daratan, negara, dan aktivitas. Setelah saling kembali memperkenalkan diri, suasana haru pun meledak. Kalimat Ya Allah, Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, atau ya salam pun bertubi terdengar. Pertemuan kembali itu laksana perpisahan. Mereka saling memamerkan air mata, menangis haru, tanda syukur, rasa bahagia.

Dalam memori saya, rasanya, tidak ada alumni lembaga pendidikan manapun yang kecintaannya kepada almamater melebihi alumni Gontor. Sekali lagi, mereka bukan hanya mencintai dan merindukan sekolahnya, melainkan juga kyai sekaligus ajaran atau nasihatnya, wali kelas dan guru-gurunya, kampus lengkap dengan segenap atmosfernya, serta, tentunya, sahabat karibnya.

Guru-guru yang rumahnya dijadikan basecamp berkisah, bahwa para alumni itulah yang menentukan menu masakan, yakni menu seperti ketika mereka mondok puluhan tahun silam. Misalnya, untuk makan siang, menu Dapur A hari Rabu; untuk makan malam, menu Dapur B hari Kamis, dst., yang wujudnya tidak lebih dari masakan sederhana berikut ini: sayur lodeh kacang panjang, atau nangka muda (tewel) atau terong, tumis kangkung, dengan sambel terasi istirahat pertama (salathah rahah), pecel, bothok, sate ayam/kambing, sayur bening, dengan lauk tempe goreng, tahu goreng, dan rempeyek. Masya Allah, dengan senang hati, para tuan rumah itu menyanggupi segenap “tuntutan” para alumni sahabatnya itu.

Untuk tidur? Ah, itu bukan masalah, termasuk para alumni yang berusia 60 tahun ke atas. Jika kamar-kamar di rumah markas itu tidak mencukupi, mereka pun rela tidur di bawah atau di teras rumah, dengan hanya beralaskan karpet atau kasur-kasur tipis, dan berbantal. Toh, pengalaman itu pernah dialami bertahun-tahun semasa mondok dulu. Yang penting, mereka dapat kumpul kembali dengan teman-teman seangkatan, kembali menghirup udara dan atmosfer pondok. Semua dirindukan, semua ingin dilihat, dikunjungi, dirasakan kembali getarannya. Ada yang mengibaratkan seperti aki/baterei, kembalinya mereka ke Gontor supaya mendapat setruman, energi-energi positif, yang menebar rahmat dan barakah.

Tidak ada yang tidak menitikkan air mata, ketika meresapi kenangan itu: ketika melihat kembali bel besar; ketika melihat ruang kelasnya yang masih seperti dulu, atau telah berubah fungsi; saat bertemu dengan guru-guru yang tetap memegang nilai kesederhanaan; atau menyaksikan bekas asramanya yang telah bertingkat dan memiliki kamar mandi sendiri, tidak jadi satu dengan asrama lain, sehingga antrean lebih pendek. Yang tak luput dari kunjungan, adalah makam Trimurti Pendiri: K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannani, dan K.H. Imam Zarkasyi. Ya, mereka adalah anak-anak ideologis para pendiri PM Gontor itu.

Adapun hal yang paling disukai adalah “tajammu‘,” berkumpul dan makan bersama dalam satu wadah, atau makan makanan kecil tradisional sambil ngobrol hingga larut malam, bahkan dini hari. Tak pelak, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Abdurrahman Muhammad Fachir (AM Fachir), yang alumnus tahun 1976, usai mengisi acara resmi di Pondok Pesantren Walisongo, Ngabar, meski telah pukul 22.00, rela kembali ke base camp angkatan, (rumah Ustadz Noor Syahid) demi menemui teman-teman seangkatannya. Yang diobrolkan, tentu seputar kenangan, pengalaman, serta kabar sahabat karib yang tak bisa datang. Juga pengalamannya menembus jabatan yang diembannya saat ini.

Pada tanggal 3 Sepetember pagi, perhelatan itu digelarlah. Ribuan alumni berdatangan menuju tempat berkumpul, yakni di depan BPPM atau Masjid Jami‘.

Saat memasuki tempat pertemuan, beragam atribut dan pakaian yang dikenakan para alumni itu. Di antaranya ada yang mengenakan batik, baju koko, kaos, topi, dan pin yang disematkan di dada. Sebagai alumnus tahun 1976, Wamenlu AM Fachir pun bangga ikut mengenakan pin angkatan. Barangkali, yang terheboh adalah alumni angkatan 1975. Di antara mereka ada yang merepresentasikan sosok Pak Sahal, Pak Fannani, dan Zar. Maka, Drs. H. Imam Budiono Sahal, M.A., Prof. Dr. K.H. Dien Syamsuddin, M.A. dan K.H. Dr. Ahmad Hidyatullah Zarkasyi, M.A., didapuk merepresentaskan sosok Pak Sahal, Pak Fannani, dan Pak Zar. Sementara itu, penggembiranya (teman-teman seangkatan, mengenakan kaos, dan topi oranye. Hadirin pun bersorak sorai demi menyaksikan hal itu.

