Misalnya, di hadapan kita ada buah jeruk dan pisang. Orang pintar cenderung membedakan, ini jeruk ini pisang, karena dari segi warna, bentuk, dan rasa keduanya berbeda. Sedangkan orang bijak akan memandang keduanya adalah sama-sama buah.

FABANA.id. Saya pernah mendengar kata bijak seperti ini: Orang pintar adalah orang yang bisa mengetahui perbedaan dari dua hal, sedangkan orang bijak bisa mengetahui  persamaan dari dua hal. Misalnya, di hadapan kita ada buah jeruk dan pisang. Orang pintar cenderung membedakan, ini jeruk ini pisang, karena dari segi warna, bentuk, dan rasa keduanya berbeda. Sedangkan orang bijak akan memandang keduanya adalah sama-sama buah.

Perbedaan pola pandang ini akan melahirkan sikap yang berbeda pula. Jika hanya sampai pada taraf pintar, maka seseorang akan cenderung mencari perbedaan dalam setiap hal, bahkan hingga yang terkecil sekalipun. Yang sekilas sama, akan dicari-cari bedanya. Bahkan yang persis sekalipun, pokoknya harus beda. Karena berbeda itu penting.

Sedangkan si bijak, ia justru berusaha mencari sekuat tenaga untuk menegaskan kesamaan di antara banyak variabel di dunia ini. Perbedaan baginya bukanlah halangan dan sekat, melainkan proses wajar dalam dinamika kehidupan. Bahkan Tuhan sendiri ikut andil dalam membeda-bedakan. Jadi menurut si bijak, beda adalah biasa. Sedangkan kesamaan lebih utama karena dengan itulah, manusia mampu melihat pola pandang yang lebih luas terhadap apapun.

Lalu, apakah kita harus mencari kesamaan atau perbedaan? Menurut saya, keduanya sama-sama pentingnya, tetapi butuh kejernihan hati dan pikiran untuk memutuskan kapan saat yang tepat menggunakannya. Di suatu saat, kita harus menjadi pintar, di saat yang lain kita harus menjadi bijak. Atau mungkin bisa diungkap seperti ini: kepintaran harus didasari oleh kebijakan.

Sedangkan kebodohan adalah kezaliman. Apa lawan kata dari bijak? Menurut saya adalah zalim. Zalim secara bahasa berarti gelap. Bijak adalah semacam cahaya menerangi. Zalim adalah suatu fase di mana orang tidak lagi berlaku sebagaimana mestinya. Ada keadaan gelap yang dimaknai sebagai ketidakhadiran cahaya.

Adapun sistem pendidikan kita hanya berkutat dari menghasilkan orang pintar. Pelajaran-pelajaran tentang kebijakan hanya sedikit sekali. Akhirnya, hasil pendidikan kita adalah orang yang mencari-cari perbedaan. Coba lihat, dalam lingkup apa saja kita akan mempertentangkan perbedaan. Mulai dari sosial, politik, agama, budaya, dan hukum.

Perbedaan dengan banyak variannya terus dan terus dipelajari dalam kerangka besar: menjadi pintar. Sedangkan kebudayaan tua bangsa ini, yang hampir seluruhnya mengajarkan menjadi bijak, kian terpinggirkan. Budaya tidak lagi dimaknai sebagai warisan dari leluhur, melainkan barang antik yang harus disembunyikan dalam museum sejarah.

Dengan parameter berbeda ini, sesuatu yang kecil akan tampak raksasa. Suatu hal yang sekiranya remeh temeh akan menjadi masalah besar. Bahkan bisa jadi, sesuatu yang seharusnya besar malah tidak terlihat. Padahal yang besar-besar itu justru terlihat jelas bedanya. Namun kadangkala kita gagal menemukan perbedaan di dalamnya. Akhirnya, kaca mata yang digunakan sebagai kambing hitam.

Apalagi di era sekarang, tidak jelas lagi apakah perbedaan yang ditonjolkan dan menjadi masalah adalah sungguh-sungguh seperti itu atau dibuat-buat. Pihak-pihak yang menginginkan adu domba sengaja membuat suatu perbedaan padahal tidak ada yang berbeda. Kamuflase semacam itu sengaja ditonjolkan untuk kepentingan tertentu. Sayangnya, sebagian dari kita mau dan percaya saja.

Adapun orang yang tidak peduli terhadap persamaan dan perbedaan, juga tidak kalah banyaknya. Kelompok seperti ini tidak mau tahu, apa itu pisang, apa itu jeruk. Sekedar mengenali saja tidak. Alhasil, mereka menjadi apatis terhadap segala sesuatu. Kemampuan mengenali mereka menjadi rendah. Cuek, istilahnya.

Dalam dunia demokrasi, ternyata orang-orang seperti ini selalu memenangkan setiap pemilihan. Dalam dunia pendidikan, orang seperti ini akan hilang rasa menganalisa. Dalam sektor ekonomi, merekalah konsumen terbesar. Pada hakikatnya, manusia jenis ini selalu ada pada setiap zaman dan peradaban.

Lantas, bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan dan persamaan? Tidak peduli ternyata bukan pilihan yang bagus. Menjadi pintar atau bijak, juga perlu usaha kuat untuk menempatkan pada tempatnya. Sedangkan di era informasi, yang sebagian orang menjuluki dengan era infobesitas karena saking kegemukan informasi, beda dan sama dapat dimanipulasi oleh sebagian pihak.

Yang jelas, bagi saya, pisang dan jeruk memiliki fungsi-fungsi tertentu. Tidak penting menjadi bijak dan pintar kalau pisang dan jeruk tidak memberi manfaat. Mbok ya sekali-kali saya diberi pisang satu tandan dan jeruk 2 kilo. Itu sudah cukup membahagiakan saya.

Foto: Bugarft