mohamed-al-zammar-palestinian-artist-587x365Hidup ini indah, yang membuat tidak indah adalah manusianya. Begitu pesan KH Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan Pondok Gontor. Salah satu keindahan itu ada pada seni, sebagaiamana yang dicontohkan oleh pemuda asal Gaza, Palestina ini.

Namanya Mohamed Al Zammar. Meski negerinya tidak pernah berhenti konflik dengan Israel, yang kadang tiba-tiba bom meluncur dari arah yang tidak diduga sebelumnya. Al Zammar tidak berhenti berkreasi, pecahan peluru roket dan rudal Israel ia kumpulkan dan disulap menjadi benda bernilai seni yang indah.

Seperti halnya kata ‘earth’ yang jika tiga huruf di tengah yang membentuk sebuah kata ‘art’ dihapus, maka yang sisa hanya kata ‘eh’. Karena itu, menurut seniman visual dari Palestina ini, di Gaza seni punya sesuatu yang berbeda.

Seperti yang dikutip di worldbulletin.net (5/2/2014). Lewat karya seni dari serpihan rudal dan roket Israel itu, Al Azammar ingin menyampaikan sebuah misi perdamaian.

”Seni sebagai cerminan kehidupan masyarakat. Seni yang saya buat sebagai cerminan kehidupan kami. Dan seni ini adalah cerminan penderitaan kami. Pengepungan dan pengungsian,” ujar Al Zammar.

Al Zammar menambahkan, lewat seni. Ia ingin menyampaikan ke pada dunia, bahwa bangsa Palestina sangat menghargai kehidupan dan keindahan. Meskipun, mereka telah di usir dari tanah mereka di tahun 1948 dan 1967.

Rupanya tidak hanya Al Zammar. Ada sejumlah aktivis sekaligus seniman asal tepi Barat Palestina, diantaranya adalah Sami Musa dan Muahammad Khatib.

Bedanya, ke dua pemuda itu membuat karya dari tabung gas air mata Israel, kawat berduri dan sebagian dari tembok pemisah israel. Karya tersebut di pamerkan 25 Januari lalu, dalam sebuah pameran seni bernama “Chich Art Resistance’ di Ramallah Palestina.