Di tempat duduk, para alumni itu masih riuh dengan obrolan masa lalu, sebab, ada yang baru datang, bertemu, dan bergabung pagi itu. Kian banyak alumni memasuki tempat acara, kian riuh rendah obrolan terdengar. Pukul 08.30 Pagi, para alumni itu telah menyemut di depan masjid, Balai Petemuan Pondok Modern, hingga utara gedung Saudi, melebihi luas tarup yang disediakan. Konon, yang hadir dalam Reuni Akbar itu tidak kurang dari 11.000 orang. Allahu Akbar! Itu pun belum semuanya. Jelas, ada yang berhalangan karena satu dan lain hal.

Acara pun dimulai. Master of Ceremony, Heppy Chandrayana, alumnus Gontor tahun 2001, memohon hadirin agar tenang, karena acara akan dimulai. Lantas, qari, alumnus Gontor 2002, membacakan ayat al-Qur’an secara tartil/murattal, bukan mujawwad. Acara dilanjutkan, yakni menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan Hymne “Oh Pondokku.” Inilah acara yang dinanti-nantikan. Saat lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan, suasana emosional kebangsaan timbul menyeruak di hari para alumni itu, dan hatinya mengatakan, “Inilah Gontor, yang tak perlu diragukan nasionalismenya.” Berikutnya, menyanyikan Hymne “Oh Pondokku”.

Hymne “Oh Pondokku” benar-benar meretas sekat-sekat apapaun yang dimiliki para alumni Gontor. Seolah, dengan melantunlan hymne itu, mereka ingin meneguhkan bahwa dirinya benar-benar anak kandung ibunya: Gontor. Hymne itu juga membuat air mata mengalir deras, mengingat kenangan masa lalu yang semalam suntuk telah mereka perbincangkan. Pengalaman kerja sama, konflik, dan bersaing; pengalaman dimarahi kyai, pengalaman menjadi pengurus, dsb., semuanya menjadi indah untuk kembali dikenang dan dikisahkan.

Memang, belum pernah ada reuni dengan hadirin sebanyak itu. Allahu Akbar. Acara diisi dengan pidato dari tokoh-tokoh alumnus Gontor, yaitu Prof. Dr. K.H. Dien Syamsuddin, M.A., K.H. Dr. Hidayat Nur Wahid, M.A., Dr.H. AM Fachir, dan K.H. Hasyim Muzadi. Acara ini juga dimaksudkan sebagai muhadharah atau latihan pidato yang biasa dilakukan para santri seminggu 3 kali. Namun sayang, hal itu terasa agak monoton, mengingat frekuensi pemunculan pembicara, dalam 10 tahun ini, cukup sering. Alangkah baiknya jika yang dimunculkan, misalnya, Bapak Ahmad Fuad Effendy, pakar bahasa Arab di Indonesia, juga alumnus Gontor yang tengah menjabat Rektor, seperti Prof. Dr. Azhar Arsyad, dan berbicara dalam bahasa Inggris, seperti pertemuan serupa tahun 2003. Ketika itu, yang berbicara Prof. Dr. Nurcholish Madjid (bahasa Indonesia), Dr. Ahmad Syatori Ismail, M.A. (bahasa Arab), Prof. Dr. Dien Syamsuddin, M.A. (bahasa Inggris).

Tidak kalah menarik jika diberi kesempatan alumni yang sukses dalam bidang masing-masing, seperti pengusaha, praktisi pendidikan (dosen, guru, kyai), da‘i, petani, atau peternak sekali pun. Saya yakin, siapapun yang berbicara di forum itu, ketika itu, akan memberi inspirasi kepada para hadirin. Pengalaman dan suka duka mereka tentu akan sangat menarik dikisahkan. Namun, jika tidak, semoga ada yang menuliskan pengalaman mereka dalam sebuah buku.

Usai pertemuan, banyak alumni yang langsung pulang, tentu saja karena tuntutan tugas masing-masing dengan membawa kenangan dan harapan, semoga dapat berkumpul kembali. Sekitar 3 hari kemudian, sudah ada alumni yang mengunggah fotonya di media sosial, tengah menunaikan ibadah haji. Allahu Akbar! Dalam kesempatan menunakan ibadah haji itu, puluhan alumni dan guru Gontor yang juga tengah menunaikan ibadah haji melakukan sujud syukur memperingati 90 tahun usia Gontor di Masjidil Haram, dilanjutkan dengan pertemuan bersama Lukman Hakim Saifuddin, alumnus Gontor, Menteri Agama, yang tengah menjadi Amirul Hajj.

Subhanallah! Lelah rasanya membuat lukisan tertulis seperti ini. Susah menghadirkan atmosfer, situasi, dan perasaan yang hadir saat itu. Mohon maaf jika tidak mewakili hal itu. Tak semua yang saya kenal saya temui; dan tidak semua yang saya temui saya kenal. Tetapi, tak kuasa, air mata ini menetes jua. nasrulloh zainul muttaqien

Sumber: http://www.gontor.ac.id/catatan/catatan-yang-tertinggal-reuni-akbar-90-tahun-pondok-modern-gontor