Kita sering berdebat masalah khilafiyyah, sehingga lupa yang ushul. Khilafiyyah, sesuai artinya adalah perbedaan. Jadi, jika berbicara khilafiyyah pasti ketemunya perbedaan terus.

Sebagai contoh: Qunut dalam shalat Subuh adalah khilafiyyah (furu‘/ cabang). Sedangkan shalat Subuhnya adalah ushul (pokok). Jangan terus diperdebatkan ada tidaknya qunut dalam Subuh, hal itu telah 13 abad menjadi pembahasan ulama fiqh dan sudah selesai. Ribuan jilid dan jutaan halaman kitab telah membahasnya. Tinggal baca saja kitab-kitab itu dan amalkan.

Yang meyakini shalat Subuh memakai qunut, lakukanlah. Berarti ia menganut Madzhab Maliki atau Syafii. Meskipun antara kedua madzhab tersebut berbeda pula tata caranya. Menurut Madzhab Maliki qunut afdolnya dibaca sebelum ruku, sedangkan menurut Madzhab Syafii dibaca setelah ruku seperti yang umum dilakukan kaum muslimin di Indonesia.

Sebaliknya, yang meyakini tidak ada qunut dalam Subuh, lakukanlah. Berarti ia menganut Madzhab Hanafi atau Hambali. Kedua Madzhab ini berpendapat bahwa qunut dibaca hanya dalam shalat witir saja. Dibaca sebelum ruku menurut Hanafiyah, dan setelah ruku menurut Hambaliyah.

Namun, dalam konteks qunut nazilah, yaitu qunut yang dibaca saat kaum muslimin sedang tertimpa bencana atau musibah, maka Madzhab Hanafi, Syafii dan Hambali sepakat disunahkan dibaca dalam semua shalat fardu. Tetapi, Madzhab Hambali menekankan hanya pada shalat Subuh saja, sedangkan Madzhab Hanafi menganjurkan untuk membacanya hanya dalam shalat jahriyah (bersuara): Subuh, Maghrib dan Isya.

Nah, masalah qunut saja pendapatnya beragam dalam madzhab-madzhab yang empat. Silahkah jalankan saja, toh pilihan sudah ada dalam pendapat madzhab-madzhab itu. Masing-masing jangan saling mempengaruhi. Khilafiyyah seperti ini telah berlangsung dan mengakar dalam tradisi intelektual Islam sejak 13 abad yang lalu.

Seharusnya, yang Subuhan pakai qunut silahkan pengaruhi dan ajak orang yang belum shalat Subuh agar shalat Subuh pakai qunut. Demikian pula yang tidak pakai qunut. Jadi, yang diajak yang belum shalat Subuh. Ini baru benar! Dakwah namanya!

Contoh lain: bab dzikir dan wirid. Tidak perlu menghabiskan waktu untuk memperdebatkan apakah wirid setelah shalat dilakukan secara berjamaah dan jahr (bersuara) atau tidak. Ini khilafiyyah. Sedangkan yang ushul adalah wirid setelah shalat itu sendiri. Rasulullah jelas-jelas menekanlan pentingnya wiridan usai setiap shalat, hanya saja oleh ulama madzhab dipahami berbeda dalam teknisnya.

Jadi, lakukanlah wirid setelah shalat! Terserah: apakah akan dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri, apakah secara jahr (bersuara) atau sirr (dalam hati). Yang penting wiridnya! Tidak ada seorang ulama pun yang menyangkal adanya wirid setelah shalat.

Bahkan, dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili disebutkan bahwa para ulama madzhab sepakat dzikir istighfar setelah shalat dapat menambal kekurangan dalam shalat. Sedangkan doa adalah langkah untuk mendapatkan tambahan pahala setelah mendekat kepada Allah dengan shalat.

Sebagaimana halnya dzikir. Yang ushul adalah dzikirnya itu sendiri, karena merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Quran maupun Hadis.

