Seringkali saya memberikan tawaran solusi, yang dapat dipakai mahasiswa  menjadi senjata untuk dapat menyusun rumusan masalah dalam penelitian. Sebenarnya menyusun rumusan masalah itu gampang-gampang susah, karena memang dibutuhkan jam terbang dan wawasan luas dalam menyusun rumusan masalah.

FABANA.id. Suatu kali saya pernah ditanya oleh seorang mahasiswa berkaitan dengan cara membuat rumusan masalah di dalam penelitian, khusunya pada saat seorang mahasiswa menyusun skripsi. Lantas kemudian saya coba bertanya kembali mengenai judul yang akan diangkatnya, sekilas saya membaca antara rumusan masalah yang dibuatnya dengan judul ada ketidaksesuaian atau ada yang timpang.

Ibarat si peneliti ini ingin pergi ke Jakarta namun dia menulisnya ingin pergi ke Semarang. Tentunya jalur serta jarak tempunya menjadi berbeda, sehingga akan mengakibatkan bias terhadap hasil yang akan didapatkanya.

Setidaknya seorang mahasiswa harus tahu ciri-ciri masalah penelitian yang baik diantaranya, Memiliki nilai kebaruan, Jawabannya penting untuk diketahui masyarakat luas, memiliki nilai nilai guna atau manfaat. Keterjangkauan dari sisi perolehan data, biaya, dan waktu, serta yang terpenting yaitu tidak bertentangan dengan norma atau nilai yang ada di tempat penelitian dilakukan.

Seringkali saya memberikan tawaran solusi, yang dapat dipakai mahasiswa  menjadi senjata untuk dapat menyusun rumusan masalah dalam penelitian. Sebenarnya menyusun rumusan masalah itu gampang-gampang susah, karena memang dibutuhkan jam terbang dan wawasan luas dalam menyusun rumusan masalah.

Paling tidak 3 kunci membuat rumusan masalah dibawah ini dapat digunakan sebagai acuan, yakni

1.  Apa yang seharusnya terjadi  dan yang sebenarnya terjadi ?

2. Apa yang diperlukan  dan apa yang tersedia ?

3. Apa yang diharapkan dan apa yang dicapai ?

Jika kita coba membaca beberapa karya ahli metodologi penelitian seperti John W Creswell, di buku tersebut seringkali disinggung bahwa pertanyaan penelitian itu dapat dibagi menjadi 3 komponen utama yang terdiri dari: Pertanyaan Deskriptif. Yaitu, menjelaskan tentang fenomena apa yang terjadi. Kata tanya yang dipakai biasanya menggunakan kata “apa”.

Umumnya pertanyaan ini dipakai pada penelitian kualitatif. Contoh: Apa saja strategi yang dipakai guru PAI untuk meningkatkan prestasi belajar siswa ?

Selanjutnya Pertanyaan Eksploratoris. Yaitu, memahami sebuah fenomena secara menyeluruh dan mendalam., Kata tanya yang dipakai yaitu “Bagaimana”, pertanyaan model seperti ini banyak digunakan pada penelitian kualitatif. Contoh: bagaimana model pembelajaran Guru PAI dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa ?

Dan ketiga adalah Pertanyaan Eksplanatoris. Yaitu, menjelaskan pola-pola apa yang terjadi pada suatu fenomena dengan hubungan korelasional. Lazimnya digunakan pada penelitian kuantitatif karena selalu mengajukan pertanyaan yang bersifat hubungan atau korelasi. Contoh: Bagaimana pengaruh model kepemimpinan kepala sekolah demokratis terhadap kepatuhan staff ?

Dengan mempelajari sekelumit ilmu diatas, diharapkan mahasiswa dapat meminimalisir ketidakjelasan dalam pengajuan pertanyaan sebagai pertanyaan penelitian. Sehingga dapat jauh dari kesan remeh dan tidak menarik, yang mengakibatkan seseorang tidak tertarik membacanya.

Betapapun menariknya tema atau topik yang akan diteliti, tetapi jika pertanyaannya tidak dirumuskan dengan baik, penelitian tersebut tidak menarik minat orang.

Jika ini terjadi, hasil penelitian tidak banyak memberikan nilai guna karena tidak dibaca orang. Padahal, salah satu syarat penelitian yang baik adalah memberikan nilai guna, baik secara teoretik maupun praktis. Karena itu, ia harus jelas, tidak saja bagi peneliti sendiri tetapi juga bagi pembacanya.

 

Foto: Hipwee