FABANA.id. Sejak dinyatakan memiliki keterbatasan pendengaran di usia 10 tahun, wanita cantik kelahiran 5 Juni 1987 ini tidak patah semangat untuk membuktikan pada dunia bahwa tuna rungupun bisa berkarya.

Melalui Thisable Enterprise yang didirikannya, Angkie Yudistia berharap agar teman-teman penyandang disabilitas dapat diberdayakan, serta dapat menginspirasi masyarakat Indonesia.

‘Ketika gadis cantik di vonis tuli’ merupakan satu dari sekian artikel yang pernah dimuat di media, di tahun 2011 finalis abang none ini berhasil menelurkan sebuah buku dengan judul “Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas.”

Tak hanya itu, kecintaannya pada dunia komunikasi, mengantarkan pada sebuah ide untuk membangun Thisable Enterprise bersama timnya. Bagaimana kisah perjalanannya, yuk kita simak bareng.

Hi Angkie, apa kabar? Bisa ceritakan singkat riwayat hidup kamu?

Kabarku baik. Aku terlahir normal tanpa keterbatasan fisik apapun, aku anak ke dua dari dua bersaudara, aku bersekolah di sekolah umum sampai jenjang perguruan tinggi.

Bisa kamu ceritakaan latar belakang keluarga kamu?

Ayahku seorang pegawai BUMN, kalo ibu sebagai ibu rumah tangga, kakak saya laki-laki, sudah menikah dan memiliki dua orang anak, dan bekerja di perusahaan swasta.

Kalau kamu, sudah menikah atau masih single?

Ya, aku masih berstatus single alias belum menikah, kalau ditanya kapan akan menikah, aku juga masih menanyakan hal tersebut, dan masih menunggu jawaban Yang Maha Kuasa.hee.:)

Bica diceritakan, sejak kapan kamu mengalami disabilitas pendengaran? Dan apa respon masyarakat saat itu?

Aku mengalami penurunan pendengaran sejak usia 10 tahun. Ya responnya bermacam-macam mulai dari yang mengejek hingga memberikan support yang luar biasa.

Bagaimana dengan saat ini? Apa respon mereka?

Masih tetap sama, bermacam-macam.

Apa yang melatarbelakangi kamu membentuk Thisable Enterprise ini?

Aku jatuh cinta dengan dunia komunikasi saat kuliah S1 di the London School of Public Relation Jakarta, kemudian aku meneruskan S2 di tempat yang sama dengan konsentrasi jurusan Marketing Communication. Selama 5 tahun aku berhasil lulus S1 & S2. Aku bertekad untuk melanjutkan karir di dunia komunikasi.

Jatuh bangun menggapai mimpi sebagai seorang wanita karir tidak membuatku menyerah, mulai dari diskriminasi sampai di PHK pernah aku alami. Hingga pada akhirnya di tahun 2011 aku dipertemukan oleh dosen dengan seorang partner untuk do something better sebagai wadah aku berinovasi dengan dunia komunikasi. Bekerja memang passionku, tapi sosial adalah jiwaku.

Yang artinya aku bekerja karena panggilan jiwa. Dan pada akhirnya aku mempelajari strategi social marketing communication. Menyenangkan sekali beraktifitas di dunia social marketing communication ini, apa yang dilakukan dan yang dihasilkan memang diperlukan oleh masyarakat.

Berapa banyak anggota yang bergabung dalam Thisable Enterprise?

Thisable Enterprise bukan sebuah komunitas, melainkan social bussines. Sejauh ini team kami berjumlah 6 orang namun kami bekerja sama dengan banyak pihak dalam melaksanakan program-program kami.

Apa yang kamu fokuskan dengan Thisable Enterprise?

Thisable Enterprise adalah social business for society profit yang memiliki misi untuk enabling teman-teman difabel dan menginspirasi masyarakat indonesia dengan membuat: CSR Program & Funding, program entrepreneurship dan career development serta social marketing communication integrated.

Apa yang kamu targetkan dengan hadirnya Thisable Enterprise?

Tercipta suasana inklusif antara difabel dengan non difabel di tengah lingkungan masyarakat Indonesia dan teman-teman difabel muncul menjadi bagian masyarakat dan saling bersinergi dan terintegrasi.

Bagaimana cara kamu memperkenalkan Thisable Enterprise kepada dunia?

Dengan merencanakan program dan melakukan aktifitas-aktifitas yang selaras dengan program yang kami buat, bekerja sama dengan berbagai pihak secara global.

Bisa diceritakan jatuh bangun kamu membangun Thisable Enterprise?

Isu disabilitas merupakan isu yang baru berkembang di masyarakat Indonesia, konvensi Internasional tentang disabilitas juga baru di resmikan oleh Indonesia pada tahun 2011. Maka upaya yang dilakukan oleh Thisable Enterprise untuk mendapatkan perhatian mengenai isu disabilitas di Indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah.

Apa saja profit yang kamu dapatkan melalui Thisable Enterprise?

Yang paling utama adalah, aku merasa sudah berjalan ke arah mimpi dan cita-citaku, its an immaterial profit, and priceless.

Sudah berapa buku yang kamu tulis? Apa saja judulnya?

Sejauh ini baru 1 buku, judulnya “Perempuan Tunarungu Menembus Batas” dan sekarang sedang proses untuk buku ke-2, doakan ya J

Bagaimana respon masyarakat terhadap buku kamu?

Sejauh ini aku mendapat respon yang sangat positif, informasi terakhir yang aku dapatkan dari pihak publisher adalah, masih banyak permintaan buku dari beberapa pihak di luar Jakarta. Buatku artinya, pesan yang ingin ku sampaikan bisa sampai di daerah-daerah yang mungkin belum sempat aku kunjungi, dan juga respon positif masih terus mengalir.

Bagaimana perasaan kamu setelah berhasil menciptakan banyak karya?

Semakin ingin membuat karya nyata yang lebih baik lagi.

Apa pesan dan harapan kamu untuk generasi muda Indonesia?

“life is short! So live your dream and share your passion!”