Apakah dzikir itu dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri, adalah masalah khilafiyyah. Yang tidak benar adalah yang tidak mau berdzikir. Lebih tidak benar lagi adalah yang mengingkari perintah dzikir.

Termasuk bab tahlil. Tahlil adalah membaca kalimat tauhid: “laa ilaaha illalLaah”; bahkan kalimat itu menjadi pintu masuk keislaman seseorang. Orang yang mengingkari perintah tahlil, bisa-bisa ia menjadi kafir. Ini termasuk ushul. Adapun apakah tahlil dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri; itulah khilafiyyah.

Seperti halnya bab shalawat. Orang yang anti shalawat, berarti dia menolak perintah Allah dan tidak mengakui kenabian Muhammad SAW. Shalawat merupakan perintah langsung dari Allah, bahkan satu-satunya perintah yang Allah mulai dengan Diri-Nya sendiri. Hadis-hadis tentang perintah dan keutamaan shalawat segudang jika ingin dikaji.

Maka, setiap orang muslim wajib bershalawat atas Nabi Muhammad SAW. Bahkan, hampir dalam semua ibadah selalu diselipkan shalawat. Dalam shalat ada shalawat. Dalam khutbah juga demikian. Shalat jenazah yang hanya 4 takbir pun, salah satunya adalah bacaan shalawat.

Maka, shalawat adalah ushul. Bahkan, setiap mukmin dianjurkan sekali untuk memperbanyak shalawat. Apakah shalawat akan dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri, itulah khilafiyyah.

Janganlah terus memperdebatkan khilafiyyah sehingga mengaburkan yang ushul. Apalagi menganggap yang khilafiyyah sebagai ushul.

Inilah diantaranya yang membuat umat Islam lamban kemajuannya. Karena energinya habis membesar-besarkan khilafiyyah, dan lupa pada yang ushul. Apalagi jika khilafiyyah itu menimbulkan perpecahan pada umat.

Ulama dahulu berbeda pendapat dan umat menikmati perbedaannya. Maka, perbedaan pendapat menjadi rahmat bagi umat. Ada Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafii dan Imam Hambali; mereka berbeda pendapat, akan tetapi kita sebagai umat malah diuntungkan dengan adanya perbedaan pendapat itu. Itulah perbedaan pendapatnya orang alim dan saleh. Pasti membawa kesejukan.

Yang terjadi sekarang, perbedaan pendapat ulama tidak jarang malah menimbulkan ketegangan pada umat. Ini memprihatinkan. Dan harus dicari apa faktornya sehingga bisa seperti ini.

Maka, bagi orang awam jika tidak mengerti hukum agama tanyakan pada orang alim, faqih atau orang yang sangat mumpuni dalam bacaan kitab-kitab. Jangan tanya pada orang yang ilmunya tanggung, apalagi pada orang bodoh.

Saat ini, umat Islam lebih tertarik pada statemen dan fatwa orang awam daripada fatwanya ulama. Sebab, fatwanya ulama itu bersih, pakem, kadang tidak sesuai selera yang bertanya. Sedangkan fatwanya orang awam seringkali dibumbui ini itu sehingga nampak menarik.

Boleh buka internet, googling atau lewat medsos, tapi harus tetap waspada. Sebab, yang menulis di medsos terkadang belum tentu orang yang alim, atau malah sama sekali tidak bisa baca kitab. Namun, karena kita tidak mengerti juga, sehingga mudah terpesona. Parahnya, setelah itu ikut pula menyebarkannya. Sehingga yang terjadi adalah pembodohan, bukan pencerahan.

Oleh karenanya, belajar dan mengaji lewat majelis ta’lim, bertatap muka dengan guru yang alim dan ada kitab yang dibaca adalah hal sangat penting dan mendasar. Tidak bisa serta merta digantikan dengan medsos atau mencukupkan diri dengan mengakses internet. Ayo ngaji! Agar tidak terus menerus dalam kebodohan!

10 Syawal 1438 H
4 Juli 2017

Oleh: Anang Rikza Masyhadi
Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Foto: Flickr @Cindi