Berdirinya Pondok Modern Tazakka yang dibawah naungan Yayasan Tazakka, sangat berkaitan erat dengan sososk Anta Masyhadi. Pandangan hidup dan visinya sejak muda sudah melangkah jauh ke depan. Saat itu, tahun 1991 gagasannya tentang pendirian sebuah pondok modern di wilayah Batang hanya dianggap pepesan kosong belaka.

Namun, mimpi tersebut dapat diwujudkan bersama ketiga anaknya, Anang Rikza Masyhadi, Anizar Masyhadi dan Anisia Kumala Masyhadi. Di usianya yang baru menginjak usia 4 tahun sejak dirintis pada 2013 lalu. Kiprah Tazakka sudah menembus batas regional bahkan mancanegara.

Kehadiran Tazakka bagai mercusuar di regional Asia bahkan dunia. Berikut ulasan Fabana.id mengenai sosok penggagas Tazakka yang dikutip dari laman resmi Tazakka

 

Apa latar belakang pendirian Tazakka?

Hidup itu harus memiliki cita-cita, arah dan tujuan. Awalnya saya mengamati tentang kelangkaan sosok ulama kharismatik yang bisa menjadi panutan masyarakat, khusus-nya di Bandar dan sekitarnya, itulah yang mendorong sekaligus menggugah semangat saya untuk merintis yayasan dan lembaga pendidikan.

Saya juga ingin mengubah pandangan hidup dan pola pikir masyarakat yang masih jumud, dengan sistem kaderisasi sejak dini dengan menyekolahkan kader-kader ke lembaga pendidikan yang bermutu, jadi saya ingin kader-kader muda itu punya SDM yang mumpuni, berpengetahuan luas serta berakhlak karimah.

 

Bagaimana suka duka pendirian Tazakka?

Wuah lebih banyak dukanya, susah dan sulit dibandingkan dengan suka dan senang, dan itu berlangsung selama hampir 20 tahun, namun begitu sekarang melihat pondok sudah berdiri dan masyarakat merespon positif seolah duka selama 20 tahun itu ya hilang.

Setiap melihat santri yang ramai-ramai ke masjid, membaca Al-Quran, tahfidz, lalu melihat lagi mereka latihan pidato pake  bahasa Arab dan Inggris, lalu lihat lagi mereka lagi olah raga, semua pemandangan itumenghibur dan membesarkan hati saya dan keluarga. Ya Allah, alhamdulillah, Engkau telah ijabahi cita-cita kami ini.

Memang, ujian terberat bagi saya adalah memahamkan visi dan misi Tazakka kepada umat, karena beberapa diantaranya masih belum paham, apalagi yang salah paham, itu betul-betul menguras energi. Tapi, ya tidak apa-apa, itulah ujian hidup, dan kita di Tazakka maju terus, fokus pada misi dan target.

Anak saya, Anang. Selalu mengingatkan saya bahwa waktu dan pikiran kita jangan terbuang untuk mengurusi dan membicarakan aib orang lain, apalagi membalas serangan orang, lha wong memikirkan bagaimana kita merumuskan langkah-langkah untuk maju saja sudah menguras banyak energi. Itu mubadzir pikiran, mubadzir hati, mubadzir waktu dan mubadzir potensi, kata Anang begitu. Saya pikir masuk akal juga, maka sejak itu kami fokus dan totalitas berpikir, memikirkan dan menggerakkan kemajuan untuk Tazakka ini.

 

Mengapa semua anak Anda disekolahkan di Pesantren?

Saya punya prinsip bahwa pendidikan anak-anak itu dasar-nya harus kuat, terutama dasar agama dan karakter. Masalah nanti anak-anak mau mengambil fakultas apa, atau mau jadi apa, bagi saya itu tidak penting, tetapi yang selalu saya tekankan adalah jadilah orang yang berguna.

Maka, saya ma­sukkan semua ke pesantren, dan terus terang saya mempercayakannya ke Pondok Modern Gontor. Awalnya, terus terang, saya tarik menarik dengan isteri saya, ibunya anak-anak itu, karena dia tidak tega melepas anaknya jauh, Batang-Ponorogo jauh sekali itu, apalagi tiga-tiganya pergi semua, jadi di rumah kosong. Tetapi, setelah diskusi dan pemahaman yang terus menerus akhirnya isteri saya malah mendukung, dan dia waktu itu bolak-balik Batang-Ponorogo sebulan bisa dua tiga kali, apalagi kalau anak-anak rewel minta dijenguk, tapi ya kita telateni saja, namanya juga anak-anak.

