Lalu, bagaimana cara membawa ribuan makanan itu, tanpa memancing perhatian para Polisi Israel? Tidak ada pilihan lain, kecuali menggunakan gerobak sederhana. Dengan gerobak terserbut, ribuan makanan sampai untuk para penjaga Al-Aqsa

FABANA.id. Gaza-Palestina. Tidak pernah mudah untuk bergerak bebas, berjalan menyusuri lorong-lorong klasik berdinding batu, mengitari Kompleks Suci Al-Aqsa. Sepanjang hari, bahkan sebelum tensi ketegangan meningkat di Al-Aqsa, para polisi keamanan Israel itu tidak pernah luput memicingkan matanya, mengawasi setiap gerak-gerik warga Palestina.

Mereka, polisi Israel bersenjatakan lengkap itu, tak henti memasang wajah penuh tuduhan dan kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan sinis kepada ribuan turis dan peziarah Muslim yang datang untuk beribadah di dalam Al-Aqsa.

Untuk sekadar berjalan seorang diri saja bukan urusan mudah, apalagi sembari menenteng ribuan makanan hangat, ribuan kebahagiaan sederhana yang dibawa dari Dapur Umum Indonesia untuk Al-Aqsa?

Tantangan inilah yang setiap harinya dihadapi oleh belasan relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bermukim di sekitar Kota Suci Al-Aqsa.

Sepanjang hari, komitmen ACT adalah menjaga Dapur Umum dari Indonesia untuk Al-Aqsa itu bisa tetap mengepul. Ada ribuan kebaikan makanan hangat yang harus bisa sampai ke tangan para Mourabitoun dan Mourabitat, para penjaga dan pembela Al-Aqsa.

Juga ada ribuan makanan santap siang dan santap malam yang harus bisa sampai ke tangan jemaah-jemaah Al-Aqsa yang selalu beritikaf di dalamnya. Mereka menjaga Al-Aqsa dengan beritikaf, berdiam diri di Aqsa, mengadu kepada Sang Pemilik Alam Semesta.

Mengapa makanan? Santapan siap saji itu jadi pemantik semangat. Makanan hangat dari Dapur Umum Indonesia untuk Aqsa jadi keberkahan sederhana di tengah upaya heroik para penjaga Al-Aqsa.

Para relawan sedang membagikan makanan kepada para penjaga Al Quds (Almurobit) Foto: Fan Page Bang Onim di Palestina

Sudah sampai di hari kelima, distribusi logistik dari Dapur Umum Indonesia untuk Al-Aqsa hadir di luar kompleks Al-Aqsa. Jumat kemarin (28/7), distribusi makanan hangat siap saji mengambil titik di dekat Bab Alwad atau Gerbang Alwad. Setiap harinya, lokasi distribusi ini selalu berpindah, dari satu gerbang Aqsa ke gerbang lainnya.

Menu makanan yang  disiapkan masih tetap istimewa. Dari Dapur Umum Indonesia untuk Al-Aqsa, tak hanya paket makan nasi biryani dan ayam, tapi juga dilengkapi dengan roti, jus buah, dan air mineral.

Tepat selepas salat Jumat, belasan relawan ACT sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Ribuan paket makan sudah dibungkus rapi, hangat nasi biryani dan ayam tetap dijaga, dibungkus tutup aluminium foil. Tapi untuk membawanya sampai ke Gerbang Bab Alwad, butuh ide yang lebih nekat.

Lalu, bagaimana cara membawa ribuan makanan itu, tanpa memancing perhatian para Polisi Israel? Tidak ada pilihan lain, kecuali menggunakan gerobak sederhana. Dengan gerobak terserbut, ribuan makanan sampai untuk para penjaga Al-Aqsa

Paket-paket makanan siap santap itu akhirnya diangkut menggunakan gerobak-gerobak seadanya, beberapa lagi dipanggul satu persatu. Gerobak menjadi pilihan paling memungkinkan, mengingat jarak dari Dapur Umum Indonesia untuk Al-Aqsa menuju titik distribusi, menempuh rute sejauh 1,5 kilometer.

Meski sudah menggunakan gerobak, tak menjamin perjalanan bolak-balik dari dapur menuju gerbang Alwad berjalan mulus. Sebab, setiap 100 atau 200 meter tim relawan ACT dihadang oleh aparat keamanan Israel.

“Setiap kali memeriksa, mereka pasti akan bertanya ‘Mau kemana? Tak boleh lewat sini!’ dan berbagai pertanyaan dan pernyataan sinis lainnya,” kisah Abu Ali, salah seorang anggota Tim Dapur Al-Aqsa, Aksi Cepat Tanggap.

Ketika distribusi berlangsung pun, belasan aparat keamanan Israel yang berada di sekitar kawasan gerbang Bab Alwad tak henti menatap sinis dan mengawasi setiap gerak-gerik aktivitas Tim ACT. Mereka bertanya hal-hal yang serupa, dan berusaha dengan alasan apapun melarang aktivitas distribusi makanan.

“Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah juga, semua anggota tim mampu menyelesaikan semua distribusi makanan,” ungkap Abu Ali.

Setiap harinya, distribusi makanan dan kudapan dari dapur Indonesia dilakukan di titik-titik berbeda serta pintu-pintu Al-Aqsa lainnya. Ali mengungkapkan, biasanya pembagian makanan di dalam Kompleks Al-Aqsa hanya bisa terjadi di bulan Ramadan. Selain Ramadan, hampir mustahil membawa masuk makanan ke dalam Kompleks Al-Aqsa.

“Hari Kamis kemarin (27/7), kami coba membawa masuk lagi makanan ke dalam (kompleks), tapi dilarang oleh mereka (Israel). Kalau hari sebelumnya, Rabu (26/7), kami bisa masuk mendistribusikan, itu karena ada bentrokan warga dengan keamanan Israel. Jadi kami bisa menyelinap masuk ke dalam, dan membagikannya dengan cepat,” tutur Abu Ali.

Para relawan sedang membagikan makanan kepada para penjaga Al Quds (Almurobit) Foto: Fan Page Bang Onim di Palestina

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nasi biryani lauk ayam, lengkap dengan roti, jus buah, dan air mineral memang sederhana. Tapi untuk para Penjaga Al-Aqsa, makanan yang disajikan dari dapur Indonesia menjadi berkah yang bermakna luar biasa.

“Untuk kedua kalinya, saya katakan kepada ACT, kalian lah yang terbaik berbuat nyata untuk Al-Aqsa dan satu-satunya yang memberi intervensi logistik selengkap dan selama ini,” ungkap Abu Ali.

Terkadang lembaga lain, tambah Ali, hanya memberi sedikit air atau makanan kecil atau justru hanya mengambil foto-foto situasi saja. “Alhamdulillah, sekarang ACT dan bendera merah putih Indonesia sudah cukup familier bagi warga Palestina di Al-Aqsa,” pungkas Abu Ali.

Sumber: ACT.id