buya hamkaNama aslinya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dikenal dengan sebutan Buya Hamka. Sebenarnya, nama kecilnya adalah Abdul Malik, sedangkan Karim adalah nama dari bapaknya Haji Abdul Karim. Adapun Amrullah adalah nama dari Kakeknya Syeh Muhammad Amrullah. Hamka lahir pada tanggal 16 Februari 1908, di Ranah Minangkabau, desa Kampung Molek, Nagari Sungai Batang, di tepian danau Maninjau, Luhak Agam, Sumatera Barat.

Hamka kecil mendapat pendidikan rendah pada usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau selama dua tahun. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Dari situ Hamka kemudian mempelajari ilmu agama dan mendalami bahasa Arab.

Di usia yang menginjak dewasa, Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa. Dalam perjalanan menuntut ilmunya, Hamka juga sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah.

Pada tahun 1927, Hamka berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari Mekkah, dalam suatu rapat adat niniak mamak nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo (salah satu tetua didaerahnya) memaklumkan Hamka dengan gelar Datuk Indomo yang merupakan gelar pusaka turun temurun dalam suku Tanjung. Pada tahun 1950, Hamka kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.

Hamka merupakan tokoh pendidikan Islam yang dimana konsep pemikirannya sangat monumental dan begitu spektakuler di kalangan manapun. Ia juga dikenal sebagai pemuka Islam, pejuang, patriot, wartawan, pengarang, sastrawan dan budayawan.

Bagi Hamka pendidikan adalah sarana untuk mendidik watak pribadi-pribadi. Kelahiran manusia di dunia ini tak hanya untuk mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tapi juga untuk beribadah kepada Allah,  dan berguna bagi sesama serta alam lingkungannya. Oleh karena itu,  bagaimanapun kehebatan sistem pendidikan modern menurut Hamka, tak bisa dilepas begitu saja tanpa diimbangi dengan pendidikan agama.

Hamka adalah salah satu dari pemikir pendidikan yang mendorong pendidikan agama masuk dalam kurikulum sekolah. Bahkan, Hamka lebih maju lagi, ia menyarankan agar ada asrama-asrama yang menampung anak-anak sekolah. Dalam asrama tersebut anak-anak tak hanya mendapat pemondokan dan logistik, tapi juga penuh dengan muatan rohani dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun Ia dibesarkan dengan pendidikan tradisional yang kental akan nuansa adatnya (ketat), tetapi ia juga mampu mengemas pendidikan yang ketat menjadi luwes tanpa menghilangkan ketradisionalannya. Selain itu, pandangan Hamka mengenai tujuan pendidikan yaitu untuk kebahagaian dunia dan akhirat dengan penerapannya yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Hamka meninggal di Jakarta, pada tanggal 24 Juli 1981 di umur 73 tahun. Pemikiranya tentang pendidikan, membuat Hamka diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011.

*) artikel ini disarikan dari berbagai sumber.

Oleh: Tim Peringatan Hari Pendidikan Fabana.id