Memang anak-anak sudah mulai saya arahkan sejak mereka di SD dan SMP, jadi mereka tidak kaget, alhamdulillah selesai semua dan betah. Kalau ke luar negeri, ke Al-Azhar Kairo, itu saya cuma mendorong saja, kan anak-anak setelah mendapat pendidikan di Gontor wawasannya menjadi internasional, nah mungkin dia menemukan Kairo, dan lain-lain, atau bahkan Amerika dan Eropa, ya kita dorong saja. Lha kok, alhamdulillah semuanya dapat beasiswa, kalau itu saya ga tahu ya, semata-mata ya rezeki dari Allah. Eh, menantu pertama ahli pendidikan master lulusan UGM, menantu kedua dokter, dan menantu ketiga kok kebetulan alumni Amerika, jadi lengkaplah, ada lulusan Timur dan Barat, hahahaha…

Tetapi begini ya, yang lebih penting itu, kepada mereka saya selalu tekankan, dimana pun kamu berada dan berkiprah, jangan lupakan daerahmu, tanah kelahiranmu. Itu saya ucapkan terus kepada anak-anak, bahkan ketika mereka di Kairo pun saya selalu ingatkan itu. Saya mau agar anak-anak itu tidak elitis, tidak menjadi seperti kacang lupa kulitnya.

 Apa Visi Tazakka?

Sesuai khittah saja, bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Itu juga yang merancang dan merumuskan anak-anak setelah mereka kembali dari Kairo. Dulu, anak-anak saya itu ya murid saya, sekarang ini malah saya yang banyak belajar sama mereka. Apalagi sekarang di Tazakka ini banyak orang-orang hebat yang bergabung, dan mereka orang-orang yang mukhlis dalam berjuang di Tazakka untuk umat ini, saya  kadang merenung, inilah salah satu rahmat Allah, yaitu me-ngirimkan orang-orang baik, berkualitas, dan kuat untuk bergabung di Tazakka ini.

Kalau sesuai dengan cita-cita di piagam wakaf yayasan, ke depan ya kami akan bangun sebuah perguruan tinggi yang bermutu dan bertaraf internasional, tetapi modelnya pesantren. Kemudian dari segi dakwah bisa mencakup semua kalangan umat, dan dari segi sosial kami bisa menjadi solusi bagi problematika umat, minimal meringankan beban umat. Itu saja. Mungkin masih jauh ya perjalanannya, tetapi kita mesti berani bermimpi dong, tentu sambil berdoa dan bermunajat agar tercapai. Ya, doakan sajalah.

Dulu, membangun pesantren seperti ini juga diawali dari mimpi kan, tapi mimpi itu diucapkan terus, dan didoakan terus, alhamdulillah sekarang terwujud juga. Tahun 1991 saya mulai menggagas berdirinya pondok modern di Bandar ini, tetapi malah diketawain orang, karena memang bayangannya ya tidak mungkin terjadi. Saya tidak patah semangat, saya justru mengirim anak-anak saya ke Gontor, lalu saya promosi Gontor kemana-mana, dan akhirnya banyak juga yang mengikuti langkah saya ini. Nah, para kader yang kita kirim ke Gontor itulah yang sekarang ini mengelola Pondok Modern Tazakka, memang harus sabar.

 

Apa harapan Untuk Tazakka di masa depan?

Tazakka harus seperti Gontor, bahkan kalau bisa lebih dari itu, yaitu mendunia. Kita dakwahi dunia, begitulah istilah nya.  Dan saya berharap Tazakka nanti memiliki jaringan yang luas di dalam maupun luar negeri. Untuk Pondok, saya ingin seperti Gontor dengan Panca Jiwanya, yaitu Kemandirian.

Jadi, Pondok harus punya amal-amal usaha yang nantinya bisa menghidupi dirinya sendiri, jadi tidak mengandalkan santri, kalau perlu santri disubsidi biaya pendidikannya dari amal usaha tadi. Yang terakhir, saya berpesan agar Tazakka ini tetap istiqomah sebagai Perekat Umat, menjadi pemersatu umat dan menjadi penggerak umat.